
"Mam, sebenarnya yang minta rahasiakan pernikahan kita itu aku, Mam. Waktu itu aku kira musuh papa yang ngejar-ngejar aku, makanya aku enggak mau kalau kalian terkena masalah gara-gara aku," ungkap Rihanna meluruskan penilaian mertuanya tadi.
"Hm, ya sudah. Kalau begitu kita lakukan saja apa yang sudah direncanakan Malik untuk menggelar pesta resepsi pernikahan kalian Minggu ini, Sayang. Lebih cepat lebih baik," saran Riani.
"Mama setuju, Sayang. Tidak perlu diundur lagi. Mama juga pengen lihat kamu di atas pelaminan," tutur Nabila yang dulu tidak memiliki kesempatan menyaksikan pernikahan sang putri.
"Tapi kita belum bikin persiapan apapun, Mam."
"Kamu enggak perlu pikirkan itu, semua jadi urusan mami. Yang penting kamu jaga kesehatan kamu dan calon cucu mami saja."
"Kakak juga akan bantu urus persiapannya," sela Adeline.
"Em, baiklah kalau begitu. Gimana baiknya menurut kalian aja," tukasnya tanpa bantahan.
"Dek, ikut kakak, yuk!" ajak Adeline saat pembicaraan mereka sudah selesai.
"Ke mana, Kak?" tanya Rihanna.
"Ikut aja. Kakak punya hadiah untuk kamu," kata Adeline, sambil menarik pelan tangan sang adik.
"Hati-hati, Elin." Nabila berteriak mengingatkan saat sang putri sulung membawa pergi putri bungsunya.
"Biarkan saja, Kak Bila. Elin pasti bisa jagain adiknya, kok! Dia itu anak yang baik," ujar Riani.
"Hm, panggil saya Nabila saja, usia kita juga tidak berbeda jauh."
__ADS_1
"Ah, iya, Nabila. Em, gara-gara ngomongin resepsi sampai lupa ngajak besan duduk. Ayo duduk dulu, Bila!" ajak Riani.
Keduanya berjalan berdampingan menuju sofa, lalu duduk di sana. Kini di ruangan itu hanya ada dua wanita paruh baya yang sama-sama menyayangi Rihanna dengan sepenuh hati.
"Riani, terima kasih." Nabila berkata setelah mereka duduk di satu sofa yang sama.
Kedua alis Riani bertaut sehingga otomatis menciptakan kerutan di kening wanita cantik berkerudung putih itu. "Terima kasih untuk apa, Nabila?" tanyanya.
"Terima kasih karena kamu sudah memperlakukan putriku dengan baik. Dia beruntung memiliki mertua seperti kamu. Saya bisa merasakan betapa besarnya kasih sayang yang kamu curahkan padanya. Kasih sayang yang sejak dulu tidak pernah Rihanna dapatkan meski dari saya, – ibu kandungnya sekalipun."
"Aku menganggapnya bukan sebagai menantu, Bila. Dia putriku juga, putri yang harus aku jaga dengan baik. Kasih sayang yang aku berikan padanya, tidak akan pernah bisa membalas perjuangan dia mengandung keturunan kami," ungkap Riani tulus.
"Iya, Riani, aku dapat merasakan bagaimana kamu menyayanginya dengan tulus. Saya bahkan malu karena sebagai seorang ibu, saya telah gagal."
"Kamu tidak gagal, Bila. Masih ada waktu untuk kamu memperbaiki semuanya," balas Riani.
"Kenapa, Na? Kakak enggak akan jahatin kamu, kok!"
"Em, bukan itu, Kak. Aku ngerti kakak enggak mungkin jahat, apa lagi sama aku. Kakak itu manusia paling baik yang aku kenal. Walaupun dulu aku sering jahat ke kakak, kakak enggak mungkin balas dendam."
"Terus, kenapa enggak mau masuk?"
"Kakak mau ajak aku pergi dari rumah?"
"Iya," jawab Adeline.
__ADS_1
"Kalau begitu aku harus minta izin ke suami dulu."
"Tapi mami kan udah tahu kalau aku yang ajak, Na. Nanti paling mami bilang ke Malik," ucap Adeline yang membuat Rihanna menggeleng.
"Bukan itu masalahnya, Kak. Tapi setiap istri memang wajib meminta izin kepada suaminya kalau mau keluar dari rumah. Aku enggak mau Allah murka dan para malaikat mengutuk setiap langkahku," ungkap Rihanna.
"Kakak lihat kamu semakin patuh ya, Na. Kamu banyak berubah setelah menjadi istri Malik," ujar Adeline mengutarakan penilaiannya.
"Rihanna hanya tidak mau menyesal, Kak. Aku enggak mau menyia-nyiakan waktu, kasih sayang, dan cinta tulus yang Malik berikan ke aku," tuturnya jujur.
"Jadi apakah sekarang kamu sudah mencintainya, Na?" tanya Adeline memerhatikan ekspresi wajah adiknya yang tiba-tiba merona.
"Aku masih belajar untuk terus membalas apa yang dia berikan, Kak. Aku tahu bagaimana rasanya ketika kita berjuang dan tidak mendapatkan feedback yang baik dari orang yang kita perjuangkan."
"Kamu menyesal karena pernah mengejar Danendra?" tanya Adeline yang paham ke mana arah bicara adiknya.
"Bukan menyesal, Kak. Aku hanya merasa bodoh karena terlalu menuruti egoku. Sekarang aku sadar, perasaanku terhadap Kak Nendra, itu hanyalah sebuah obsesi saja. Sebenarnya cintaku sudah dimiliki Malik sejak aku masih kecil," ungkap Rihanna, pikirannya kembali ke masa saat pertama kali bertemu dengan sosok pelindung yang menyelamatkannya dulu.
"Maksud kamu? Bukankah kalian baru mengenal beberapa bulan ini?" tanya Adeline heran.
"Tidak, Kak. Aku dan Malik sudah bertemu dan saling menaruh hati sejak kami masih kecil. Saat itu Malik yang menyelamatkan aku ketika tenggelam di danau akibat ulah musuh papa," terang Rihanna tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Rihanna menceritakan bagaimana terjadinya pertemuan itu kepada Adeline. Wanita beranak satu itu mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar cerita sang adik.
"Kalau dulu kamu memang sudah menaruh hati pada Malik, kenapa kamu mengejar Danendra sampai separah itu, Na. Kamu bahkan tidak ragu menjelma sebagai ulat keket yang berniat menjadi pelakor?"
__ADS_1