Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Kolaborasi


__ADS_3

Saat panggilan dengan Antonio berakhir, Adeline langsung membahas perkara yang dibicarakan oleh sang ayah di telepon tadi. 


"Kamu bisa bantu papa, Nendra? Kasihan dia." 


"Sayang, tolong jangan rusak kesenanganku hari ini. Aku sangat lelah," ujar Danendra dengan wajah memelas. 


"Tapi, Ndra, kasihan papa, lho!" 


"Kamu enggak kasihan sama aku? Aku rindu pada calon baby kita." Danendra merengek sambil mengelus perut sang istri. 


"Astaga, bayi besarku. Baiklah, kalau begitu bawa aku ke tempat yang lebih nyaman. Di sini dingin sekali," ujar Adeline mengalah. 


Kalau di pikir dia juga tidak tega membiarkan sang suami terus-terusan mengurus tentang pekerjaan kantor yang menyita sebagian besar waktunya. 


Danendra pun mengangkat tubuh sang istri ke gendongannya. Dia segera membawa Adeline ke kamar. Mereka menikmati momen indah di atas ranjang yang menjadi saksi bisu kisah cinta antara Adeline dan Danendra. 


Jika kehidupan Adeline sudah lebih baik setelah menjadi seorang nyonya muda keluarga kaya. Berbeda dengan Grasiella, perempuan yang dulu begitu disayang oleh Adeline itu kini sedang berada di sebuah restoran. Dia menunggu kedatangan seseorang yang dia hubungi lewat panggilan telepon. 


Tidak lama kemudian seorang pria dan wanita yang saling bergandeng tangan datang menghampiri Grasiella yang duduk seorang diri. Saat melihat si pria datang bersama perempuan baru itu, Grasiella merasa sedikit kesal. Dia pun menatap tajam si perempuan yang merupakan madunya. 


"Ada apa?" tanya Richard masih berdiri berdampingan dengan istri mudanya. 


"Duduklah dulu. Setelah mendapatkan wanita yang lebih bisa memuaskan kamu, kamu jadi mengacuhkan aku, Kak." 


"Untuk apa aku mempertahankan wanita yang bahkan tidak bisa berjalan normal seperti kamu? Sejak sakitmu itu, kau tidak lagi bisa mengimbangi permainanku." Richard berkata dengan frontal tanpa rasa malu kepada siapapun, termasuk istri barunya. 


Grasiella merasakan sakit hati setelah mendapat hinaan dari suaminya itu. Bukankah dia mengalami ini setelah melayani pria tersebut. Sekarang harga dirinya justru dia di rendahkan oleh suami yang tidak pernah dia tolak. 


"Terserah kamu mau bilang apa, Kak. Tapi tolong, duduklah dulu. Kita bicara baik-baik. Aku tidak akan ikut campur urusanmu dengan istri barumu itu," ujar Grasiella yang tidak ingin lagi mendengar makian dari Richard. 


Richard menoleh ke samping untuk meminta persetujuan istri barunya. Setelah si wanita yang baru di nikahinya selama satu Minggu itu mengangguk barulah Richard menarik kursi untuk duduk sang wanita. Saat sudah memastikan bahwa istri barunya itu merasa nyaman, Richard juga ikut mendaratkan b*kongnya di kursi yang berada di tengah. 


"Ada apa? Jangan membuang waktu bulan maduku." 

__ADS_1


"Kamu harus tahu tentang ini, Kak." Grasiella mengambil sesuatu dari tasnya lalu mengulurkannya ke depan sang suami. 


"Ini apa?" tanya Richard dengan bodohnya. 


"Itu tespeck, Sayang!" sela istri barunya dengan cepat. 


Richard menunjukkan benda itu ke depan sang istri. "Apa arti dua garis ini, Sayang?" tanyanya kepada sang istri baru. 


"Aku hamil, Kak. Kenapa kamu malah bertanya pada dia?" tanya Grasiella yang sedikit meninggikan suara. Beberapa orang sampai menoleh ke arahnya saat mendengar teriakan Grasiella. 


"Kamu hamil? Anak siapa?" tanya Richard tanpa rasa bersalah. 


Kedua mata Grasiella terbelalak kaget dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya. "Aku hamil anak siapa? Memang suamiku siapa? Hantu, kah!" Tanpa sadar Grasiella membentak Richard di tempat umum. 


"Memangnya apa hubungan kamu hamil dengan Richard? Dia tidak memerlukan anak itu." 


"Kak …." 


"Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat. Aku juga tahu, janin itu bukanlah darah dagingku." Richard mengulurkan tangannya untuk mengajak sang istri baru pergi dari tempat itu. 


Sayangnya sekencang apapun Grasiella memanggil, tidak di perdulikan oleh Richard. Laki-laki itu sudah merasa bosan dengan pernikahan tidak wajar yang dia jalani bersama Grasiella. Sejak awal, dia menikahi wanita itu hanya untuk membuat Adeline sakit hati. Namun, semua justru sia-sia setelah Adeline menikahi pria lain. 


Marah karena rencananya tidak berhasil, Grasiella melemparkan gelas yang berada di meja ke lantai hingga pecah. Tumpahan minuman yang belum sempat dinikmati olehnya berceceran di lantai. 


"Hai," sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Grasiella. 


Wanita itupun menoleh lalu menautkan kedua alisnya bingung. "Kamu siapa?" tanya Grasiella kepada wanita yang menghampirinya. 


"Boleh kita kenalan dulu? Tak kenal maka tak sayang," ujarnya dengan sedikit gurauan. 


Grasiella memaksa bibirnya untuk tersenyum. Meski sebenarnya dia tidak suka dengan kedatangan wanita yang berdiri di sampingnya itu. Dia merasa wanita itu datang dan semakin menambah rasa kesalnya saja. 


"Aku Rihanna, tadi aku sempat mendengar obrolan kamu dengan seorang pria yang baru saja keluar. Aku tahu kamu sedang dalam kesusahan," ujarnya dengan lugas. 

__ADS_1


Grasiella menatap penuh selidik wanita yang masih berdiri di sampingnya dengan senyum lebarnya itu. "Jangan ikut campur urusanku!" seru Grasiella yang menganggap kedatangan wanita itu justru mengacaukan pikirannya yang perlu menyusun rencana lain. 


"Aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin membantu," ucapnya belum mau pergi meski mendapat respon buruk dari Grasiella. 


"Membantu? Memangnya kau bisa apa?" tanya Grasiella penasaran. 


"Aku bisa membantu kamu untuk mendapatkan ayah dari bayi di kandungan kamu. Itu jika kamu mengizinkan aku melakukan itu," jawabnya seolah tanpa beban. 


"Kamu tidak tahu ini anak siapa. Jadi, untuk apa kamu ingin membantuku. Biarkan saja anak ini aku lenyapkan. Papanya sudah tidak mau menerimanya!" seru Grasiella memainkan perannya dengan baik. 


Rihanna tersenyum dengan gelengan kecil kepalanya. "Aku paham, anak itu memang bukan anak dari pria tadi." 


"Kamu … jangan sembarang ngomong!" bentak Grasiella penuh emosi. 


"Aku tahu, Kak. Kamu hamil anak orang lain, dan itu adalah kakak ipar kamu sendiri," ujarnya dengan sangat jelas. 


Ucapan itu membuat Grasiella semakin bingung. Wanita di sampingnya itu seperti paham akan niatnya untuk merebut suami dari kakaknya. 


"Maksud kamu apa?" tanya Grasiella pura-pura marah. 


"Saya tahu semua, kok! Kamu adik ipar Danendra Alefosio, 'kan?" 


"Kamu kenal Kak Nendra?" tanya Grasiella lagi. 


Rihanna tanpa permisi segera mendudukkan diri di kursi kosong yang berada di samping Grasiella. "Siapa yang tidak kenal pengusaha kaya itu? Seluruh pelosok negri pasti mengenalnya." 


"Kamu tahu dari mana kalau aku hamil anak Nendra?" tanya Grasiella mengintrogasi. 


Grasiella merasa curiga karena wanita yang tiba-tiba menemuinya itu seolah tahu tentang apapun rencananya. Padahal tidak ada satupun orang yang tahu tentang hal tersebut. 


"Kamu tidak perlu tahu aku mengetahui semuanya dari mana. Yang terpenting sekarang adalah, apakah kamu bersedia bekerja sama denganku?" 


"Bekerja sama untuk apa?" tanya Grasiella yang semakin bingung. 

__ADS_1


"Untuk menghancurkan Adeline sampai menjadi kepingan kecil yang tidak berharga."


__ADS_2