Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Penyesalan


__ADS_3

Selama berbulan-bulan Rocky menunggu saat yang tepat untuk menemui perempuan pujaannya. Pria itu tidak ingin membuat si perempuan yang ternyata bernama Nabila itu berpikir buruk tentangnya. 


Rocky mengatur rencana dengan baik seolah dia datang di saat perempuan itu sedang terpuruk setelah kehilangan sang putra yang bahkan belum dilihat olehnya. 


Semenjak berita meninggalnya sang putra, Nabila semakin menutup diri. Perempuan itu lebih suka menghabiskan waktu dengan duduk sendirian di sebuah taman. 


Nabila menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Rasa sedih setelah kehilangan bayi yang dia perjuangkan dengan bertaruh nyawa belum juga hilang. Semakin hari bahkan semakin terasa menyakitkan. 


"Kenapa kamu pergi, Nak? Apakah kamu tidak percaya bahwa mama bisa membesarkan kamu tanpa papa?" gumamnya penuh sesal. 


Dari kejauhan Rocky memperhatikan apa saja yang di lakukan oleh Nabila. Sejak datang ke tempat itu hingga menjelang sore hari, Rocky belum juga beranjak dari tempatnya. Pria itu merasa masih perlu mengawasi sang perempuan tercinta. 


Rocky maju dua langkah, tetapi kembali mundur ke tempatnya saat keraguan itu hadir. Dia belum yakin bahwa kehadirannya dapat di terima dengan baik oleh Nabila. 


"Sampai kapan aku hanya dapat memandangnya dari kejauhan kalau aku selalu menuruti keraguan ini?" tanyanya pada diri sendiri. Dia menjambak kasar rambut ikalnya. 


Meski berat untuk melangkah maju, tetapi pria itu tetap memaksa diri untuk mengayunkan kaki menuju ke arah seorang perempuan yang masih terlihat sedih itu. 


Deheman kecil yang dilakukan Rocky membuyarkan lamunan Nabila. Perempuan itu menoleh ke samping, tepat di mana seorang pria berdiri dengan menatap ke arahnya. 


"Boleh saya ikut duduk di sini?" tanya Rocky dengan suara lembut. 


Nabila mengangguk kecil meski sebenarnya dia takut. Terakhir kali dia merespon baik seorang pria justru menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri. Namun, Nabila sadar, dia tidak bisa menyamaratakan semua individu. 


"Silahkan," jawab Nabila dengan sedikit menggeser tubuhnya. 


Rocky mendaratkan bokongnya di ruang kosong di kursi panjang yang diduduki oleh Nabila. Pria itu sekilas menatap Nabila yang sepertinya sedang merasa gelisah. 


"Saya sering melihat kamu di tempat ini sendirian. Apakah ada seseorang yang kamu tunggu?" tanya Rocky memulai pembicaraan. 


Gelengan pelan dilakukan Nabila sebagai jawaban. Perempuan itu terlihat terus menunduk dan memainkan jari jemari tangannya satu sama lain. 


"Kamu kenapa, takut padaku?" tanya Rocky dengan kekehan kecil. 

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Saya hanya belum terbiasa dekat dengan seorang pria," jelas Nabila dengan suara gugup. 


"Oh, boleh aku tahu namamu?" tanya Rocky lagi sambil mengulurkan tangan. 


"Saya Nabila, Tuan." 


Uluran tangan Rocky menggantung di udara karena tidak dibalas oleh Nabila. Pada akhirnya Rocky menurunkan tangannya dengan perasaan sedikit kesal. 


"Susah sekali mendekatinya," batin Rocky dalam hati. 


"Saya Rocky Ariansyah, panggil saja Rocky." 


"Baik, Tuan."


Sikap Nabila yang masih sangat kaku membuat Rocky juga kebingungan. Pria itu juga belum pernah melakukan pendekatan lebih dulu dengan seorang perempuan. Dulu, ketika dia menikah dengan istri pertamanya juga hanya karena perjodohan yang diatur oleh sang nenek. 


"Sepertinya hari sudah sore. Kamu belum mau pulang?" 


Belum juga Nabila menjawab pertanyaan Rocky. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat, hal itu tentu saja membuat kedua orang itu kalang kabut. Mereka berdua berlari untuk mencari tempat berteduh. 


Mereka berdua berlari menuju sebuah pondok kecil yang terletak di pinggir jalan raya. Nabila memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya saat merasakan hawa dingin yang menembus tulang-tulangnya. Apa yang dilakukan Nabila tidak terlewatkan dari perhatian Rocky.


"Kau kedinginan, Nabila. Pakailah jas ini agar terasa lebih hangat!" perintah Rocky sambil mengulurkan jas miliknya. 


Nabila memandang jas di tangan Rocky. Perempuan itu masih ragu untuk menerima kebaikan dari pria asing. Terlebih lagi bayang-bayang masa kelam itu belum juga berhasil dia hapus dari ingatan. 


Rocky memakaikan jas miliknya di tubuh Nabila karena tahu bahwa perempuan itu masih enggan menerima niat baiknya tersebut. Nabila tentu saja terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria yang baru dikenalnya itu. Tidak lama berselang, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. 


Seorang sopir yang mengenakan seragam hitam keluar dengan membawa payung lalu berlari menuju pondok yang terdapat dua orang di sana. 


"Maaf, saya terlambat, Tuan."


Rocky tidak menjawab hanya pandangan berpindah ke arah Nabila. "Mari, biar ku antar kau ke rumahmu. Tenang saja, jangan takut. Aku bukan orang jahat," ujar Rocky yang paham bahwa Nabila akan menolak ajakannya. 

__ADS_1


Hari semakin gelap dan hujan semakin deras.  Nabila tidak memiliki pilihan lain selain menerima ajakan dari pria asing di sampingnya. Rocky pun mengantarkan Nabila pulang ke rumahnya. 


Sejak saat itu mereka semakin dekat. Rocky sering kali mampir ke rumah Nabila ataupun mengajak perempuan itu untuk keluar sekedar jalan-jalan. Meski kedekatan mereka sudah terjalin hampir satu tahun, nyatanya Nabila hanya menganggap pria yang usianya terpaut lebih dari 10 tahun darinya itu. 


Rocky pernah mengutarakan perasaannya kepada Nabila. Namun, hanya penolakan yang didapatkan oleh pria dewasa itu. Hingga suatu hari, Nabila terkejut karena tiba-tiba sang ayah menyuruhnya untuk menikah dengan seseorang. 


"Tidak, Dad. Bila belum ingin menikah!" seru Nabila menolak. 


"Kamu harus menerima pernikahan ini, Bila. Jika tidak, nyawa daddy yang akan menjadi taruhannya. Kau ingin kehilangan daddy demi keegoisan kamu ini?" 


"Tapi, Dad, Bila … belum siap berumah tangga," ujar Nabila tetap dengan pendiriannya. 


"Sampai kapan kamu mau seperti ini, Bila? Tidak akan ada orang yang mau menerima masa lalumu seperti dia!" bentak Arnold dengan suara yang menggelegar. 


Nabila terdiam dengan kepala tertunduk saat sang ayah kembali mengingatkan tentang kejadian buruk dimasa lalunya itu. 


"Dengan atau tidaknya persetujuan darimu, kamu tetap akan menikah dengannya, Bila. Daddy tidak ingin m*ti konyol di tangannya," pungkas Arnold seraya melenggang pergi. 


Kini hari pernikahan itu terjadi. Nabila semakin terkejut saat tahu bahwa seseorang yang akan menikahinya adalah Rocky Ariansyah, teman yang selama setahun ini dekat dengannya. Pria yang dikenal baik olehnya itu ternyata tega memaksanya untuk menjadi istrinya. 


Setelah pernikahan mewah yang digelar di sebuah ballroom hotel selesai, Rocky membawa Nabila ke kamar pengantin mereka. Sementara itu, Nabila yang masih trauma dengan kejadian dimasa lalu menolak saat Rocky mengajaknya untuk menikmati malam pertama. 


Amarah atas penolakan Nabila saat itu saja belum sepenuhnya hilang, kini dia kembali mendapatkan penolakan dari wanita yang kini menjadi istrinya itu. Rocky yang dikuasai oleh emosi bukannya membujuk Nabila agar sang istri merasa tenang. Dia justru melakukan hubungan intim itu dengan cara pemaksaan dan kekerasan. 


Jiwa psikopatnya muncul saat malam pertamanya dengan Nabila. Trauma yang dialami oleh Nabila semakin parah sejak hari itu. Dia mengalami pem*rkosaan 2 kali oleh orang yang berbeda, tetapi dengan cara yang sama. 


Hal itulah yang menjadi titik awal kebencian Rocky terhadap Nabila. Pria itu menganggap bahwa Nabila adalah wanita yang tidak tahu diuntung. Sudah sangat baik nasibnya karena dia menerima kekurangan wanita itu, tetapi wanita itu justru menolaknya mentah-mentah. Padahal, Rocky tidak tahu bahwa Nabila menolak karena trauma atas kejadian itu belum sepenuhnya sembuh. 


"Aku tidak akan melepaskan kamu, Nabila. Tapi aku juga tidak akan pernah membuat kamu merasakan kebahagiaan!" tekad Rocky setelah menyelesaikan penyatuan paksa tersebut. 


Lampu yang tiba-tiba padam menarik kesadaran Rocky dari lamunan tentang masa lalu hubungannya dengan sang istri. Pria itu mengerjapkan kedua matanya dan sedikit mengusap sudut mata yang terasa sedikit basah. 


"Ternyata hidup tanpa kamu, aku merasakan sepi seperti ini, Sayang. Cepatlah sadar, aku akan menebus semua dosa-dosaku kepadamu," sesal Rocky seraya meraba potret wajah cantik sang istri di dalam ponselnya. 

__ADS_1


__ADS_2