
Gerry menatap benci Indira yang berniat mengacau di acara pernikahannya. Lebih geram lagi saat wanita itu mengincar Celine sebagai target kejahatannya.
Sementara itu, Indira tentu saja merasa kecewa. Selama ini, Gerry selalu bersikap baik dan memperlakukannya dengan lembut. Namun, sekarang laki-laki itu seperti melihat sampah saat bertatapan dengannya.
"Batalkan pernikahan ini, Ger! Aku mohon. Kembalilah padaku," pintanya dengan suara lantang, dia sengaja memancing perhatian semua tamu.
"Cih! Jika di dunia ini tidak ada wanita lain selain dirimu, aku lebih memilih tidak pernah menikah. Aku lebih baik menyendiri seumur hidup dari pada harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki urat malu sepertimu!"
"Gerry, aku tahu kamu marah padaku. Tapi jangan hancurkan impian yang dulu kita rajut bersama. Kumohon, kembalilah. Batalkan pernikahan kamu dengannya! Aku tahu rasamu terhadapku masih sama seperti dulu." Indira masih tidak tahu diri, meski semua tamu menatap aneh padanya.
"Seyakin itu dirimu, Nona?" Celine yang sejak tadi hanya diam sebagai penonton, kini mulai bersuara.
Indira menatap sengit wanita yang kini telah resmi menyandang gelar istri sah Gerry. Namun, Celine pun tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun.
"Diam kau, Wanita sialan. Kau yang sudah merebut Gerry dariku!" tuduh Indira kepada Celine.
"Tidak pernah ada orang yang bisa merebutku dari siapapun. Semua itu adalah pilihanku sendiri. Aku melamar Celine saat kita sudah tidak memiliki hubungan apapun, In! Jangan asal menuduh!" bentak Gerry tidak terima sang istri dimaki oleh mantan kekasihnya.
"Tapi … cinta kita belum usai, Ger!" teriak Indira yang belum bisa menerima kenyataan.
__ADS_1
"Cinta? Kau membahas cinta didepanku? Apa perlu aku umumkan pada semua orang, penyebab perpisahan kita?" tanya Gerry mengancam.
"Enggak! Kamu enggak akan mungkin melakukan itu, Ger. Kau masih mencintaiku."
"Jangan terlalu percaya diri, In. Aku sudah menikah!" Gerry sengaja menggapai tangan sang istri, kemudian menunjukkan jari kelingking mereka yang terdapat sepasang cincin pernikahan.
"Kamu hanya memanfaatkan wanita jadi-jadian itu untuk membalasku, Ger. Aku tahu, kamu masih sangat mencintaiku!" teriak Indira yang tidak mau kalah.
Semua tamu menatap ke arah mereka. Tidak terkecuali Danendra, Malik, Rihanna, dan Adeline. Namun, mereka merasa Gerry masih bisa mengatasi permasalah ini sendiri.
"Cukup, Indira! Aku masih berbaik hati padamu dengan tidak mengatakan keburukan mu pada orang lain. Tapi sepertinya kau masih belum mengenalku dengan baik, In!" Gerry mengancam mantan kekasihnya itu.
"Pergilah!" seru Gerry seraya mengibaskan tangannya.
"Aku enggak akan pergi, Ger!" Indira menatap Gerry dengan tatapan memohon. "Aku tahu, kamu tidak mencintainya," sambung Indira yang semakin membuat Gerry geram.
"Kamu salah, In. Aku sangat mencintai istriku. Sejak mengucapkan janji suci pernikahan, aku sudah bertekad tidak akan berpaling darinya."
Celine dan semua orang yang ada di sana tentu saja merasa terharu. Namun, tidak dengan Indira, wanita itu semakin jengkel dan tidak terima.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan janji kita dulu, Ger? Kau sudah berjanji akan menikahiku." Indira mengungkit janji mereka yang dulu masih saling mencintai.
"Janji itu otomatis batal setelah kamu mengkhianatiku dengan tidur bersama orang lain," gumam Gerry, dia masih berusaha menjaga nama baik Indira, meski wanita itu mati-matian menjatuhkan harga dirinya.
"Aku sudah bilang, aku khilaf, Ger! Kenapa kamu tidak paham juga?"
"Tidak ada orang berselingkuh karena khilaf, In. Itu semua atas dasar kemauan kamu sendiri. Tidak perlu menyalahkan keadaan. Kita memang tidak berjodoh," ucap Gerry berusaha menyadarkan Indira.
Danendra yang menonton kejadian itu mulai jengah. Adegan yang diperankan oleh sekretaris serta wanita tidak tahu diri itu terasa membosankan bagi laki-laki gagah berparas tampan itu.
"Ger, kau terlalu lembut padanya. Dia itu tipe wanita yang dikasih hati minta jantung. Kalau sudah begitu, kasih saja empedu sekalian! Kau cepat suruh dia pergi, atau kutembak dia di depanmu?" Suara Danendra yang lantang terdengar menakutkan bagi semua orang, bahkan Indira yang sejak tadi belum mau beranjak, mulai khawatir dengan nasibnya ke depan.
"Pergilah, In. Tuan Muda tidak pernah main-main dengan ucapannya," kata Gerry memperingati si mantan kekasih.
"Kamu sama sekali tidak ingin kembali bersamaku, Ger?" tanya Indira dengan nada sendu.
"Tidak, In. Sampai kiamat datang pun, aku tidak akan pernah kembali padamu." Gerry memalingkan wajahnya saat berkata seperti itu.
"Baik, aku pergi. Tapi … izinkan aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya," pinta Indira dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Gerry dengan cepat menatap Celine, wanita itu mengangguk, kemudian memalingkan wajahnya agar tidak melihat adegan yang akan terjadi antara suami dan mantan kekasih suaminya itu.