
"Memangnya mami barusan bilang apa?" tanya Riani mencoba berkilah.
Malik masih memberikan tatapan menyelidik kepada sang ibu. Sejak awal dia memang sudah curiga, tetapi tidak mau menuduh tanpa bukti. Sekarang, wanita paruh baya itu justru keceplosan sendiri.
"Malik, jangan menuduh tanpa bukti, yah!" ancam sang ibu.
"Tanpa bukti? Bukankah barusan mami mengakuinya sendiri?"
"Mengakui apa? Mami tidak merasa ngomong apa-apa," kilah sang ibu yang merasa tidak enak karena mengerjai menantunya.
Riani sama sekali tidak tahu bahwa Rihanna juga meminum ramuan buatannya. Yang menjadi targetnya hanyalah Malik, tetapi siapa sangka jika ternyata ramuan itu sampai di minum oleh Rihanna juga. Jika saja pada malam itu Rihanna tidak meminum air ramuan sang mertua mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.
"Malik, tidak perlu membahas masalah itu!" tegur Rihanna yang merasa malu.
Malik mengangguk mengerti. Laki-laki itu akhirnya diam saja dengan perasaan canggung. Entah apa yang saat ini dirasakan oleh istrinya. Malik yang paham bahwa Rihanna belum mencintainya merasa tidak enak karena sudah membuat wanita cantik itu terpaksa mengandung benihnya.
Sementara itu, Riani justru terlihat bahagia. Wanita berkerudung biru muda itu berharap dengan kehamilan itu perlahan akan membuat sang menantu memiliki rasa terhadap Malik.
"Rihanna, karena sekarang kamu sedang hamil, lebih baik kalian pindah ke mansion saja, yah! Mami ingin sekali merawat kamu dan calon cucu mami."
"Tidak perlu, Mam. Aku ingin belajar hidup mandiri," tolak Rihanna dengan nada lembut.
Rihanna tidak ingin dengan tinggal bersama sang mertua akan semakin membuat dia susah menjaga jarak dengan Malik. Wanita hamil itu tidak ingin memiliki perasaan apapun terhadap laki-laki yang sudah menitipkan benih di rahimnya itu karena merasa Malik juga tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.
Sudah cukup dia merasakan sakit atas cinta yang bertepuk sebelah tangan kepada Danendra. Rihanna tidak mau lagi menjadi korban dari perasaan yang salah alamat. Sejak pernikahannya pun, Malik tidak pernah mengungkapkan apapun selain ucapan terpaksa menikahinya.
"Mami tidak sedang menawarkan, Sayang. Ini perintah dan kamu tidak diperkenankan untuk membantah!"
__ADS_1
"Tapi ... Rihanna tidak ingin merepotkan mami," ujarnya tetap berusaha menolak.
Riani menggelengkan kepalanya dengan senyum yang begitu menenangkan. Lewat senyum itu, Rihanna merasakan kedamaian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Jangan bantah keinginan mami, Sayang. Plis," mohon wanita lemah lembut itu seraya menangkupkan tangan di dada.
Permohonan yang dilakukan oleh sang mertua membuat Rihanna merasa tidak enak. Mertuanya itu sampai memohon hanya untuk memintanya tinggal bersama. Hal yang tidak pernah dia rasakan sejak kecil oleh kedua orang tuanya.
"Baiklah, Mam. Rihanna bersedia tinggal bersama mami," ujarnya menyetujui.
Raut wajah Riani memancarkan kebahagiaan tiada tara. Jika tinggal di atap yang sama, tentu akan memudahkannya untuk menjaga serta memastikan rumah tangga anaknya akan semakin harmonis.
Sebagai seorang ibu, Riani tentu saja tidak ingin sang putra mengalami rumah tangganya berantakan. Dengan tinggal bersama, Riani akan memastikan akan tumbuh rasa cinta di antara anak dan menantunya.
"Terima kasih, Sayang." Saking bahagianya Riani sampai mendekap erat tubuh sang menantu.
Malik pun tersenyum lega setelah mendengar sendiri bahwa istrinya bersedia tinggal di mansion bersama orang tuanya. Sejak tahu kehamilan Rihanna, Malik sedikit bingung karena tidak mungkin dia meninggalkan sang istri di apartemen hanya bersama seorang pelayan saja.
Karena kondisi Rihanna sudah sadar dan tidak terjadi sesuatu yang buruk. Kandungannya pun dalam keadaan baik-baik saja, dokter pun mengizinkan Rihanna untuk pulang tanpa harus di rawat secara intensif. Hanya saja, dokter berpesan kepada keluarga agar lebih perhatian kepada Rihanna agar wanita hamil itu tidak lagi merasa tertekan.
"Tuan, karena kandungan Nyonya masih sangat muda, tolong jangan terlalu di forsir dalam hubungan intim, yah! Jika pun kalian ingin melakukannya lebih baik berhati-hati dan jangan terlalu berlebihan," ujar dokter berpesan.
Malik dan Rihanna seketika saling pandang. Namun, ketika tanpa sengaja kedua matanya bersitatap, keduanya kompak langsung menunduk. Riani yang paham tentang kondisi rumah tangga putranya hanya berusaha menahan tawanya. Wanita berkerudung itu yakin bahwa sang putra pasti baru merasakan kehangatan bersama istrinya pada malam itu.
"Tenang saja, Dok. Saya akan memastikan kalau putraku tidak akan membuat istrinya kelelahan," jawab Riani karena sang putra tidak kunjung menjawab.
Mereka pun akhirnya pulang ke mansion dengan dua mobil yang berbeda. Rihanna bersama kedua mertuanya dalam satu mobil, sedangkan Malik mengendarai mobilnya sendiri. Laki-laki itu tidak langsung ikut pulang ke mansion karena harus kembali ke apartemen lebih dulu untuk mengambil barang-barang pribadinya dan Rihanna yang masih tertinggal.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju apartemen, di mobilnya sendirian Malik tidak tahu tentang perasaannya saat ini. Harus bahagia atau justru bersedih. Di satu sisi tentu saja dia bahagia karena akan segera menjadi seorang ayah. Namun, di sisi lain dia juga merasa sedih. Keturunannya hadir saat pasangannya masih mencintai orang lain.
"Ya Tuhan, apakah ini jalan yang kau berikan? Dengan hadirnya calon buah hati, semoga Kayla akan sedikit menoleh pada hamba. Hamba janji akan menjaga dan mencintainya dengan tulus. Tidak akan hamba biarkan istri hamba bersedih," ujar Malik bersyukur pada Tuhan sang pencipta.
Begitu sampai di apartemen, Malik bergegas turun dari mobil. Laki-laki itu berjalan cepat masuk ke apartment. Saat berada di dalam, Malik mengedarkan pandangannya. Menatap setiap sudut ruangan yang akhir-akhir ini menjadi tempat tinggalnya bersama Rihanna.
"Tempat ini penuh kenangan. Meski hanya ada kedinginan dan ketidakmampuanku menjalani peran sebagai seorang suami. Semoga setelah pindah ke mansion, semua akan menjadi lebih baik," ucapnya penuh harap.
Malik buru-buru masuk ke kamar sang istri. Mengambil koper besar untuk mengemasi pakaian istrinya. Karena baru beberapa saat tinggal, barang-barang Rihanna memang tidak terlalu banyak. Setelah semua pakaian di lemari pindah ke dalam koper tampaklah sesuatu yang sejak tadi terletak di bagian bawah.
Tangan kekar itu menggapai sesuatu berbentuk persegi berukuran kecil. Penasaran dengan isinya, Malik pun membuka benda tersebut. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat sesuatu yang berada di dalam kotak kecil itu.
"Bukankah ini ... dari mana Kayla mendapatkan kalung ini?"
Malik terdiam dengan pikiran yang menerawang jauh ke masa lalu. Saat itu dia sedang berada di sebuah perkampungan ketika usianya masih sekitar tiga belas tahun untuk mengikuti kegiatan camping yang di adakan oleh sekolahnya.
Pada saat itu Malik yang memang lebih suka menyendiri memilih untuk duduk di pinggiran danau. Menikmati senja di tempat itu sendirian. Saat pandangannya sedang fokus pada senja yang hampir berubah warna tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara sesuatu yang jatuh ke dalam perairan.
"Tolong!" Suara itu semakin membuat bocah berusia tiga belas tahun itu berlari menuju sumber suara.
Malik melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang bocah perempuan kira-kira berusia sepuluh tahun berada di dalam air. Tangannya terangkat ke atas seperti sedang berusaha menggapai sesuatu. Malik yang panik, tanpa pikir panjang langsung menceburkan diri ke dalam danau yang cukup dalam itu untuk menolong bocah perempuan yang sedang dalam ambang antara hidup dan mati.
Suara dering ponsel mengejutkan Malik yang sedang mengingat masa kecilnya. Laki-laki kekar itu mengerjap lalu dengan cepat menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Apa, Mam?"
"Jangan lama-lama. Kalau sampai siang nanti belum sampai, mami akan panggilkan Nendra untuk mengurus istrimu!"
__ADS_1
"Aku segera sampai."
Malik memasukkan barang yang dia temukan di lemari sang istri ke dalam kantong celananya. Dia masih ingin memastikan apakah barang tersebut memang benar kalung yang berhubungan dengan masa kecilnya dulu.