Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Penyerangan


__ADS_3

Keesokan paginya, Rihanna datang ke rumah kakeknya. Perempuan itu menggunakan pakaian serba hitam sebagai lambang duka cita. Dia memasang wajah sedih serta terpukul saat banyak mantan rekan bisnis sang kakek ataupun kerabat jauh datang untuk sekedar mengucapkan belasungkawa ataupun mengantarkan pria yang sudah tidak bernyawa itu ke tempat peristirahatan terakhir. 


Seorang wanita mengusap punggung Rihanna. "Sabar, yah! Tante tahu ini berat. Tapi mungkin sudah takdirnya kakek kamu untuk pergi. Kamu harus kuat, apa lagi mama kamu sedang di rumah sakit," ujarnya dengan lembut, mencoba menenangkan Rihanna yang meneteskan air mata. 


Rihanna mengangguk lalu menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Khusus untuk hari ini, perempuan itu tidak berdandan full seperti biasanya. Sengaja ingin menarik simpati dari para pelayat yang datang. 


"Rihanna enggak nyangka, kakek akan pergi secepat ini, Tante. Bagaimana nanti aku menjelaskan pada mama?" tanyanya kepada Silvia. 


Ya, Silvia langsung datang ke rumah orang tua sahabatnya saat mendengar kabar kematian Arnold. Dia membantu segala persiapan untuk mengebumikan jenazah ayah Nabila. 


Silvia sebenarnya merasa heran karena Arnold terbunuh di rumahnya sendiri tanpa ada satupun orang yang mengetahuinya. Dia juga merasa heran karena rumah yang dulu memiliki kamera pengintai di setiap sudut itu, kini justru tidak tersisa satupun.


Lebih parahnya, petugas keamanan juga dengan mudahnya menutup kasus itu tanpa alasan yang jelas. Namun, Silvia belum mau membahas tentang hal itu kepada siapapun. Dia memutuskan untuk menyimpan rasa penasarannya sampai nanti dia bertemu sang suami. 


"Tante akan bantu jelaskan pada mama kamu saat dia sadar nanti, doakan saja agar mama segera sadar, Sayang." Silvia mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang. "Papa kamu kemana? Kenapa Tante sama sekali tidak melihatnya?" tanya Silvia. 


"Papa memiliki urusan di luar negeri, Tante. Sejak dua hari yang lalu, dia belum kembali," bohong Rihanna untuk menutupi kebenaran. 


Silvia menggeleng dengan ekspresi wajah kesal. Pria yang menjadi suami sahabatnya itu sama sekali tidak memiliki sisi kemanusiaan ataupun kepedulian terhadap keluarga. Terbukti Nabila yang terbaring lemah di ruang Observasi pun sama sekali belum pernah di jenguk olehnya. 


"Cinta katanya? Cinta macam apa yang membiarkan istrinya koma tanpa di dampingi sama sekali?" cibir Silvia yang tentu hanya dalam hati saja. 


Pemakaman Arnold selesai menjelang sore hari. Adeline awalnya juga menginginkan untuk hadir, akan tetapi Danendra dengan tegas melarang. Laki-laki itu mencurigai adanya konspirasi atas kematian Arnold. 


Sejak kehamilannya itu, Adeline memang hanya diizinkan menghabiskan waktu di rumah saja. Wanita hamil itu hanya diperbolehkan keluar dengan alasan yang jelas dan tentu saja pengawalan yang sangat ketat. Bahkan Danendra dan Alefosio tidak segan untuk turun tangan mendampingi wanita hamil tersebut. 


"Nendra, kasihan sekali Aunty Nabila. Dia sedang koma, dan justru kehilangan ayahnya sendiri," ujar Adeline yang bersandar di dada bidang suaminya. 


Mereka sedang menikmati waktu bersama di kamar. Bukan untuk bercinta, hanya sekedar bercerita tentang keseharian masing-masing. 

__ADS_1


"Apa boleh buat, Sayang? Sudah takdirnya seperti itu. Kamu jangan ikut terbebani dengan masalah hidup Aunty Nabila. Ingat, anak kita lebih penting," jawab Danendra yang sengaja masih menutupi kebenaran status sang istri. 


Laki-laki itu membelai lembut rambut istrinya, sesekali melabuhkan kecupan di surai hitam yang begitu wangi itu. Sungguh, rasa penat Danendra seketika hilang jika sudah melakukan hal tersebut. 


"Tapi, Nendra, aku dengar ayah Aunty Nabila meninggal dengan … maaf, tidak wajar," ujar Adeline seraya mendongak, menatap wajah tampan suaminya. 


"Kakek Arnold itu dulu juga berkecimpung di dunia gelap, Sayang. Tidak perlu heran jika ada salah satu musuhnya yang berhasil merenggut nyawanya," jelas Danendra singkat. 


Raut wajah Adeline seketika berubah datar. Mengingat nasibnya kini tidak jauh berbeda. Ada banyak orang yang mengincar keselamatannya hanya karena dia merupakan istri dari seorang Danendra Alefosio, seorang pengusaha hebat di negara itu. 


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba diam?" tanya Danendra sambil mencolek hidup mancung istrinya. 


"Apakah aku juga akan bernasib sama, Nendra?" tanya Adeline lirih. 


"Selama aku dan papa masih hidup, kami tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu. Lagi pula, jika suatu saat nanti aku sudah tiada, akan ada Nendra junior yang menjagamu," jawab Danendra dengan serius. 


Adeline semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang suami. Wanita itu kini mulai bimbang, di sisi lain dia merasa beruntung karena memiliki suami yang begitu mencintainya, akan tetapi di sisi lain dia juga kehilangan kehidupan normal yang dulu dia jalani. 


"Jujur tentang apa, Sayang?" tanyanya dengan kedua alis bertaut. 


"Aku rindu pada papa," ungkapnya dengan jujur, meski perlakuan sang ayah selalu buruk padanya, nyatanya Adeline masih tetap mencintai pria paruh baya itu. 


"Kamu mau ketemu mereka? Biar ku panggilkan mereka ke sini," jawab Danendra dengan cepat dan lugas. 


"Kenapa tidak kita saja yang ke sana?" tanya Adeline heran. 


Laki-laki yang sedang di dekap oleh Adeline itu membuang muka ke arah samping. "Aku tidak suka kalau kamu bertemu dengan mantan kekasihmu itu," lirih Danendra. 


Adeline seketika mengubah posisinya, wanita hamil itu duduk bersila berhadapan dengan sang suami. "Kamu cemburu? Pada pria jadi-jadian itu?" tanya Adeline dengan ekspresi tidak percaya. 

__ADS_1


Danendra menoleh ke arah sang istri yang menghadap ke arahnya. "Jadi-jadian seperti itu pun kamu pernah mencintainya selama sepuluh tahun." 


Adeline terdiam dengan bibir mencebik. "Kau tahu manusia bisa khilaf? Anggap saja saat itu aku sedang terkena peletnya," ujar Adeline tidak mau kalah. 


"Ya-ya-ya! Nyonya muda, anda tidak pernah mau kalah pada suamimu yang masih kecil ini," sindir Danendra sedikit menggoda sang istri. 


Raut wajah Adeline terlihat semakin kesal dengan godaan sang suami. "Pokoknya aku mau datang ke rumah papa," tekan Adeline tanpa mau di bantah. 


"Kau ini keras kepala sekali, ya sudah. Sana ganti baju!" 


Mereka pun kini dalam perjalanan menuju kediaman Antonio. Tentunya dengan pengawalan ketat. 10 bodyguard siap mengawal sang tuan muda dan nyonya mudanya. Mobil beriring-iringan melintasi jalan. 


Awalnya tidak ada yang aneh, hingga setibanya di jalanan yang cukup sepi tiba-tiba ada mobil yang melintang di jalan. Akibat mobil itu, semua kendaraan yang di tumpangi Adeline, Danendra beserta semua bodyguardnya terpaksa berhenti. 


"Periksa, dan pastikan keamanan tuan muda dan nyonya muda di belakang!" perintah si ketua bodyguard kepada salah satu bawahannya. 


"Baik!" serunya tanpa bantahan. 


Si bodyguard itu pun keluar dari mobil, dengan langkah waspada dia berjalan mendekati sebuah mobil yang melintang di tengah jalan tersebut. Saat sudah sangat dekat, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang menggema dari arah hutan di samping jalan raya yang sepi itu. 


Semua bodyguard langsung keluar dari mobilnya masing-masing. Hanya penumpang di dua mobil yang tetap bertahan di dalam. Mobil itu berisikan sang tuan dan nyonya muda Alefosio. 


Adeline ketakutan dan memeluk Danendra dengan erat. Laki-laki itu pun menutup kedua telinga sang istri agar tidak mendengar suara baku tembak yang sedang terjadi di luar.


"Nendra, aku takut!"


"Tenanglah, Sayang. Kita pasti akan selamat," ujar Danendra mencoba menenangkan sang istri.


Gerry menoleh ke belakang, melihat ketakutan si nyonya muda membuat dia memutuskan untuk memundurkan mobil yang dia kendarai. 

__ADS_1


"Kawal mobilku dan pastikan tidak akan ada yang dapat mencelakai tuan dan nyonya muda. Biarkan yang lain yang mengurus penyerangan ini!" perintah Gerry melalui earphone yang tersambung kepada setiap bodyguard yang mengawal Danendra dan Adeline. 


__ADS_2