Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Menantang


__ADS_3

Nabila menghampiri sang besan yang juga merangkap bagian sahabatnya itu yang sudah menunggunya di ruang santai. Kedua wanita paruh baya itu sudah memiliki agenda untuk mengunjungi makam ayah dari Nabila. 


"Sil, ayo berangkat," ajak Nabila yang sudah rapi. 


"Okey, tapi tunggu bentar. Aku mau kabarin suamiku dulu," ujarnya yang langsung mengetikkan pesan yang ditujukan kepada Alefosio. 


"Ya udah, aku tunggu di depan, yah!" seru Nabila mengayunkan kakinya keluar mansion. 


Wanita beranak dua itu menunggu sang sahabat di dalam mobil yang sudah disiapkan para pengawal. Demi keamanan mereka juga mendapatkan pengawalan khusus agar tidak ada satupun orang yang menjalari mereka. 


"Yuk, berangkat." Silvia duduk di kursi kosong disamping sang sahabat. 


Setelah kedua wanita paruh baya itu sudah masuk, sang supir segera mengendarai mobil mewah itu menuju pemakaman. Iring-iringan mobil yang mengawal nyonya besar Alefosio berjalan tanpa hambatan. 


Setelah beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di pemakaman. Keduanya turun setelah para pengawal siap siaga dan membukakan pintu mobil. 


"Kamu tahu posisi makam Daddy, 'kan?" tanya Nabila kepada sang sahabat. 


Kali ini memang pertama kalinya dia mengunjungi makam ayahnya itu setelah berbulan-bulan lalu sang ayah berpulang. Dia juga belum mengetahui dengan jelas penyebab kem*tian cinta pertamanya itu. Yang dia tahu hanyalah ayahnya ditemukan sudah dalam keadaan bersimbah darah. 


"Tahu lah, aku kan ikut saat pemakaman Daddy," jawab Nabila dengan yakin. 


"Baguslah. Aku benar-benar rindu pada Daddy, Sil. Rasanya masih tidak percaya karena dia sudah pergi meninggalkan aku. Belum lagi permintaan terakhirnya belum sempat terpenuhi," jelas Nabila dengan ekspresi pilu.


"Sudahlah. Jangan di bahas lagi. Daddy sudah tenang dialam sana," timpal Silvia menenangkan. 


Mereka berjalan menuju salah satu sudut pemakaman. Namun, langkah keduanya terhenti saat Silvia tiba-tiba menahan tangan Nabila agar wanita itu tidak melanjutkan langkah kakinya. 


"Ke-," 


"Jangan berisik. Itu suamimu," bisik Silvia dengan suara sangat lirih. 


Nabila menajamkan penglihatannya. Meski dari belakang punggungnya saja, dia memang yakin bahwa laki-laki yang sedang berjongkok di depan makam sang ayah adalah Rocky, suaminya. 


"Kak Arnold. Maaf, maafkan semua kesalahan yang aku lakukan padamu. Aku benar-benar kalap saat itu. Aku tidak berpikir jernih sampai tega melenyapkan kamu."


Kedua mata Nabila membulat sempurna saat mendengar dengan jelas ucapan Rocky. Ketika dia berniat menghampiri suaminya itu, Silvia dengan cepat kembali menarik tangannya. 

__ADS_1


"Kita dengarkan dulu. Jangan gegabah!" serunya memperingatkan. 


"Aku menyesali perbuatanku setelah tahu ternyata selama ini aku sudah salah paham. Nabila tidak pernah menyerahkan kesuciannya pada laki-laki lain. Dia diperk*sa oleh laki-laki bejat itu. Tapi kau tenang saja, Kak. Aku sudah membalas semua perbuatannya kepada kita. Kau pasti sudah bertemu dengannya di alam baka," ujarnya dengan suara sedih bercampur tawa. 


"Jadi kamu dalang pembun*han Daddy dan Papa kandung putriku?" 


Suara dari belakang membuat Rocky menoleh. Laki-laki paruh baya itu terkejut saat melihat sang istri berdiri tepat di belakangnya. Dia segera bangkit dan berniat mendekati Nabila. Sayangnya Nabila dengan cepat menghindar saat laki-laki itu hendak memeluknya. 


Para pengawal langsung meringsek saat melihat seseorang yang sepertinya akan mengancam keselamatan kedua wanita yang mereka jaga. Namun, Silvia menahan mereka dengan mengangkat tangannya. Memberikan isyarat bahwa mereka belum terdesak. 


"Bila. Maaf," ujarnya dengan suara tercekat. 


Dia tentu tidak menyangka bahwa sang istri akan datang dan mendengar pengakuannya kali ini. Dia mengira Nabila akan masih disembunyikan oleh keluarga Alefosio. 


"Maaf, untuk apa kamu meminta maaf? Belum cukupkah kamu menghancurkan kehidupanku selama ini?" tanya Nabila dengan gelengan keras. 


Wanita itu benar-benar tidak pernah berpikir bahwa suaminya akan menjadi pelaku pemb*nuhan satu-satunya orang tua yang dia miliki. Sekejam-kejamnya Rocky, selama ini Nabila masih memiliki keyakinan bahwa laki-laki yang menikahinya itu tidak mungkin menyakiti orang-orang yang dia sayangi. 


Kedua mata Nabila sudah mengembun bagaikan awan gelap yang siap menumpahkan air hujan yang berbulan-bulan ditampung. Dia memegang dadanya yang terasa sesak ketika mengetahui laki-laki yang selama ini dia layani justru tega menjelma menjadi malaikat maut untuk sang ayah tercinta. 


"Aku tidak butuh penjelasan mu, Rocky. Pergilah dari tempat ini dan jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku." 


Rocky menjatuhkan dirinya hingga bersimpuh di bawah kaki Nabila. Dia benar-benar menyesali semua perbuatannya selama ini. Dari perlakuan buruknya terhadap sang istri sampai kejahatannya yang tega menghabisi nyawa orang tercinta istrinya. 


"Maafkan aku, Bila." 


"Memaafkanmu? Sekarang bahkan aku ingin membun*hmu, Rocky!" bentak Nabila dengan berani. 


"Pergilah, Rocky. Jangan menambah beban Nabila. Mentalnya belum sembuh sepenuhnya," timpal Silvia yang akhirnya mengeluarkan suara setelah sekian lama hanya menjadi saksi perdebatan antara sepasang suami istri itu. 


"Bun*h aku, Bila. Bun*h aku jika memang itu satu-satunya cara agar kamu mau memaafkan semua kesalahanku." 


"Rocky! Pergilah. Aku tidak mau sahabatku kembali tertekan karena keegoisanmu." Silvia yang sudah sangat muak dengan tingkah egois Rocky mengusir laki-laki yang lebih tua darinya itu. 


Mendengar sang nyonya besar sudah mengusir laki-laki berbahaya itu, tetapi tidak mendapatkan respon apapun dari laki-laki itu, para pengawalpun akhirnya mendekat. Mereka memegangi Rocky dan memaksa laki-laki itu untuk segera pergi dari sana. 


"Pergilah, Tuan. Jangan mencari masalah dengan tuan muda kami. Jika dia tahu anda masih berani menampakkan diri anda di hadapan keluarganya, dia pasti akan memberimu perhitungan." 

__ADS_1


Rocky memberontak dengan menyentak tangan para pengawal yang memeganginya. Laki-laki itu tertawa lantang saat mendengar ucapan anak buah Danendra. 


"Aku bahkan sedang menunggu dia menjelma menjadi monster. Dia terlalu lemah untuk melawanku!" bentaknya kepada para pengawal. 


"Benarkah? Aku terlalu lemah untuk melawanmu, Tuan Rocky?" 


Mereka semua menoleh ke belakang. Danendra berdiri dengan bersedekap dada. Sorot matanya begitu tajam menatap Rocky dengan penuh rasa dendam. Selama ini dia memang diam saat melihat laki-laki itu berulah. 


Namun, tidak untuk sekarang. Dia tentu akan membuat perhitungan setelah laki-laki itu berani merendahkan harga dirinya. 


"Nendra," gumam Nabila dan Silvia kompak. 


"Memangnya selama ini kau bisa apa? Kau bahkan membiarkan semua orang yang berniat mencelakai istrimu tanpa pembalasan apapun." 


Danendra hanya menggeleng dengan seringai tipis yang menghiasi wajah tampannya. 


"Lalu, apakah kau ingin aku meleny*pkan putri kesayanganmu itu? Bukankah semua yang terjadi pada istriku adalah ulah anakmu, tuan Rocky?"


Nabila semakin terkejut saat Danendra membahas tentang kejahatan Rihanna. Anak bungsunya itu memang memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Darah psikopat mengalir dalam darah Rihanna. Hanya saja Nabila tidak pernah menyangka bahwa Rihanna akan tetap berulah setelah tahu bahwa Adeline adalah kakak satu ibu dengannya. 


"Sampai detik ini, dia bahkan belum kapok untuk mencari masalah dengan mengganggu istriku. Ini peringatan terakhir. Jika anda ataupun Rihanna masih berani mengganggu keluarga saya, saya tidak segan-segan menghabis* kalian tanpa ampun." 


"Aku menunggu saat itu tiba, Nendra. Jika kau memang sekuat itu, lakukan saja." Bukannya takut, Rocky justru menantang Danendra. 


Setelah mengucapkan kata-kata yang bermuatan tantangan itu, Rocky pergi dari tempat itu. Sebenarnya dia sangat ingin melawan laki-laki muda itu, hanya saja dia tidak ingin Nabila semakin membencinya. 


Begitu si pengganggu telah pergi dari tempat yang seharusnya tenang itu, Danendra mendekati kedua wanita paruh baya yang begitu dia sayangi. Laki-laki itu sudah memiliki firasat buruk, karena itulah dia sampai menyusul mereka ke pemakaman untuk memastikan mereka baik-baik saja. 


"Ma, sebaiknya mulai sekarang tunggu Nendra kalau mau pergi kemana-mana. Nendra tidak ingin kalau laki-laki itu nekat menyakiti kalian." 


Kedua wanita itu mengangguk mengerti. Danendra menunggu keduanya yang sibuk menaburkan bunga di atas pusara Arnold. Mereka kembali ke mansion setelah Nabila selesai melepas rindu dengan menangis di atas makam ayahnya. 


"Nendra, boleh mama tanya sesuatu?" tanya Nabila kepada Danendra yang duduk di kursi depan, di samping supir. 


"Tanya apa, Ma?" 


"Rihanna masih berusaha menyakiti Adeline? Apakah Elin tahu tentang perbuatan adiknya?" 

__ADS_1


__ADS_2