Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Hangatnya Pelukan Papa


__ADS_3

Kedua mata Antonio mengembun karena perasaan bahagia serta haru yang datang bersamaan. Sebentar lagi akan ada hujan air mata dari pria angkuh seperti Antonio. Pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu menatap sang putri dengan ekspresi bahagia bercampur malu. 


Bagaimana tidak, anak yang sepuluh tahun terakhir dikucilkan olehnya hanya karena menolak menikah dan justru sibuk dengan bisnis yang dia rintis dari bawah. 


Menurut Antonio, tidak ada gunanya seorang perempuan sukses dalam bisnis tetapi gagal dalam urusan rumah tangga.


Tanpa aba-aba ataupun tanda apapun Antonio menarik Adeline untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya. Sosok perempuan tegar yang selama ini dia remehkan, tetapi tidak pernah sekalipun ingin membalas rasa sakit yang sudah dia torehkan. 


Adelin tentu terkejut, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sepuluh tahun, Adeline mendapatkan pelukan hangat dari sosok ayah tercinta. Mereka menikmati momen indah yang sudah lama tidak mereka lakukan. 


"Tuhan, bisakah hentikan waktu sebentar saja. Aku sangat merindukan pelukan hangat papa," batin Adeline yang merasa nyaman dengan pelukan yang sudah sangat lama ia nantikan. 


Awalnya hubungan mereka sangatlah dekat. Adeline juga merupakan anak kebanggaan sang ayah. Namun, semua berubah ketika Adeline menolak pinangan salah satu client penting sang ayah. 


Sepuluh tahun yang lalu ketika usia Adeline dua puluh lima tahun. Ada seorang pengusaha yang merupakan client penting Antonio yang kebetulan menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman Antonio Abraham. 


"Jadi ini putri kebanggaan Tuan Antonio yang sering kali dibicarakan oleh beberapa rekan bisnis anda itu, Tuan?" tanya seorang pemuda berpakaian rapi yang duduk di samping sang pemilik rumah. 


Antonio menghentikan kegiatan makan malamnya sejenak dan menatap si pemuda. "Benar, Tuan. Dia adalah Adeline Griselda, anak sulung kebanggaan kami." Pria itu beralih menatap putrinya. "Elin, perkenalkan, dia ini client penting papa di perusahaan. Tuan Alexander!" 


Adeline yang duduk berhadapan dengan pria yang di kenalkan oleh sang ayah hanya sedikit menganggukkan kepala serta tersenyum tipis. 


"Dia cantik dan anggun sekali, sama seperti gadis yang selama ini menjadi idamanku," batin si pemuda sambil menatap wajah si perempuan lekat. 


Setelah acara jamuan makan malam pada hari itu juga Adeline yang hampir memejamkan mata di dalam kamar tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu. 

__ADS_1


Gadis manis yang wajahnya begitu cantik meski belum terkena dempulan make up tebal itu bangun dari posisinya. 


"Siapa, yah, malam-malam begini datang ke kamarku? Ini pasti ulah Zico dan Ella yang mau mengerjaiku," tebak Adeline seraya turun dari tempat tidur. 


Adeline berjalan dengan langkah gontai menuju pintu. Beberapa kali dia menguap ketika rasa kantuk menyerang. Kedua mata yang sudah terasa lengket satu sama lain itu terpaksa dia buka lebar-lebar. 


"Kalian ngapain, sih! Gang–," Ucapan Adeline terhenti saat pintu terbuka dan menampakkan tubuh tegap sang ayah. "Papa," pekiknya kaget.


"Kamu sudah mau tidur, Elin? Maaf, papa mengganggu istirahat kamu. Kalau begitu lanjutkan saja," ujar sang ayah yang hendak berbalik. 


"Ah, tidak apa-apa, Pah. Masuk saja," timpal Adeline yang merasa tidak enak. 


Mendengar Adeline mempersilahkannya untuk masuk, Antonio akhirnya masuk ke kamar putri sulungnya. Sebuah kamar yang sangat rapi dan nyaman. Meski di rumah besar itu memiliki beberapa pelayan, Adeline sama sekali tidak pernah mengizinkan satupun pelayan masuk dan menyentuh semua barang-barang miliknya. 


"Kamu rajin sekali, Sayang. Pria yang bisa mendapatkan kamu pasti mendapat keberuntungan dari dewa karena bisa meluluhkan hati perempuan tangguh seperti anak papa yang satu ini," puji Antonio seraya pandangannya berkeliling. 


Sang ayah seketika menoleh saat mendengar jawaban putrinya itu. Tangannya terulur lalu mencubit gemas hidung mancung sang putri. "Kalau 25 masih kecil, lalu Zico dan Ella apakah masih bayi?" tanyanya bergurau.


 Rasa kantuk yang tadi sempat menguasainya itu lenyap begitu saja akibat gurauan sang ayah. Kamar Adeline penuh dengan canda dan tawa dari sepasang ayah dan anak yang saling menyayangi itu. Namun, suasana bahagia itu tiba-tiba menjadi tegang setelah sang ayah membahas perkara perjodohan. 


"Tapi kenapa, Pa? Elin masih terlalu muda untuk membina rumah tangga. Lagi pula Elin juga baru saja merintis usaha dari nol, kalau Elin menikah, itu pasti akan menjadi batu sandungan untuk sukses, 'kan?" 


"Kau ini perempuan, Elin. Tidak perlu memikirkan usaha yang terpenting adalah memiliki pasangan yang mapan dan bisa menjamin kebahagiaan kamu!" 


Adeline menggeleng cepat. Pemikiran ayahnya itu sangatlah kuno. Di jaman modern seperti ini masih saja berpatokan pada prinsip lama. 

__ADS_1


"Itu berarti papa ingin Elin menikah dengan pria kaya? Bukan dengan pria yang mencintai dan dicintai oleh Elin. Begitu, Pa?" tanyanya dengan nada agak sedikit tinggi. 


"Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu, Elin. Pria yang cocok menjadi pendampingmu hanyalah Tuan Alexander," jawab si ayah tegas. 


Kedua mata Adeline membulat sempurna saat mendengar nama seseorang yang akan dijodohkan dengannya. "Bukankah dia rekan bisnis papa yang tadi?" tanya Adeline menatap dalam-dalam sang ayah. 


"Benar! Pria yang tadi papa kenalkan pada kamu," jawabnya singkat. 


Adeline menggeleng tidak percaya. "Papa tidak tahu track record kehidupannya, Pa? Dia seorang pemain wanita." 


"Asalkan kamu mendapatkan hak kamu, itu sudah cukup baik, Elin. Tidak perlu memikirkan masa lalunya," jawab si ayah tanpa beban. 


"Adeline tidak mau! Elin masih ingin berdiri di kaki Elin sendiri. Bukan menjadi boneka hidup untuk pria seperti itu!" tolak Adeline tegas. 


"Elin! Berani kamu menolak titah dari papa?" bentak si ayah berang. 


"Maaf, Pa. Lebih baik papa keluar dari kamar Elin," pinta Adeline seraya membalikkan tubuhnya. 


Perempuan cantik itu berusaha menyembunyikan matanya yang sudah berubah menjadi bendungan air yang sebentar lagi akan jebol dari tempatnya. 


"Kamu memilih jadi pembangkang dari pada menjadi anak kebanggaan papa, Elin. Baiklah, mulai detik ini papa tidak akan lagi mencampuri urusanmu!" ujarnya seraya meninggalkan sang putri yang sudah menolak perjodohan yang dia atur untuknya. 


"Maafin Elin, Pa. Tapi Elin memiliki seseorang yang masih Elin perjuangkan," gumam Adeline mengusap kasar air mata yang merembes keluar. 


"Wah! Tumben sekali papa dan Kak Elin berpelukan seperti ini. Habis ada angin ribut di mana?" sindir seorang pria yang berdiri tepat di ambang pintu. 

__ADS_1


Sindiran itu menarik kesadaran Adeline dari bayang-bayang masa lalu ketika awal terjadinya permasalahan antara dia dan sang ayah. Pelukan antara anak dan ayah itu pun terlepas. Keduanya sama-sama memasang ekspresi canggung. Sindiran telak dari Zico cukup membuat mereka tersadar bahwa hubungan mereka selama ini sangatlah buruk. 


"Maafin Elin, Pah. Ternyata pilihan Elin justru membawaku dalam kehancuran," batin Adeline tersenyum kecut saat mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Ricardo, kekasih yang sekarang justru menjadi adik iparnya sendiri. 


__ADS_2