Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Janji Danendra


__ADS_3

Danendra membawa Adeline untuk memeriksakan kandungannya. Selain memang Danendra pun ingin memastikan, dia juga ingin meyakinkan kepada istrinya bahwa mereka memang akan secepatnya menjadi orang tua. 


Kini Adeline sedang berbaring di brankar, sedangkan Danendra dengan setia mendampingi di sisi sang istri tercinta. Seorang dokter spesialis sedang melakukan pemeriksaan dengan sebuah alat yang di gunakan di atas perut rata Adeline yang terbuka. 


Alat yang digunakan oleh dokter tersebut juga terhubung dengan layar besar yang terletak di depan mata si pasien. Di sana menampilkan sesuatu yang Danendra dan Adeline sendiri tidak paham hingga sang dokter menjelaskan tentang keadaan yang sedang terjadi di rahim wanita berparas cantik itu. 


"Kandungan istri anda sudah memasuki usia 12 weeks, Tuan. Janinnya terlihat sehat. Ini bagian kepala, tangan, kaki, serta tulang punggungnya." Dokter menjelaskan serta menunjukkan bagian mana saja yang baru saja di sebutkan. 


Walaupun tidak terlalu paham tentang hal tersebut. Namun, Adeline dan Danendra merasa lega setelah mendengar penjelasan sang dokter yang mengatakan bahwa janin dalam rahim Adeline dalam keadaan sehat. 


Sepasang netra itu menatap haru layar monitor yang menampakkan adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Terutama Adeline, wanita dewasa itu begitu terharu karena apa yang dia takutkan selama ini tidak terjadi. 


Ya, dulu, sebelum dia bertemu dan menikah dengan Danendra, selain di olok-olok dengan sebutan perawan tua, banyak sekali orang-orang di sekitarnya yang menakutinya dengan perkataan dia akan susah hamil jika tidak segera menikah. 


"Terima kasih, Sayang." Danendra yang di kuasai rasa bahagia, tanpa rasa malu mengecup kening sang istri begitu lama. 


Dokter itu sampai tersenyum, akan tetapi kembali ke ekspresi semula saat Danendra mengalihkan pandangan ke arahnya. 


"Dok, jadi apakah ada hal-hal yang tidak boleh di lakukan oleh istri saya?" tanya Danendra antusias. 


"Jika kondisi calon ibu dan janinnya sehat, tidak ada larangan apapun, Tuan. Asalkan Nyonya tidak terlalu kelelahan dan memiliki pikiran yang berlebihan atau stres. Itu akan sangat berdampak pada perkembangan janin di rahim istri anda," jelas sang dokter dengan sangat ramah. 


Pemeriksaan pun selesai, Adeline di berikan vitamin serta obat yang di perlukan untuk menunjang kesehatan wanita dewasa itu. Hingga keluar dari ruangan dokter yang tadi memeriksanya, Adeline tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur. 

__ADS_1


Tidak berbeda dengan Danendra, laki-laki muda itu untuk pertama kalinya merasa hidupnya sangatlah sempurna. Setelah mendapatkan cinta yang di dambakan, sekarang mereka mendapatkan kado yang luar biasa dengan akan hadirnya anggota baru keluarga Alefosio. 


"Sayang, mama pasti senang jika mendengar kabar ini," ujar Danendra seraya mengus lembut perut rata istrinya. 


Adeline menerbitkan senyum merekah, kedua mata indah itu sudah mengembun. Sedikit saja dia mengedipkan matanya, sudah di pastikan akan ada bulir bening yang keluar dari sana. 


"Aku benar-benar bisa menuruti permintaan mama, Nendra," ucap Adeline dengan bibir sedikit bergetar. 


Benar saja, saat ini dari kedua sudut mata Adeline menetes butiran air mata. Danendra yang berniat menghapus cairan tersebut dari wajah sang istri di hentikan oleh Adeline yang menahan tangan sang suami. 


"Jangan di hapus, ini air mata bahagiaku," pinta Adeline dengan ekspresi haru. 


Danendra tersenyum lega, laki-laki itu sempat berpikir bahwa istrinya mungkin belum ingin hamil. Namun, ternyata wanita itu justru juga merasakan apa yang saat ini dia rasakan. 


Adeline menangis di bahu sang suami. Danendra membiarkan pakaiannya basah oleh air mata bahagia sang istri. Saking bahagianya Adeline, tangisannya hingga membuat punggungnya bergetar hebat, rasa haru, cemas bercampur aduk merasuk ke dalam dada hingga dia pun bingung untuk mengekspresikan perasaannya saat ini. 


Danendra dengan penuh kasih mengusap-usap punggung sang istri. Laki-laki muda itu paham kenapa istrinya itu menangis. Mungkin saja selain kebahagiaan Adeline juga takut jika dia tidak bisa melakukan kewajibannya terhadap keturunannya nanti. 


"Kita akan menjadi orang tua yang baik untuknya, Sayang. Aku janji, kita akan mengurusnya bersama-sama," ujar Danendra mencoba meyakinkan sang istri bahwa semua akan baik-baik saja. 


Dia tahu, Adeline mungkin terpikir dengan nasib kehidupannya selama ini. Dia adalah anak yang di buang oleh orang tua kandungnya, sementara itu, orang yang mengadopsinya pun tidak memberikan kasih sayang yang tulus untuknya. Wajar jika mungkin itulah yang di takutkan oleh wanita yang saat ini memeluk erat tubuh suaminya. 


"Sayang, ingatlah pesan dokter. Kamu tidak boleh berpikir yang berat, semua kecemasan kamu itu, tidak akan pernah terjadi. Kita akan mencintai dan menyayanginya. Yakinlah, Mama dan Papa tidak akan pernah membiarkan nasib buruk terjadi pada cucunya," lanjut Danendra semakin berusaha membuat sang istri tenang. 

__ADS_1


Puas menangis di bahu sang suami, Adeline kini menegakkan tubuhnya. Wanita dewasa itu berniat menyeka wajahnya, tetapi sudah lebih dulu di lakukan oleh Danendra. Laki-laki itu menangkup wajah sang istri lalu kembali melabuhkan kecupan manis di kening istrinya. 


"Kamu janji akan melakukan yang terbaik untuk anakku, Nendra?" tanya Adeline dengan sesegukan setelah Danendra melepaskannya. 


"Aku janji, Papa dan Mama juga akan memberikan yang terbaik untuknya. Dia bukan hanya anak kamu, dia itu kerja kerasku selama ini," ujar Danendra bergurau, seakan tidak terima karena sang istri hanya menyebut anak itu adalah anaknya saja. 


Senyum merekah terbit di wajah cantik wanita dewasa itu setelah mendengar gurauan sang suami. Adeline dengan cepat mencubit perut Danendra karena suaminya itu berucap dengan kata-kata yang menjurus ke arah bercinta. 


"Sakit, Sayang," rengek Danendra seraya sedikit menjauh dari sang istri yang bersiap akan meluncurkan cubitan selanjutnya. 


"Siapa suruh kamu ngomongnya sembarangan, aku kan malu," ucap Adeline dengan bibir mencebik. 


"Kamu cantik kalau cemberut gitu," rayu Danendra dengan cengiran khas. 


Kedua mata Adeline mendelik tajam. "Jadi aku cuma cantik kalau lagi cemberut aja? Pantesan selama ini kamu lebih sering bikin aku cemberut dari pada tertawa!" seru Adeline kesal. 


"Ha-ha-ha, ampun, Sayang." Danendra berlari kecil dari istrinya yang akan kembali menyerang. 


Melihat keceriaan Danendra tanpa rasa malu, membuat Adeline menggeleng tidak percaya. "Katanya penguasa dingin sedingin kulkas, tapi sifatnya seperti anak kecil kalau di depanku," cibir Adeline. 


Tanpa di sadari oleh Adeline, wanita itu sebenarnya sudah jatuh hati dengan pesona suami berondongnya itu. Namun, hingga saat ini dia pun tidak menyadari ataupun mau mengakuinya. Seperti apapun perasaannya saat ini terhadap Danendra, janin yang berkembang di rahimnya adalah bukti bahwa mereka saling terikat dan saling memiliki satu sama lain. 


"Semoga tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan kita, Nendra. Jadilah papa yang baik untuknya," gumam Adeline seraya meraba perut ratanya. 

__ADS_1


__ADS_2