
"Kau g*la yah! Pagi-pagi sudah mau beraksi dengan pil setan itu. Minggir! Perutku sudah kelaparan." Adeline menyingkirkan tubuh sang suami lalu melenggang ke arah koper miliknya tergeletak.
Nendra justru mengekor pada sang istri. Pria itu merengek manja agar istrinya itu bersedia melakukan ritual pengantin baru saat ini juga. Sudah berbulan-bulan dia menahan hasrat untuk menyentuh tubuh molek itu. Namun, si perempuan seperti enggan menurut.
"Ayolah, Sayang. Kemarin kau bilang mau memberikannya saat kita sudah resmi, lalu sekarang apa lagi?" rengeknya seperti anak kecil yang merayu ibunya untuk memberikan mainan.
Adeline tetap meneruskan kegiatannya mencari pakaian untuk berganti dan bergegas turun ke bawah untuk menyantap sesuatu. Sudah sejak kemarin dia menahan lapar karena pernikahan mendadak yang terpaksa dijalani.
"Ayo, Sayang." Nendra dengan jahilnya menarik tali jubah mandi Adeline hingga terlepas, beruntung Adeline sigap menutup kembali agar tubuhnya itu tidak terpampang jelas.
Pelototan mata tajam Adeline hadiahkan untuk sang suami. "Kau mau membuatku m*ti kelaparan, yah! Tidak bisakah sabar sebentar. Kau pikir melakukan itu tidak membutuhkan tenaga?"
Wajah yang sempat lesu itu berbinar seketika. Ternyata sang istri bukan menolak keinginannya, akan tetapi meminta waktu untuk mengisi daya agar lebih kuat ketika bertarung dengannya.
"Baiklah, kita makan sebentar. Kamu pesan saja room servis."
"Tidak mau! Aku ingin melihat keadaan luar dulu." Adeline menolak dengan tegas.
Helaan napas berat keluar dari bibir tebal nendra. "Oke, Tapi setelah itu kau harus memberikan perlawanan yang sengit ya, Sayang." Nendra berbisik tepat di telinga Adeline hingga bulu kuduk perempuan itu meremang.
Pria itu langsung melarikan diri ke kamar mandi agar tidak tertinggal oleh sang istri. Dia yang biasa berendam di bathtub kali ini hanya membiarkan tubuh atletisnya diguyur air dari shower.
Setelah selesai membersihkan diri, dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi area pusar ke bawah. Tanpa rasa malu sedikitpun, dia melenggang ke tempat dimana pakaiannya tersimpan. Pria itu seakan tidak menganggap keberadaan sang istri yang tengah memoles wajahnya di depan cermin besar. Sementara Adeline menggeleng cepat dengan kelakuan absurt suaminya itu.
__ADS_1
"Dia bersikap seakan hanya sendirian di dalam kamar ini. Kalau handuk itu merosot, burungnya kabur tahu rasa." Adeline bergumam dengan suara lirih, akan tetapi suaranya tetap dapat di dengar oleh telinga tajam si suami.
Gumaman Adeline justru membangkitkan rasa jahil sang suami. Pria itu dengan sengaja berbalik lalu memanggil nama sang istri. Namun, ketika sang istri menoleh dia dengan cepat membuka handuk itu hingga burung yang sedikit bangun itu terpampang nyata di penglihatan sang istri.
"Ah … dasar pria m*sum!" Adeline menjerit serta langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan.
Gelak tawa terdengar memenuhi ruang kamar hotel. Danendra merasa puas karena berhasil mengerjai istrinya. Namun, rupanya cobaan Adeline tidak hanya sampai disitu saja.
"Sudah kututup, Sayang. Singkirkan kedua tanganmu itu."
Tanpa rasa curiga sedikitpun, Adeline menurut. Perempuan dewasa itu menyingkirkan kedua tangannya dari wajah lalu membuka matanya lebar-lebar. Seketika eriakan menggema di ruangan itu, beruntung kamar itu kedap suara, jadi tidak ada satupun orang yang dapat mendengarnya selain si penghuni. Adeline dengan cepat memejamkan matanya saat ternyata dia kembali di kerjai oleh suaminya. Pria g*la itu sama sekali tidak mengubah apapun, masih sama seperti semula dia mengerjai istrinya.
"Kau benar-benar sudah tidak waras, Nendra. Tutup sekarang atau kupotong habis menggunakan gunting rumput?" ancam Adeline yang masih tetap memejamkan mata.
Adeline mengintip dengan cara sedikit membuka kelopak matanya, dan membuka kedua matanya lebar saat sudah memastikan sang suami sudah benar-benar menutup sangkar burungnya.
"Tidak perlu bingung. Jika kau sudah tidak memiliki sisa sedikitpun, ya aku tinggal menikah lagi. Siapa yang akan menolak pesona janda rasa peraw*n sepertiku." Adeline dengan sengaja mengerjai suaminya.
Pria itu tidak menjawab, akan tetapi langsung berlari ke arahnya. Tanpa aba-aba dia menyerang bibir seksinya yang baru saja dia poles dengan lipstik merah menyala. Danendra sama sekali tidak membiarkannya berontak dengan menekan kuat-kuat tengkuk sang istri. Puas bermain dengan bibir seksi itu, Nendra kini beralih pada leher jenjang istrinya yang terlihat mulus tanpa noda.
Dengan buas Nendra bermain dengan leher sang istri. Memberikan gigitan kecil serta sesap*n penuh g*irah yang membuat sang istri tanpa sadar mengeluarkan suara anehnya. Ketika berhasil meninggalkan bekas kemerahan di leher mulus itu, barulah Nendra melepaskan sang istri dari serangannya.
"Jangan mend*sah, Sayang. Nanti aku tidak akan bisa menahannya lagi," ujarnya dengan suara lembut nan mendayu.
__ADS_1
Adeline yang semakin kesal melemparkan bedak miliknya ke arah sang suami yang sudah melenggang pergi.
Kini setelah rapi Adeline dan Danendra turun kebawah. Mereka memesan beberapa makanan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
Raut wajah Adeline masih terlipat karena rasa kesal akibat ulah suaminya yang menyerangnya tanpa ampun. Hingga makanan sudah tersaji di meja pun Adeline masih saja cemberut.
Nendra melirik sang istri dengan senyum nakal. "Masih memikirkan burung lagi?" sindirnya penuh kepuasan.
"Mau diam atau aku lemparkan steak ini ke wajahmu?" tawar Adeline yang semakin kesal.
Saat keduanya sedang sibuk menyantap hidangan di meja. Tiba-tiba ada seseorang yang tanpa permisi langsung duduk di samping Danendra. Tangannya juga tanpa malu melingkar di lengan si pria.
Nendra hanya menatap sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan seorang perempuan dengan pakaian minim bahan itu yang menempel padanya. Sedangkan Adeline melirik dengan rasa penasaran yang kini mendominasi.
"Baby, kamu tega sekali padaku," ujarnya dengan santai tanpa beban.
"Mau apa kau kemari?" Nendra tidak menjawab dan justru balik bertanya pada wanita itu.
"Tentu saja menyusul calon suamiku yang sedang main gila dengan perempuan lain," ujarnya sambil melirik Adeline dengan sinis.
"Maaf, Nona. Saya bukan wanita lain! Saya istri sah Danendra Alefosio. Jika kau tidak percaya boleh di cek statusku sekarang."
Wanita itu terlihat mulai emosi ketika mendengar Adeline ikut menimpali obrolannya dengan Nendra. Dia menatap tajam Adeline seakan bersiap menerkam mangsa. Namun, Adeline sama sekali tidak takut.
__ADS_1
"Sayang, aku memang pernah memberimu julukan daun muda. Tapi aku tidak rela jika daun Mudaku yang masih segar di lalap oleh ulat bulu jelek sepertinya?" Adeline kini beralih menatap sang suami dengan alis yang naik turun.