
Tidak berselang lama sejak masuknya Malik ke dalam kamar, Rihanna yang sudah membersihkan diri dan mengganti kebaya pengantin dengan pakaian santai justru keluar.
Wanita yang baru saja sah menjadi istri seorang Malik Ibrahim itu berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Sejak acara tadi, dia sama sekali tidak meminum apapun. Hal itu menyebabkan tenggorokannya terasa sangat kering.
"Astaga, Malik. Dia itu orang kaya tapi pelit sekali. Air mineral sampai habis belum juga diisi." Rihanna menggerutu kesal.
Dia beralih ke kulkas, tetapi langsung kembali menutupnya saat tidak menemukan minuman yang dirasa dapat membantu tenggorokannya yang sedikit terasa serak.
"Terus kalau gini aku minum apa? Di kulkas hanya ada minuman soda dan dingin. Tenggorokanku masih sangat tidak enak," keluh Rihanna seraya menghela napas berat.
Pada akhirnya wanita itu berniat kembali ke kamar. Saat melewati ruang tengah, netranya tidak sengaja melihat botol yang tergeletak di atas meja. Rihanna pun mendekatinya lalu mengambil botol tersebut.
"Mami bilang ini ramuan kesehatan, 'kan?"
Rihanna membolak-balikkan botol tersebut seraya sesekali mencium baunya yang memang begitu asing di hidungnya. Dia masih heran kira-kira minuman apa yang sampai memiliki bau aneh seperti itu.
"Kenapa Malik tidak menghabiskannya? Atau mungkin dia sengaja membaginya untukku?" monolog Rihanna masih memegang botol tersebut.
"Aku minta sedikit tidak apa-apa kali, yah! Malik tidak mungkin marah hanya karena aku meminta minumannya."
Tanpa berpikir panjang, Rihanna membuka tutup botol itu lalu segera meneguk minuman yang katanya hanya ramuan kesehatan. Ketika merasakan rasanya tidak seburuk dalam bayangannya, Rihanna meneguk minuman tersebut hingga tandas.
"Semoga setelah minum ini, badan serta tenggorokanku terasa lebih enak. Jangan sampai aku sakit dan lebih merepotkan Malik," ujarnya seraya kembali menutup botol itu.
Suara pintu yang terbuka mengejutkan Rihanna. Wanita itu sampai terjingkat kaget dan buru-buru membalik badannya. Malik terlihat berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengarah padanya. Yang membuat Rihanna bingung adalah baju Malik sudah dalam keadaan basah kuyup.
"Malik, kamu belum tidur?" tanya Rihanna seraya mendekap erat botol tadi.
Malik tidak menjawab, hanya sorot matanya yang mulai sayu terus saja menatap ke arah Rihanna. Kini, Malik mulai mengamati setiap jengkal tubuh Rihanna yang terlihat begitu seksi.
Padahal, Rihanna bukan memakai lingeri tipis ataupun baju khas tugas seorang istri ketika melayani suaminya. Istrinya itu hanya memakai celana jeans pendek serta kaos polos tanpa lengan.
__ADS_1
Rihanna menatap Malik yang kini pandangan sudah mulai lain. Kedua mata itu semakin sayu seperti sedang menginginkan sesuatu. Tidak hanya itu saja, Rihanna bahkan melihat sesekali suaminya itu tengah menelan Saliva.
Tangan Malik menggosok-gosok belakang leher hingga lengannya sendiri. Seolah-olah laki-laki itu sedang benar-benar kepanasan. Padahal, pakaian Malik saja masih mengucur air yang cukup banyak.
"Kamu kenapa, Malik?" tanya Rihanna curiga.
"Pa-nas, Kay. To-long," pintanya dengan suara serak.
"Panas? Maksudnya kamu demam?" tanya Rihanna memastikan.
Wanita itu langsung menaruh botol yang sudah kosong itu ke atas nakas lalu berlari mendekati Malik. Tangannya terulur untuk memeriksa kening sang suami. Namun, Malik dengan cepat mencekal pergelangan tangannya.
"Tolong aku, Kay."
"Iya aku periksa dulu suhu badan kamu buat mastiin. Lepasin tangan aku!"
"Aku butuh kamu, Kay."
"Malik, cepat masuk ke kamar kamu!" perintah Rihanna yang masih sadar tidak ingin terjadi apapun di antara mereka.
"To-long, Kayla. Aku sudah tidak … aku benar-benar butuh kamu. Plis, untuk kali ini saja," pintanya dengan wajah memelas.
Meski Malik memohon pada Rihanna, tetapi laki-laki itu masih berusaha menahan gejolak yang membara di jiwa. Aliran dalam tubuhnya terasa mendidih dan mengakibatkan hawa panas itu semakin membesar. Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri. Namun, itu tidak berhasil.
"Malik, ingat janji kamu. Kita tidak akan melakukan kontak fisik apapun jika bukan aku yang menginginkan!" seru Rihanna tegas.
"Tapi aku harus bagaimana, Kay? Aku tidak mungkin melakukannya dengan wanita yang bukan istriku."
"Tidak! Aku bilang tidak, Malik. Aku tidak bersedia melakukan hal itu!"
Penolakan Rihanna akhirnya membuat Malik kembali masuk ke kamarnya. Laki-laki itu berlari menuju kamar mandi dan menyalakan shower. Malik membiarkan tubuhnya terguyur air dingin dari shower. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak berdampak apapun. Hawa panas itu justru terasa semakin besar.
__ADS_1
Apa lagi bagian bawahnya yang Malik yakini pasti sudah tegak menantang. Tidak memiliki pilihan lain, Malik segera melepaskan semua pakaiannya hingga tidak tersisa satupun kain yang menempel di tubuhnya. Di bawah guyuran air dingin itu, Malik terpaksa bermain menggunakan tangannya sendiri.
Rihanna yang masih berada di depan kamar Malik sebenarnya merasa tidak tega. Terlebih desas-desusnya, seseorang yang berada di bawah kendali obat seperti itu memiliki efek samping yang tidak main-main. Dari beberapa sumber yang mengatakan ada yang sampai gila bahkan meregang nyawa karena efek obat tersebut.
Masih sibuk memikirkan bagaimana caranya menolong Malik tanpa melakukan hubungan fisik, tiba-tiba Rihanna merasakan hawa panas menyerang tubuhnya. Wanita itu berkali-kali menggosok area sensitif di tubuhnya. Pikirannya tiba-tiba seperti menginginkan sentuhan. Namun, Rihanna masih berusaha menepis apa yang sekarang di curiganya.
"Aku tidak mungkin menginginkan hal itu. Tidak!"
Hawa panas itu semakin membuat Rihanna tidak karuan. Wanita itu berlari masuk ke kamarnya sendiri untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Rihanna masih sadar, dia tidak ingin terbawa oleh keinginan sesaat yang hadir di pikirkannya.
Beberapa menit Rihanna mencoba mengendalikan diri. Tetapi, semakin lama dia semakin tidak tahan. Wanita itu bahkan sampai menjambak kasar rambutnya untuk menyadarkan diri. Namun, hal itu benar-benar tidak berdampak apapun.
"Apakah aku juga terkena obat itu? Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengkhianati Kak Nendra. Hanya dia yang berhak mendapatkan kesucian ku!" tekadnya dengan yakin.
Rihanna yang sedang duduk di sofa berkali-kali merasakan kegelisahan.
Sekuat apapun Rihanna mencoba bertahan, nyatanya dia benar-benar kualahan untuk mengendalikan diri. Rasa ingin mendapatkan sentuhan itu semakin membuat Rihanna frustasi.
Wanita itu akhirnya bangkit berdiri dan kembali keluar dari kamarnya. Dia juga tidak ingin gila ataupun sampai tiada hanya karena masalah ini. Meski tekadnya masih begitu besar untuk mendapatkan Danendra, nyatanya Rihanna masih sadar bahwa hidupnya saat ini lebih penting dari pada itu.
"Aku tidak peduli jika harus kehilangan itu, lagi pula Malik adalah suamiku! Tidak ada salahnya jika kita melakukan hal tersebut."
Rihanna membuka kamar Malik yang kebetulan tidak terkunci. Pandangannya berkeliling untuk mencari keberadaan sang suami. Ketika mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi, Rihanna bergegas menuju ruangan tersebut.
"Malik!" seru Rihanna setelah membuka pintu kamar mandi.
Malik yang sebenarnya sedang asik di dalam sana terkejut saat tiba-tiba sang istri masuk ke dalam ruangan yang menjadi saksi kegilaannya malam ini. Kedua netranya membulat saat Rihanna masuk ke tempatnya berada. Belum selesai dengan keterkejutan karena kedatangan sang istri, Malik kembali di kejutkan saat sang istri langsung menerjangnya. Tangan wanita yang baru tadi sore dia nikahi langsung memegang benda pusaka miliknya yang masih tegak menantang.
"Kayla. Kamu–!"
Ucapan Malik terhenti ketika tiba-tiba Rihanna menyerang bibirnya. Wanita itu dengan ganas Mel*mat bibir tebal berwarna merah muda miliknya. Malik yang masih terkejut belum bereaksi apapun. Sementara itu, Rihanna tetap asik memainkan benda pusaka sang suami yang tadi sempat dia tolak mentah-mentah.
__ADS_1