Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Bercocok tanam


__ADS_3

Keesokan paginya di mansion besar keluarga Alefosio, Adeline sudah lebih dulu bangun sebelum Danendra. Pria itu masih asik bergelung di dalam selimut tebal. Cuaca pagi ini memang terasa lebih dingin dari biasanya. 


Adeline berdiam diri di balik sebuah jendela besar yang mengarah ke arah taman mini di mansion tersebut. Dia sedikit tersenyum ketika melihat kupu-kupu yang terbang bebas dan hinggap di tangkai bunga yang cantik. 


Tirai yang terbuka membuat cahaya dari luar masuk dan akhirnya mengganggu tidur nyenyak seorang penguasa bernama Danendra Alefosio. Pria itu perlahan-lahan mengerjapkan matanya ketika sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar besarnya. 


Pria yang sudah berhasil mendapatkan cintanya itu sedikit meregangkan otot-ototnya dan perlahan bangkit dari posisinya masih dengan kedua mata yang sedikit terpejam karena rasa kantuknya belum hilang. 


Tangannya meraba ruang di samping, tempat dimana sang istri tidur. Namun, dia tidak menemukan apapun di sana. Reflek kedua mata itu terbuka karena merasa sudah kehilangan seseorang yang selalu menghangatkan tubuhnya akhir-akhir ini. 


Begitu kedua mata itu terbuka sempurna, Danendra melihat sang istri tengah berdiri di depan sebuah jendela. Sepertinya wanita dewasa itu tengah asik dengan kegiatannya sendiri, terbukti dia sama sekali tidak sadar dengan pergerakan sang suami yang sudah bangun. 


Danendra pun turun dari ranjang lalu berjalan mendekati sang istri. Kedua tangannya yang kekar melingkar di pinggang ramping Adeline yang sontak membuat sang pemilik pinggang sedikit terkejut. Adeline menoleh ke samping, yang mana tiba-tiba kepala Danendra sudah bersandar dengan manja di ceruk lehernya. 


"Sayang," panggil Danendra dengan suara serak khas bangun tidur. 


Adeline tersenyum lembut lalu tangan kanannya terangkat dan membelai wajah tampan itu penuh kasih. Entah kenapa, nyatanya hidup bersama dengan pria itu selama dua bulan ini membuatnya sedikit takut kehilangan. 


"Sudah bangun?" tanya Adeline sambil meletakkan tangan kirinya di atas kedua tangan kekar sang suami yang berada di perutnya yang rata. 


"Heem, aku kehilangan selimut hangatku, makanya terbangun." 


Adeline terkekeh dengan jawaban manja suaminya. "Aku sudah tidak mengantuk, Nendra, jadi aku bangun lebih dulu." 


Pria itu asik mengusap-usap wajahnya di ceruk leher sang wanita tercinta. Bibirnya dengan nakal memberikan sedikit kecupan di sana membuat Adeline sedikit menggigit bibir karena menahan gelenyar aneh yang tiba-tiba timbul di jiwanya. 


"Kenapa tidak membangunkan aku?" bisiknya tepat di telinga sang istri, pria itu bahkan dengan sengaja meniup pelan telinga istrinya. 

__ADS_1


Adeline semakin tidak karuan ketika Danendra melakukan hal tersebut. Dia benar-benar menahan sesuatu yang belum pernah dia rasakan, yaitu tertarik untuk bercocok tanam pada pagi hari. Lagi pula dia juga merasa malu jika harus memintanya lebih dulu kepada Danendra meski pria itu adalah suaminya yang sah. 


"A-aku ha-nya ingin melihat bunga saja, Nendra," jawabnya dengan suara yang lain dan tentu saja Danendra paham dengan situasi dan kondisi saat ini. 


"Hanya ingin melihat, padahal aku ingin mengajari kamu bercocok tanam, Sayang," ujarnya dengan lembut. 


"Memang kamu mau menanam bunga apa?" tanya Adeline yang belum paham tentang kode dari suaminya. 


"Apa saja, yang jelas dari bibit unggul dan tentunya akan menjadi bukti cinta kita," jawab Danendra yang kembali memberikan kecupan singkat di leher istrinya.


"Kamu sudah beli bibitnya?" tanya Adeline dengan polos. 


"Tidak perlu beli, sudah tersedia dari alam secara alami," jawab Danendra yang tiba-tiba membalikkan tubuh sang istri menghadap ke arahnya. 


Kedua mata itu saling bersitatap dalam-dalam. Danendra paham jika istrinya itu juga tengah di selimuti oleh kabut ga*rah untuk segera terbang ke langit ke tujuh bersamanya. Tanpa basa-basi, Danendra mendekatkan kedua wajah itu hingga hanya tersisa beberapa senti saja. 


"Kamu mau, 'kan?" tanyanya memastikan agar mood sang istri tidak berantakan karena ulahnya lagi. 


"Tapi … nanti kamu kesiangan," jawab Adeline yang tidak langsung menerima ajakan sang suami. 


"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang berani memarahiku. Apa lagi kita sedang menggarap proyek besar yang menguntungkan untuk tuan dan nyonya besar Alefosio," ujar Danendra yang membuat Adeline tidak dapat menolak ajakannya. 


"Baiklah, lakukan saja," jawabnya yang akhirnya mempersilahkan sang suami. 


Adegan bercocok tanam versi si Berondong jagung dan Semangka matang pun terjadi di pagi hari. Mereka saling memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang begitu memabukkan. Namun, sayang sepertinya dewa Amore sedang tidak berpihak pada Danendra. 


Ketika pria itu akan masuk ke inti permainan, tiba-tiba Adeline mual-mual. Wanita itu mendorong tubuh suaminya yang mebjafi penghalang dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan cairan yang mengganggu di perutnya itu.

__ADS_1


Saking buru-burunya, Adeline bahkan tidak memakai selembar kain pun yang menutupi tubuh moleknya, begitupun juga dengan Danendra. Pria itu membiarkan cangkulnya yang sudah tegak sempurna menggantung karena mengejar sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi. 


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Danendra khawatir. 


Adeline masih mengeluarkan cairan kental berwarna kuning dari mulutnya. Ketika sang suami datang, wanita dewasa itu segera membersihkan area bibirnya menggunakan tissu, tentunya setelah membasuh menggunakan air bersih. 


Wanita yang sebenarnya sudah siap di beri bibit unggul itu membalikkan tubuhnya, alangkah terkejutnya Danendra ketika melihat wajah sang istri yang pucat pasi. 


"Kamu kenapa?" tanya Danendra menuntut karena sangat khawatir pada wanita tercinta. 


"Tidak tahu, tiba-tiba mual dan muntah." 


"Kamu salah makan kali, Sayang?" tebak Danendra yang sedikit heran. 


"Aku tidak makan apapun, kecuali makanan yang sama dengan kamu," jawab Adeline yang langsung membalikkan tubuhnya karena lagi-lagi merasa mual. 


Danendra dengan telaten memijat tengkuk hingga punggung sang istri yang masih muntah-muntah. Meskipun masih heran, akan tetapi Danendra tentu saja ingin membantu istrinya agar tidak merasakan sakit sendirian. 


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja," putus Danendra yang tidak tega jika menuntut untuk melanjutkan kegiatan tadi. 


Adeline mengangguk setuju dan Nendra langsung mengangkat tubuh istrinya itu ke dalam gendongannya. Pria itu membawa sang istri ke ranjang empuk dan menurunkannya secara perlahan. Tidak ketinggalan pria itu juga menyelimuti istrinya menggunakan selimut tebal. 


"Aku panggil dokter yah!" tawar Danendra kepada sang istri. 


"Tidak perlu! Aku hanya mau kamu di sini saja," tolak Adeline yang justru menepuk ruang kosong di sampingnya. 


"Tapi, Sayang, kamu perlu di periksa." 

__ADS_1


"Aku hanya mau kamu saja, Nendra! Aku tidak memerlukan yang lainnya," ujar Adeline dengan suara lantang tetapi terdengar manja.


 


__ADS_2