
"Maafkan aku, Kayla. Aku tidak bisa menepati janjiku padamu," sesal Malik sambil menatap nanar pintu kamarnya.
Laki-laki itu bergegas bangun lalu berjalan lesu menuju kamar mandi. Jika umumnya pengantin baru yang sudah melakukan malam pertama akan merasakan kehabagiaan, tidak dengan yang dirasakan oleh Malik. Dia justru merasa sangat bersalah kepada istri yang terpaksa menerima pinangannya.
Malik buru-buru membersihkan dirinya dan tidak memerlukan waktu yang lama dia segera keluar dari kamar mandi setelah mandi dengan asal-asalan. Pikirannya saat ini sedang kacau. Malik takut, jika saat dirinya bertemu dengan Rihanna. Istrinya itu pasti akan menuntut perjanjian yang telah dia langgar semalam.
Jika biasanya Malik sangat memperhatikan penampilannya ketika berangkat ke kantor, tidak untuk sekarang. Laki-laki itu mengambil kemeja secara acak, begitupun dengan celana, dasi, serta jas yang akan membalut tubuh kekar itu.
"Lebih baik aku segera berangkat. Biarkan Kayla menenangkan diri di kamarnya. Aku tidak akan mengganggunya, jujur saja. Aku belum memiliki keberanian untuk mengakui kesalahanku semalam."
Malik bergegas keluar setelah memakai jas. Laki-laki itu berjalan dengan terburu-buru ketika sudah memastikan tidak ada istrinya di luar sana. Saat Malik membuka pintu apartemen, laki-laki gagah itu sedikit terkejut karena ada seseorang berdiri di luar pintu. Terlihat orang tersebut hendak menekan bel pintu. Namun, urung dilakukan karena Malik sudah lebih dulu membukanya.
"Maaf, saya tidak memesan apapun pagi ini," ucap Malik kepada orang yang merupakan pengantar makanan.
"Aku yang pesan." Rihanna berteriak sambil berlari mendekat.
Malik langsung menundukkan kepalanya saat sang istri berdiri tepat di sampingnya. Laki-laki itu benar-benar takut jika wanita yang baru saja dinikahinya akan mengamuk karena permasalahan semalam. Namun, Rihanna bersikap biasa saja. Seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka.
"Malik, berikan aku uang cash!"
"Ah, ini."
Malik tidak memberikan uang cash seperti yang dipinta oleh Rihanna. Laki-laki itu justru memberikan dompet miliknya beserta segala isi di dalam. Rihanna menggeleng pelan lalu mengambil uang di dalam dompet tersebut.
"Terima kasih," ujar Rihanna kepada pengantar makanan setelah memberikan uang untuk membayar pesanannya.
"Sama-sama, Nona. Terima kasih atas orderannya." Pengantar makanan itu pergi meninggalkan pelanggannya.
Rihanna sempat melirik ke samping, tempat di mana sang suami berdiri dengan pandangan mengarah ke lantai. Wanita itu kembali menyodorkan dompet milik Malik yang langsung diterima oleh sang pemilik.
"Kamu mau terus-terusan berdiri di sana? Apa perutmu itu tidak lapar?"
__ADS_1
Rihanna berteriak saat Malik belum juga menyusulnya ke dapur. Padahal, Rihanna sudah menyajikan makanan pesanannya ke dalam piring. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rihanna ketika di mansion pribadi ayahnya.
Malik tersentak setelah mendengar teriakan sang istri. Dia terburu-buru berjalan ke dapur. Namun, masih dengan pandangan menunduk ke bawah. Melihat reaksi Malik, Rihanna mendengus kesal.
"Ada apa, sih, bawah sana? Kamu sampai lebih memilih memandang lantai dari pada istrimu sendiri!" bentak Rihanna jengah.
"Ma-af." Malik menarik kursi lalu duduk di sana.
"Makan dulu sebelum bekerja. Maaf, aku tidak bisa melayani kamu seperti istri-istri di luar sana. Aku tidak bisa memasak." Rihanna mengulurkan piring berisi makanan untuk sang suami.
"Tidak apa-apa." Malik menerima pemberian Rihanna.
Kesal dengan sikap Malik yang benar-benar membuatnya canggung, Rihanna memutuskan untuk tidak memperdulikan sang suami. Wanita itu segera menyantap makanannya. Malik pun melakukan hal yang sama. Tanpa sengaja Rihanna melihat area leher Malik yang terdapat noda merah.
"Astaga. Ternyata seganas itu aku semalam!" pekiknya dalam hati dengan mata melotot.
Mereka memang pasangan yang aneh. Keduanya sama-sama sadar bahwa mereka sudah melakukan hubungan intim, tetapi mereka sama-sama bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya sikap Malik saja yang berubah menjadi lebih takut kepada sang istri.
"Aku sudah selesai. Terima kasih sarapannya. Oh iya, ini untukmu." Malik mengambil sesuatu dari dompetnya lalu mendorong benda berbentuk pipih berwarna hitam ke hadapan sang istri.
"Ini, untuk apa?" tanya Rihanna belum mengambil barang pemberian Malik.
"Untuk keperluan rumah tangga kita. Beli apapun yang memang kita butuhkan. Ingat ya, beli sesuai kebutuhan, jangan sesuai keinginan."
"Dia benar-benar pelit. Entah bagaimana bisa aku mendapat suami sepertinya!" gerutu Rihanna lirih.
"Aku tidak pelit. Kita harus berhemat agar tidak hidup susah!" tekan Malik sebelum bangkit dari duduknya.
Sebenarnya peraturan itu bukan berasal dari Malik. Hal itu adalah permintaan ayah kandung Rihanna sendiri yang memintanya untuk mengajari Rihanna hidup sederhana. Rocky tidak ingin putrinya terus terjebak oleh kehidupan mewah hingga melakukan apapun sesuka hati tanpa memikirkan dampak buruknya.
Malik bergegas keluar dari apartemen. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya di pintu sambil memejamkan matanya. Dia berusaha mengendalikan napasnya yang sejak tadi tidak terkontrol. Walau bagaimanapun, kegiatan semalam benar-benar mengganggu pikiran dan hatinya.
__ADS_1
"Maaf, Kayla. Aku benar-benar minta maaf."
Meski Rihanna juga sama sekali tidak membahas perkara itu, akan tetapi Malik belum bisa bernapas lega. Suatu hari nanti, ketika Rihanna sadar, istrinya itu pasti tidak akan bisa menerima kenyataan tersebut. Terlebih lagi Rihanna belum berhasil menghapus nama Danendra dari hatinya.
Dering ponsel yang berasal dari sakunya mengejutkan Malik. Laki-laki tampan nan gagah itu segera merogoh saku celana untuk mengambil benda canggih itu. Ketika melihat nama yang tertera, Malik segera menerima panggilan tersebut.
"Mami!" pekik Malik dengan suara manjanya.
Sang penelepon justru tertawa terbahak-bahak saat mendengar sang putra memekik dengan nada manja. Sudah lama sekali Malik tidak pernah bersikap seperti ini, dan Riani rindu pada fenomena langka itu.
"Mami Mengerjaiku, yah!" pekik Malik sekali lagi.
"Ada apa, Sayang?" tanya Riani pura-pura tidak paham.
"Mami memberikan ramuan anu pada Kayla, 'kan?"
"Ramuan anu, apa maksudnya?" tanyanya sambil menahan tawa.
"Mami. Malik serius!"
Lagi, terdengar kekehan kecil dari seberang sana. Malik semakin yakin bahwa apa yang terjadi semalam memang ulah ibu kandungnya yang memang memiliki sifat usil bin jahil.
"Kenapa, Malik? Bukankah enak?"
"Mami!"
"Sayang. Maksud mami baik, kok! Mami cuma ingin segera menimang cucu. Lagi pula kalian sudah menikah, tidak ada salahnya melakukan hal itu. Gimana semalam, pasti hot, 'kan?"
"Mami benar-benar kurang kerjaan. Sudahlah! Malik mau kerja." Laki-laki itu merasa sangat kesal kepada ibunya, tanpa ba-bi-bu dia segera mengakhiri sambungan telepon.
Malik mendengus kesal lalu memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula. Dia mengayunkan langkah pergi dari unit apartment miliknya. Tanpa di sadari oleh Malik, sebenernya Rihanna mendengarkan obrolan Malik lewat telepon tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak menyalahkan kamu, Malik. Kita sama-sama korban. Yang terpenting, setelah ini jangan pernah lakukan lagi hal itu. Aku sama sekali tidak berharap apapun padamu," gumam Rihanna menyandarkan punggungnya di balik pintu.