
Seorang pria bertubuh tegap, kekar, dan tinggi sedang berdiri di depan beberapa anggotanya yang sudah terkapar tak bernyawa. Garis rahangnya yang tegas mengeras sempurna ketika amarah datang berkuasa. Dia merasa telah direndahkan oleh orang yang sudah membunuh serta mengirimkan para mayat itu ke markasnya.
"Tuan –"
Seseorang yang sedang berniat mengucapkan sesuatu terpaksa berhenti saat si pria mengangkat tangannya sebagai tanda bahwa ia sedang tidak ingin mendengar apapun dari anak buahnya.
"Harga diri Dark Blood sudah dihina oleh anak ingusan itu. Aku benar-benar tidak terima!" Pria itu berkata dengan nada tinggi, semua anak buahnya hanya bisa diam tanpa mengeluarkan suara, bahkan untuk bernapas pun mereka melakukannya dengan sangat hati-hati.
Belum juga usai dengan perkara mayat-mayat anggota yang dikirim ke markas, sudah di susul dengan perkara lain yang tidak kalah menguji emosi. Seorang anggota yang bertugas sebagai seorang hacker tiba-tiba berlari keluar dengan membawa tab miliknya.
"Tuan, coba anda lihat Vidio ini." Si hacker menyerahkan tab miliknya yang sedang memutar sebuah Vidio.
Vidio itu menampakkan bagaimana salah seorang anggotanya sedang tersiksa di dalam sebuah kolam ikan. Merasa sangat diremehkan oleh musuhnya, pria itu membanting tab milik anak buahnya sendiri.
"Sial! Ternyata anak ingusan Ale tidak bisa dipandang remeh. Dia terlalu kejam, bahkan Ale tidak ada apa-apanya dibandingkan putranya. Kita harus membuat rencana yang lebih matang."
Para anggota masih diam, mereka menunggu perintah dari pemimpinnya yang sedang tersulut api dendam yang kian membara.
"Kalian harus lebih berhati-hati pada Danendra. Aku tidak mau usahaku untuk membalas dendam gagal lagi!"
"Baik, Tuan," jawab para anggota serentak.
*****
Selesai memberi pelajaran pada pelaku yang mencelakai istrinya, Danendra kembali ke rumah sakit. Dia sudah terlalu lama meninggalkan istrinya di sana. Laki-laki itu langsung menuju ruang rawat sang istri yang ternyata ada orang tuanya yang sudah menemani Adeline.
Ketika masuk, Danendra langsung mendapat tatapan tidak biasa dari sang ayah. Laki-laki tua itu kesal karena sang putra pergi meninggalkan sang menantu terlalu lama. Padahal, seharusnya Danendra lah yang mengurus segala yang dibutuhkan oleh Adeline.
"Dari mana saja, Ndra?" tanya Ale curiga, dia memerhatikan sang putra yang sudah berganti pakaian.
"Pulang, Pa. Ganti baju, tadi kemejaku kan banyak darah," jawab Danendra seraya berjalan masuk.
Danendra mengalihkan pandangan ke arah brankar, sang istri ternyata sudah tidur pulas. Begitu juga dengan sang ibu yang juga tidur di sofa dengan posisi duduk.
"Papa kenapa enggak bawa mama untuk istirahat? Kasihan tidur kaya gitu, posisinya enggak nyaman, Pa," ucap Danendra yang langsung mendapat lemparan bantal dari Alefosio.
"Kau menyuruh kami meninggalkan Adeline sendirian di sini?" tanyanya geram.
"Kan ada pengawal di luar," jawabnya santai.
__ADS_1
"Papa tidak mungkin membiarkan menantu papa sendirian di sini. Ini semua salah kamu, Ndra. Istri sedang sakit, ngapain keluyuran? Kalau hanya mau ganti baju, kamu bisa perintahkan Gerry untuk membeli pakaian baru," sungut Alefosio.
Danendra berdecak, "Aku bukan hanya ganti pakaian, Pa. Aku juga memberi pelajaran untuk orang yang sudah mencelakai Adel," ucap Danendra menjelaskan.
"Jadi, kau apakan dia?" tanyanya, kedua mata tajam itu memicing.
"Enggak di apa-apain, cuma kenalin dia ke ikan peliharaanku saja," jawabnya tanpa beban.
"Astaga, Ndra. Sejak dulu, kau memang lebih suka menyiksa lebih dulu musuhmu. Kenapa tidak langsung habisi saja?"
"Tidak seru, Pa. Kalau dengan caraku, itu baru sepadan." Danendra menarik kursi di samping brankar sang istri lalu duduk di sana.
"Terserah kamu saja lah!"
"Mama Nabila sama Devan pulang ke mansion kan?" tanyanya saat menyadari bahwa kedua orang itu tidak ada di tempat.
"Kamu kan katanya dari mansion. Kenapa malah tanya ke papa?" tanya balik Alefosio.
"Enggak ada mama Nabila, Pa. Emang mereka pulang sejak kapan?" tanya Danendra lagi, seketika dia merasa khawatir.
"Loh, mereka udah pulang enggak lama sejak kamu pergi, Ndra. Masa belum sampai mansion."
"Coba kamu hubungi mertua kamu. Pastikan mereka baik-baik saja!"
Tanpa membuang masa, Danendra segera menghubungi sang mertua. Tiga kali percobaan nihil, Nabila tidak menjawab panggilannya.
"Enggak di angkat, Pa. Tapi nyambung, sih."
"Coba lagi!" perintah Alefosio tegas.
Danendra belum melakukan panggilan ke empat, tetapi sudah ada panggilan masuk yang berasal dari sang mertua. Dia buru-buru menerima panggilan tersebut.
"Mama di mana?" tanya Danendra begitu telepon tersambung.
'Di mansion,' jawab Nabila singkat.
"Tadi Nendra ke mansion kenapa kalian tidak ada?"
'Mama bawa Devan pulang ke mansion Om Rocky, Ndra. Bukan ke mansion besar papa kamu," balas Nabila.
__ADS_1
"Astaga, Mama. Kenapa enggak bilang dulu kalau mau ke mansion Om Rocky? Nendra sama papa khawatir, loh!"
'Maaf, Ndra. Mama pikir kami akan aman di sini.'
"Ya sudah, mama di sana saja. Nendra mau kirim beberapa pengawal buat jagain kalian," kata Danendra.
'Enggak usah, Ndra. Di sini sudah ada pengawal yang masih siaga, kok!'
"Maaf, Ma. Tapi Nendra enggak percaya mereka bisa melindungi mama dan Devan," ucap Danendra kekeh pada pendiriannya.
'Ya sudah, kirimkan saja beberapa anak buah kamu. Mama dan Devan di sini aman, kok!'
"Oke, Ma. Udah dulu. Nendra langsung perintahin para pengawal buat ke sana," tukas Danendra sebelum mengakhiri panggilan.
"Gimana, Ndra?" tanya Alefosio saat Danendra kembali memainkan ponselnya.
"Mama bawa Devan pulang ke mansion Om Rocky," jawabnya tanpa menoleh pada sang ayah.
"Oh, biarkan saja, Ndra. Untuk saat ini, tempat itu pasti lebih aman untuk Devan. Mansion kita pasti akan mendapat teror lebih parah setelah kamu mengibarkan bendera peperangan tadi," saran Alefosio yang sangat paham dengan peringati sang musuh.
"Tapi kita juga harus taruh beberapa pengawal di sana, Pa."
"Tidak perlu. Jika salah satu anggota ALF ada yang terlihat di sana, dia pasti akan curiga. Lebih baik untuk saat ini sembunyikan Devan di sana saja," larang Alefosio yang berpikir logis.
"Lalu aku dan Adel gimana?"
"Kalian bisa tinggal di sana juga," jawab Alefosio tanpa pikir panjang.
"Apa? Aku tinggal di mansion Om Rocky? Enggak mau." Danendra menolak mentah-mentah usul sang ayah.
"Terserah kamu, Ndra. Tapi menurut papa itulah yang terbaik," ujarnya seraya beranjak, laki-laki tua itu masuk ke kamar mandi.
"Enggak-enggak. Aku pasti bisa melindungi keluargaku sendiri. Kami tidak perlu bersembunyi di mana pun."
"Ndra, aku pikir usul papa ada benarnya juga. Izinkan aku dan Devan tinggal di sana saja, yah!" Suara Adeline tiba-tiba menyahut.
Danendra terkejut setelah mendengar sahutan sang istri. Dia menatap wanita tercinta yang masih memejamkan matanya.
"Kamu pura-pura tidur, yah!" seru Danendra menuduh.
__ADS_1