Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Grasiella menghilang


__ADS_3

Penjelasan ayahnya memang benar, musuh bisa datang dari mana saja bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang selama ini kita percayai pun bisa dengan tega berkhianat. Namun, Danendra juga perlu mempertimbangkan hal tersebut. Terutama dia juga perlu meminta kesediaan dari Adeline sendiri, meski bagaimanapun dia juga tidak bisa memaksa sang istri jika wanita itu ternyata tidak bersedia. 


"Tapi, Pa, Nendra tidak ingin Adel terluka jika harus memaksanya belajar beladiri," ujar Danendra yang masih berusaha berpikir logis. 


"Kau mau memilih istrimu terluka ringan karena kau mengajarinya beladiri atau kau mau memilih dia tamat di tangan musuh-musuhmu nantinya," ucap sang ayah yang semakin membuat Danendra galau. 


"Baiklah. Jika memang harus, tapi biarkan Nendra bicara baik-baik dulu dengan Adel. Dia pasti kaget jika tiba-tiba di haruskan belajar hal baru yang berbahaya," tukas Danendra yang memang belum bisa menyetujui saran sang ayah. 


Saat sudah selesai menghabiskan sarapannya, Danendra sempat berpesan kepada maid di mansion untuk mengantarkan sarapan untuk sang istri. Setelah itu dia bergegas berangkat ke kantornya. 


Baru saja turun dari mobil yang mengantarnya ke kantor, amarah Danendra kembali di uji oleh seseorang yang sudah berdiri di area lobby kantor dengan tema nuansa alam yang hijau serta dinding kaca di bagian depan yang memudahkan sinar matahari menembus ke ruangan tersebut. 


Nendra berjalan dengan langkah tegasnya untuk masuk ke kantor. Pria itu bersikap seakan tidak melihat seseorang yang pasti sedang menunggunya itu. Sementara itu, seseorang yang sedang menunggu kedatangan Danendra langsung berdiri dari sofa lalu berniat menghampiri Danendra. 


Sayangnya langkah seseorang itu harus terhenti ketika seorang pria yang awalnya berjalan di belakang Danendra langsung menghalangi langkah seseorang berpakaian minim bahan serta warna yang mencolok tersebut. 


"Ish! Minggir." Seseorang itu dengan berani berusaha menyingkirkan tubuh Gerry yang saat ini bagaikan patung batu yang sudah di pindahkan. 


"Lebih baik anda jangan membuat onar, Nona. Tuan sedang tidak ingin di ganggu," ucap Gerry dengan nada datar. 


"Aku hanya ingin bertemu calon suamiku. Kau jangan berani menghalangiku," jawab seseorang itu. 


Sebenarnya Danendra sudah sangat muak melihat perempuan yang sedang berdebat dengan sekretarisnya tersebut. Bayang-bayang perempuan itu sudah menyakiti sang istri membuat emosinya naik lagi ke ubun-ubun. 

__ADS_1


"Kau bisa mengurusnya sendiri kan, Gerr. Aku duluan ke atas," sela Danendra yang tidak ingin kelepasan berkata kasar dan mempermalukan perempuan yang selalu menempel padanya itu. 


"Silahkan, Tuan. Saya akan mengurus segalanya," jawab Gerry mempersilahkan sang tuan untuk naik lebih dulu. 


Rihanna yang akhirnya sadar bahwa Danendra seakan tidak menganggap keberadaannya, berusaha menerobos Gerry dan kembali bersikap seperti biasanya. 


Benar saja ketika Danendra mengayunkan langkah, Rihanna buru-buru memegang lengan Danendra kuat-kuat. Kini sorot mata Danendra menatap tangan Rihanna yang memegangnya dengan penuh ketidaksukaan. 


"Lepaskan, RI! Jaga batasanmu." 


"Baby, aku ini calon istri kamu. Kenapa kamu selalu saja menghindariku?" Entah memiliki dukungan dari siapa, sampai Rihanna berani mengakui hal tersebut dengan nada yang sengaja dia tinggikan. 


Beberapa karyawan yang ada awalnya berlalu lalang dan melakukan aktifitasnya bekerja, kini menoleh dan memperhatikan keributan yang mengikuti sertakan sang atasan. 


Danendra yang sejak tadi masih berusaha menahan diri, kini sudah tidak bisa lagi membiarkan perempuan itu bersikap seolah-olah dia adalah orang spesial untuknya. 


"Setelah kejadian semalam, seharusnya kau tahu diri, Ri. Selama ini aku membiarkan kamu bersikap semena-mena hanya karena aku menghargai mamimu. Aku juga memaafkan kesalahanmu yang sudah berani menculik istriku karena tidak ingin hubungan mamaku dan mamimu menjadi buruk. Tapi jika kau masih saja tidak memiliki urat malu, jangan salahkan aku jika bertindak kasar." Danendra menjelaskan panjang lebar lalu menyentak lengan Rihanna yang masih menggerayanginya. 


Danendra mengayunkan langkah menjauh dari Rihanna yang saat ini ditahan oleh Gerry. Pria itu tidak memperdulikan teriakan dari Rihanna yang lantang dan kasar. Perempuan itu beberapa kali memaki Adeline karena merasa wanita itulah yang membuat Danendra menjauhi dan menolaknya. 


Gerry menarik paksa Rihanna keluar dari gedung megah Ale Group. Pria kepercayaan Danendra itu tidak segan mendorong perempuan yang masih saja memaki nyonya mudanya dengan kata-kata kotor hingga terjungkal ke lantai.


"Saya harap ini terakhir kalinya anda membuat ulah, Nona, karena saya tidak akan pernah membiarkan anda merusak kebahagiaan tuan dan nyonya muda." 

__ADS_1


Rihanna yang di dorong hingga terjungkal langsung memberikan tatapan penuh dendam pada Gerry. Perempuan itu susah payah berusaha bangkit, akan tetapi lututnya ternyata terluka dan mengeluarkan darah. 


"Aku pasti akan membayar darah yang keluar karena ulahmu ini dengan nyawa wanita sial*n itu!" ancam Rihanna tanpa rasa takut. 


"Saya tidak akan pernah membiarkan niat anda itu terlaksana, Nona. Saya yang akan menjamin keselamatan nyonya muda menggunakan nyawa saya sendiri," jawab Gerry tanpa ragu, lalu pergi meninggalkan Rihanna yang masih terduduk di lantai luar gedung mewah itu. 


Setelah kepergian Gerry, Rihanna bangkit meski harus bersusah payah. Perempuan itu berjalan dengan pincang menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Ketika sudah berada di mobil, perempuan itu mengambil tas branded miliknya yang berada di samping kemudi lalu menghubungi seseorang. 


"Cari tahu tentang keluarga Adeline Griselda, secepatnya beritahu aku tentang info keluarga itu. Aku tidak ingin sedikitpun ada yang luput dari perhatianmu!" 


Setelah menghubungi seseorang itu, Rihanna bergegas pergi meninggalkan area perkantoran ternama di negara itu. Obsesinya untuk menjadi nyonya muda keluarga Alefosio harus terlaksana, tidak peduli apapun yang harus dia korbankan. 


Sementara itu, Adeline baru saja bangun dari tidurnya. Wanita dewasa itu sedikit kebingungan saat tidak mendapati sang suami di kamar. Namun, dia tersenyum lega saat menemukan selembar surat yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. 


"Dia itu, memangnya ini jaman apa? Masih pakai kertas untuk memberikan kabar pada istrinya. Padahal ada ponsel, bisa kirim pesan, voice not, telfon bahkan Vidio call." Adeline menyimpan surat dari suaminya itu di laci meja. 


Dia turun dari ranjang lalu segera membersihkan diri. Hari ini dia berencana untuk pergi ke bar dan memeriksa bisnisnya yang sudah lama tidak terurus. Meskipun Danendra berkata bahwa bisnis itu sudah ada yang menangani, akan tetapi rasanya kurang jika dia tidak memantaunya sendiri. 


Ketika keluar dari kamar mandi, Adeline sudah rapi menggunakan pakaian casual yang membuat dirinya terlihat lebih muda dari usianya. Wanita dewasa itu hanya memoles sedikit wajahnya menggunakan make up natural. Sejak menikah dengan Danendra, pria itu memang sangat posesif dan tidak mengizinkan sang istri berdandan secara berlebihan. 


Saat Adeline sudah siap dan hendak mengambil tas miliknya, tiba-tiba ponselnya berdenting menandakan ada sebuah pesan masuk. Buru-buru dia memeriksa dari siapakah pesan tersebut. Namun, matanya membola seketika saat sudah membaca pesan tersebut. 


"Grasiella hilang? Bagaimana bisa anak itu hilang, bukankah dia selalu berada di rumah jika tidak pergi bersama suaminya?" 

__ADS_1


__ADS_2