
"Papa," lirih Adeline dengan suara bergetar hebat.
Pada saat yang bersamaan Danendra baru saja masuk ke ruang perawatan sang istri. Pria itu langsung berlari mendekat saat melihat istrinya akan turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana?" tanya Danendra khawatir.
"Aku harus cari papa, Nendra."
Danendra terdiam saat istrinya membahas tentang pria merupakan ayah kandung sang istri. Laki-laki itu tentu saja sudah mengetahui tentang kabar tersebut. Tidak hanya itu saja, Danendra bahkan mengutus separuh dari anggotanya untuk ikut melakukan pencarian.
"Sayang, kamu masih harus istirahat," ujar Danendra ketika sang istri terus berontak dari dekapannya.
"Aku baik-baik saja. Papa pasti menungguku, Nendra. Papa pasti ingin aku yang mencarinya," ucap Adeline sedikit histeris.
"Hey, dengarkan aku. Mereka sedang mencari papa. Kamu tidak perlu khawatir, papa pasti baik-baik saja."
"Enggak, Nendra. Aku harus mencari papa sendiri," ujar Adeline tetap tidak mau mengalah.
Pada akhirnya Danendra terpaksa mengantarkan sang istri ke lokasi kejadian. Adeline menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami saat melihat mobil miliknya yang sudah di evakuasi dalam keadaan ringsek parah.
"Nendra, papa dimana?" tanya Adeline dengan tangisannya.
"Sabar, Sayang. Mereka masih mencari keberadaan papa. Separuh dari anggota ALF juga sudah terjun agar pencarian semakin cepat menemukan titik terang." Danendra berusaha menenangkan sang istri.
Adeline menatap ke segala arah. Jurang yang cukup dalam itu di penuhi semak belukar. Entah kenapa dan untuk apa sang ayah melewati jalan yang jauh dari kawasan kota tersebut. Rasa sesal karena sempat melawan dan menolak permintaan maaf sang ayah kembali menyeruak di dada wanita hamil muda itu.
Sejahat apapun Antonio, dia sangat mencintai laki-laki pertama di kehidupan selain sang kakek sebelum dia merasakan jatuh cinta pada orang yang salah dan akhirnya berlabuh pada Danendra. Sampai kapanpun, Antonio Abraham adalah cinta sejatinya.
Dikarenakan jurang yang begitu curam dan berbahaya membuat Adeline hanya bisa menunggu di atas. Wanita hamil itu sempat memaksa untuk ikut turun, tetapi Danendra dan beberapa petugas tidak mengizinkan. Mereka takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Elin," panggil seseorang dari belakang.
Ketika Adeline dan Danendra menoleh ternyata Silvia, Nabila, dan Alefosio sedang berjalan ke arahnya. Wajah mereka terlihat khawatir kepada wanita hamil itu, terbukti Silvia dan Nabila langsung mendekap erat Adeline ke dalam pelukan mereka.
Nabila mengelus punggung bergetar sang putri. Dia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah dalam kehidupannya. Dia sendiri bahkan baru saja merasakannya.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Papa pasti akan segera ditemukan," ujar Nabila menenangkan sang putri.
Dari arah belakang tiba-tiba ada seseorang yang menarik Adeline dengan sangat kuat. Orang tersebut bahkan melayangkan tamparan keras di pipi mulus Adeline hingga membekas kemerahan.
Danendra tentu saja terkejut karena tidak sempat melindungi istrinya. Laki-laki itu mengepalkan tangannya saat melihat seorang wanita yang sudah berani menampar istrinya. Danendra maju dan langsung mengamankan sang istri dari wanita yang hendak kembali menyerang Adeline.
Dengan gerakan cepat Danendra menahan tangan yang sudah melayang ke udara tersebut dan mengibaskannya dengan sangat kuat.
"Jangan berani menyentuh istriku lagi!" bentak Danendra emosi.
"Anak si*lan. Ini semua terjadi karena ulahmu, anak pembawa sial." Monica memaki Adeline tanpa rasa malu.
Silvia kini maju, wanita yang merupakan mertua Adeline itu merasa tidak terima karena melihat dengan mata kepalanya sendiri sang menantu di aniaya. Tanpa basa-basi, Silvia membalas tamparan keras di pipi Monica. Tamparan mereka jelas berbeda, walau bagaimanapun Silvia pernah belajar bela diri, tentu saja tenaganya lebih kuat dari pada Monica. Satu tamparan yang dilayangkan oleh Silvia bagaikan 10 tamparan yang di lakukan oleh orang lain. Terbukti saat ini sudut bibir Monica pecah dan mengeluarkan darah.
"Besan kurang ajar!" maki Monica tidak terima.
"Cukup, Ma. Jangan membuat keributan. Elin mohon, kalau mama benci pada Elin, tidak apa-apa. Elin terima," mohon Adeline kepada istri ayahnya.
"Ini semua gara-gara kamu. Kalau terjadi apa-apa pada dia. Kamu harus membayarnya dengan nyawa kamu, Elin!" seru Monica garang.
"Nyonya, anda bisa diam sendiri, atau mau saya bantu anda untuk diam?" tanya Alefosio yang akhirnya mengeluarkan suara.
Beberapa saat menunggu, Adeline masih berada di pelukan sang suami karena Danendra sama sekali tidak ingin kecolongan lagi. Laki-laki muda itu tidak mau jika ada seseorang yang mencelakai istrinya.
Harapan Adeline kini tinggalah harapan saja. Wanita itu luruh ke tanah saat melihat tim SAR dan Zico, sang adik yang naik ke atas dengan mengangkat kantong jenazah.
"Papa!" teriak Adeline dengan sangat keras.
Danendra masih berusaha menenangkan sang istri yang terlihat begitu terpukul atas apa yang di saksikan saat ini.
Tidak jauh berbeda, Monica juga menatap kantong jenazah yang dibawa oleh tim pencarian dan sang putra. Wanita yang sudah menemani sang suami selama puluhan tahun itu merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan dengan kedua matanya sendiri.
"Papa!" teriak Adeline histeris.
Wanita hamil itu berusaha berdiri meskipun kakinya terasa sangat lemas. Dengan bantuan sang suami yang memapahnya, Adeline mendekati kantong jenazah yang menjadi pembungkus tubuh tidak bernyawa sang ayah.
__ADS_1
Adeline menabrakkan dirinya ke kantong yang kini sudah di buka oleh tim evakuasi. Air mata sudah berderai di pipi mulus wanita hamil itu saat melihat sang ayah sudah lemas tidak bernyawa dengan sekujur tubuh yang dipenuhi darah.
Monica bukannya mendekati tubuh sang suami yang sudah terbujur tanpa nyawa itu justru kembali menyerang Adeline. Wanita yang menjadi istri sah satu-satunya Antonio itu menganggap kejadian yang dialami oleh sang suami dikarenakan oleh Adeline. Laki-laki itu kecelakaan juga menggunakan mobil Adeline.
Ketika Monica berniat menjambak rambut Adeline, Danendra dengan sigap menghalangi. Laki-laki itu tanpa rasa belas kasih langsung mencekik leher mertuanya dengan sekuat tenaga. Wanita paruh baya itu bahkan sampai kesulitan bernapas.
Zico yang melihat sang ibu dicekik oleh kakak iparnya pun langsung maju. Pria muda itu berusaha melepaskan tangan kakak iparnya yang melingkar erat di leher sang ibu.
"Kak, lepasin. Kakak menyakiti mama!" seru Zico tetap berusaha melepaskan tangan kakak iparnya.
Danendra benar-benar tidak peduli dengan permohonan Zico. Laki-laki itu tetap mencekik leher wanita yang berulang kali berniat mencelakai istrinya. Hingga teriakan Adeline akhirnya memaksa dia untuk melepaskan wanita paruh baya yang hampir bertemu dengan aj*lnya tersebut.
Monica terbatuk saat Danendra melepaskan cekikikannya. Tanpa rasa bersalah, Danendra kembali mendekap istrinya yang masih menangisi jasad sang ayah.
"Adel, lebih baik kita segera pulang."
Adeline menggeleng menolak ajakan sang suami. Wanita hamil itu justru memeluk tubuh tidak bernyawa sang ayah. Tidak peduli jika pakaiannya kini sudah ikut berlumuran darah.
"Papa, kenapa papa pergi secepat ini? Elin masih butuh papa," ujar Adeline seraya menyandarkan kepalanya di dada sang ayah.
"Sayang, ayo pulang." Danendra kembali mengajak sang istri karena mengkhawatirkan keadaan Adeline akan drop.
"Pa, bangun. Elin minta maaf, Elin sudah menjadi anak yang jahat untuk papa. Maafin Elin, Pa!" seru Adeline masih dengan deraian air mata.
Zico yang sudah berhasil mengamankan sang ibu kini mendekati kakaknya. Pria muda itu menepuk pelan bahu kakaknya lalu ikut memeluk jasad sang ayah.
"Kak, biarkan papa pergi dengan tenang. Sekarang, yang terpenting adalah kita doakan papa."
"Tapi, Zico … kakak sudah menjadi anak yang jahat kepada papa. Kakak anak durhaka, Zico," ujar Adeline menyesali perbuatannya.
"Tidak, Kak. Papa pasti bangga sama kakak. Kakak adalah anak terbaik papa. Kakak satu-satunya anak yang berhasil membantu papa ketika papa mengalami kesulitan. Jangan terlalu menyalahkan diri," ucap Zico dengan yakin.
"Zico, bawa papa pulang ke rumah kita!" perintah Monica dari jarak jauh, wanita paruh baya itu sedikit takut jika kembali mendapat serangan tidak terduga dari suami Adeline.
Benar saja, Danendra langsung menghadiahi wanita itu dengan tatapan tajamnya. Laki-laki itu semakin benci kepada wanita yang hanya memikirkan tentang harta tersebut.
__ADS_1
"Kalian tidak memiliki hak apapun untuk mendiskriminasi istriku. Semua harta yang kalian miliki, adalah milik istriku. Jika kau." Danendra menunjuk Monica dengan jemarinya.
"Berani menghalangiku istriku untuk merawat ayahnya untuk terakhir kalinya, aku akan mengambil alih semua harta kalian saat ini juga!" tekan Danendra dengan ancaman tidak main-main.