
Mau tidak mau si manager hotel pun menuruti perintah Rihanna. Tanpa membuang waktu dia segera membuka pintu kamar hotel yang menjadi tempat persembunyian Grasiella. Begitu pintu terbuka, Rihanna langsung masuk tanpa permisi.
Grasiella yang sedang menyantap makanan terkejut dengan kedatangan rekan kejahatannya itu. Dia menghentikan kegiatannya lalu meraih tongkat yang menjadi alat bantunya untuk berjalan.
"Mau kemana?" tanya Rihanna dengan tatapan tajam.
"Kau … mau apa kemari?" tanya balik Grasiella.
"Kau lupa dengan perjanjian kita?" tanya Rihanna seraya mendaratkan b*kongnya di kursi yang berhadapan dengan Grasiella.
Wajah Grasiella semakin terlihat panik setelah mendengar Rihanna mengungkit tentang perjanjian mereka.
"Tampaknya kau sudah lupa," ujar Rihanna meremehkan.
"Aku tidak lupa, tetapi apa kau sama sekali tidak peduli dengan scandal yang menyeret ku. Aku bahkan tidak berani pulang ke rumah karena hal itu."
"Itu bukan urusanku. Itu terjadi karena kebodohanmu sendiri! Seharusnya masalah itu bisa kau manfaatkan jika kau merasa dirimu itu pintar."
"Maksudmu gimana?" tanya Grasiella dengan mata memicing.
"Ternyata aku memang bekerja sama dengan orang bodoh." Rihanna mencibir.
Grasiella menatap sinis Rihanna. Dia tidak terima karena dihina oleh seseorang yang awalnya menawarkan bantuan padanya.
"Jika kau datang hanya untuk memaki, lebih baik pergi sana!" bentak Grasiella tidak terima.
Kedua mata Rihanna membulat sempurna saat Grasiella berani mengusirnya. "Siapa kau sampai berani mengusirku? Jika bukan karena black card yang aku berikan, kau mau bersembunyi di mana? Kolong jembatan?"
Grasiella langsung bungkam saat RT Rihanna membahas tentang kartu tanpa limit yang diberikan oleh perempuan sebayanya itu. Dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau memang berkat pemberian perempuan yang begitu membenci Adeline tersebut.
"Sekarang, pulang ke rumahmu. Bilang pada keluargamu jika Vidio itu merupakan ulah kakak angkatmu itu. Aku akan membantu mentake down kasus ini dari media," ujar Rihanna memerintah.
Meski ragu-ragu, Grasiella akhirnya menurut. Wanita yang sedang terlibat scandal dengan beberapa pria sekaligus itu keluar dari persembunyiannya. Dengan memakai pakaian serba hitam, serta topi dan masker yang berguna untuk menyembunyikan identitasnya dari para wartawan yang berusaha mengulik masalahnya.
Jika Grasiella sekarang sedang menuju kediamannya. Berbeda dengan Rihanna yang kini pergi ke sebuah stasiun televisi untuk mengurus scandal yang melibatkan Grasiella.
__ADS_1
Perempuan muda itu berjalan dengan langkah anggun. Beberapa karyawan di gedung bertingkat itu mengenali wajah cantik itu adalah putri tunggal salah seorang penguasa di negara itu.
Dia disambut dengan baik oleh semua staff disana. Hingga dia bertemu dengan petinggi yang bertanggung jawab atas segala yang menyangkut tentang stasiun televisi tersebut.
"Langsung saja, aku tidak suka membuang waktu di tempat seperti ini." Rihanna dengan angkuh bersikap seolah-olah pria yang ada di hadapannya ini merupakan bawahnya.
"Ada apa, Nona?" tanya si petinggi itu yang sebenarnya sangat tidak suka dengan sikap congkak perempuan di hadapannya.
"Aku perintahkan kepada kalian untuk men-take down Scandal yang melibatkan putri seorang pengusaha bernama Antonio Abraham!"
"Maaf, Nona. Tapi kami tidak bisa menuruti perintah anda." Petinggi perusahaan itu menolak dengan tegas.
"Kau berani menolakku? Kau belum tahu siapa aku?" tanya Rihanna dengan ekspresi datar.
"Saya tahu siapa anda, Nona. Tetapi saya lebih tidak berani menolak perintah ayah anda."
"Maksudmu Scandal yang menjerat Grasiella adalah ulah papaku?" tanya Rihanna menebak.
"Betul, Nona. Tuan Rocky memerintah kami untuk terus menaikkan permasalahan ini."
Rihanna kembali dengan tangan kosong dan hasil yang gagal. Sudah beberapa stasiun tv yang dia datangi. Namun, hasilnya tetap sama. Semua itu adalah perintah langsung dari sang ayah yang tidak mungkin ada satu orangpun yang berani untuk melawan.
Perempuan muda itupun memutuskan untuk kembali ke mansion untuk menemui sang ayah. Dia harus merayu ayahnya agar kembali memihak kepadanya.
Rihanna langsung masuk ke ruang kerja Rocky setelah mengetahui keberadaan ayahnya itu dari seorang maid di mansion. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Rihanna masuk ke dalam. Di lihatnya, sang ayah tengah memegang botol minuman keras.
"Papa!"
Botol di genggaman Rocky terlepas hingga jatuh ke lantai dan pecah saat pria itu terkejut dengan kedatangan putrinya. Wajahnya memerah saat melihat kekurang ajaran sang putri.
Meskipun sedang meminum alkohol, nyatanya Rocky memiliki toleran terhadap minuman memabukkan tersebut. Dia masih sangat sadar meski sudah ada tiga botol kosong di meja. Itu artinya dia sudah mengonsumsi 4 botol minuman keras.
"Mau apa kau kemari?" tanya Rocky penuh amarah.
"Untuk apa papa ikut campur urusan wanita itu, Pa? Kenapa papa tidak membela Rihanna, sih?" tanya balik Rihanna yang merasa ayahnya sangat jahat kepadanya.
__ADS_1
Rocky langsung berdiri saat Rihanna benar-benar membahas mengenai Adeline. "Kau jangan pernah berani mengusik wanita itu, Rihanna. Papa tidak akan memaafkan kamu jika kamu menyakiti hati mamamu!" bentak Rocky mengancam.
"Oh, jadi papa lebih memilih wanita itu dari pada anak papa sendiri, Ha!" bentak Rihanna dengan berani.
Tanpa disadari oleh Rocky, tangan kanannya melayang ke udara lalu mendarat dengan keras di pipi Rihanna. Rocky menampar sang putri yang berani membentaknya dengan keras. Dia sangat tidak suka dengan seorang pembangkang yang berani melawan semua perintahnya.
"Papa, papa tampar Rihanna."
"Papa bahkan akan mengurungmu di rumah sakit jiwa jika kau masih berani mengusik ketenangan mama dan kakakmu itu."
Rihanna yang tidak menyangka akan mendapatkan tamparan serta ancaman dari sang ayah memutuskan keluar dari ruangan itu. Dia bertekad akan menghancurkan Adeline sampai menjadi debu tanpa bantuan sang ayah.
"Lihat saja, wanita itu akan mendapatkan hadiah dariku meski tanpa bantuanmu, Pa!"
Di sisi lain, Grasiella baru saja sampai di kediamannya. Dia masuk dengan langkah perlahan. Berharap tidak ada satupun orang yang melihat kedatangannya.
"Ella," suara seorang wanita memanggilnya.
Dengan takut-takut Grasiella menoleh, sang ibu sedang menatapnya dengan ekspresi wajah datar. Wanita itu sama sekali tidak bisa menebak bahwa ibunya akan memarahinya atau tidak.
Monica berjalan mendekat, membuat Grasiella sedikit ketakutan. Dia menyangka sang ibu akan memarahinya dan bahkan memukulnya. Namun, yang terjadi adalah wanita itu justru memeluknya dengan sangat erat.
"Akhirnya kamu pulang, Sayang," ujar Monica disela-sela pelukannya.
Grasiella mematung, membiarkan Monica memeluknya tanpa membalas ataupun menolak. Dia masih bingung karena sang ibu seperti tidak memiliki emosi amarah terhadapnya.
"Mama tahu, Sayang. Scandal yang sedang menyeret kamu ini adalah ulah Richard. Pria itu sudah tega mengkhianati kamu dengan wanita lain," lanjut Monica seraya mengelus punggung Grasiella.
Dari ucapan Monica ini, Grasiella justru mendapatkan ide untuk skenario selanjutnya. Dia akan mengorbankan suami be*ngseknya itu untuk menjadi pancingan agar dia bisa menumbalkan Adeline.
"Kak Richard melakukan ini semua karena Kak Elin, Ma. Dia adalah dalang dari semua kejadian yang menimpaku," ucap Grasiella berakting seolah-olah dia adalah korban.
"Apa maksud kamu, Ella? Kamu masih belum kapok mengkambinghitamkan kakakmu sendiri atas segala keburukan yang kamu lakukan!"
Kedua wanita yang sedang berpelukan itu melepaskan pelukannya. Mereka menoleh ke arah pintu. Antonio berdiri dengan tatapan horor ke arah mereka.
__ADS_1
"Papa, papa tidak percaya kalau anak pungut itu adalah dalang kejahatan yang …."
"Cukup! Jangan pernah menghinanya dengan sebutan anak pungut! Dia adalah putriku. Dia putri pertamaku yang selama ini tulus mencintaiku." Antonio berjalan mendekat ke arah kedua wanita yang sedang menyalahkan Adeline atas karma buruk yang menimpa mereka.