Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Datang


__ADS_3

Atas ide dan kesigapan Gerry sebagai sekretaris, laki-laki itu memutuskan untuk membuat pesta anniversary untuk kedua atasannya di mansion. Seluruh keluarga tentu saja tidak keberatan dengan cetusan ide dari tangan kanan Danendra tersebut. 


Melihat keduanya masih tertegun, Silvia dan Nabila akhirnya menghampiri Adeline dan Danendra. Masing-masing dari mereka memegang lengan menantunya untuk menyadarkan keduanya. 


Keduanya terkesiap ketika mendapat sentuhan lembut di lengan mereka. Seketika senyum kaku terbit dari bibir sepasang suami istri yang tengah bertengkar itu. 


"Selamat hari jadi pernikahan, Sayang," ujar Nabila seraya menatap anak serta menantunya bergantian. 


"Makasih, Mam. Tapi siapa yang siapin acara ini?" tanya Adeline heran, sebabnya dia sama sekali tidak tahu ada rencana seperti sekarang. 


Nabila dan Silvia tidak menjawab, tetapi mereka kompak menatap ke arah yang sama, yakni di mana Gerry tengah berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celananya. Laki-laki yang telah menjadi orang kepercayaan Danendra selama bertahun-tahun itu kini berjalan menghampiri sang atasan. 


"Gerr, ini semua rencanamu?" tanya Danendra setelah sang sekretaris berada tepat di hadapannya. 


"Ya, Bos! Saya tidak ingin anda dan Nyonya muda saling bertengkar akibat keteledoran saya," jawab Gerry sopan. 


Bukannya senang, Danendra justru memukul pelan perut asistennya tersebut. Gerry hanya menanggapi dengan kekehan. Ya meski sedikit terasa ngilu, tetapi setidaknya setelah ini tidak akan ada pertengkaran lagi.


"Kau kurang ajar sekali! Mempermalukan aku di depan para tamu." Danendra berbisik, jengkel atas ulah Gerry. 


Bagaimana tidak jengkel, Danendra saat ini tidak terlihat seperti sultan, justru terlihat seperti seorang pria tidak terurus. Pakaian yang berantakan, gaya rambut tidak beraturan, dan lagi wajahnya pun kusut karena sama sekali belum tersentuh air. Itu menurut Danendra, padahal nyatanya semua orang tetap memandang Danendra sama seperti biasanya. Gagah dan berwibawa. 


Lain dengan Danendra yang jengkel atas ulah sang sekretaris, Adeline justru merasa salut dengan kesigapan Gerry mengatasi permasalahan kecil yang saat ini terjadi di rumah tangganya. Sebagai seorang asisten, Gerry terlalu gesit dan berpemikiran luas. 

__ADS_1


"Terima kasih, Gerr. Andaikan aku belum menikah, mungkin aku akan lebih memilihmu untuk menjadi suamiku." Adeline dengan sengaja menyindir sang suami yang kini sudah berani meliriknya dengan tatapan sinis. 


"Sebelum itu terjadi, aku pasti sudah menghilangkan pusaka Gerry lebih dulu!" sungut Danendra tidak terima. 


"Sudah-sudah! Kalian ini selalu saja suka bertengkar. Ayo sapa para tamu!" Silvia yang jengah langsung melerai perdebatan tidak berfaedah itu. 


Danendra yang masih saja kesal berjalan seorang diri menuju panggung buatan yang terletak di tengah-tengah ruangan. Namun, baru saja beberapa langkah, laki-laki itu berbalik dan berjalan menuju tempat di mana dia meninggalkan sang istri. 


"Ngapain ke sini lagi?" tanya Adeline kesal. 


"Ini acara kita, bukan acaraku sendiri." Danendra tanpa basa-basi langsung menggandeng tangan istrinya. 


Tidak mau terlihat sedang bertengkar dengan suaminya, Adeline pun menuruti sang suami. Mereka berjalan ke arah panggung bersamaan. Danendra menggapai sebuah mic dengan tangan kirinya sedang tangan kanan tetap menggenggam erat tangan sang istri.


"Selamat pagi menjelang siang para tamu yang telah berkenan hadir di acara anniversary pernikahan kami. Saya Danendra Alefosio serta istri saya Adeline Griselda mengucapkan banyak sekali terima kasih. Untuk kalian, selamat menikmati jamuan dan acara yang telah disiapkan," ujar Danendra penuh wibawa, meski penampilannya tidak Serapi biasa. 


Para tamu pun bersorak tepuk tangan. Acara yang digelar secara dadakan itu berjalan dengan meriah. Gerry benar-benar dapat di andalkan. Jamuan makanan serta hiburan yang disiapkan untuk para tamu undangan tidak ada satupun yang mengecewakan. 


Di tengah-tengah keramaian tersebut, dua sejoli yang sedang dimabuk cinta datang sedikit terlambat. Keduanya berjalan masuk dengan langkah sedikit terburu-buru meski tetap saja mengutamakan keselamatan terlebih lagi sang istri kini tengah mengandung. 


Nabila seketika menerbitkan senyum sumringah saat melihat kedatangan sang putri bungsu serta menantunya. Wanita paruh baya itu berjalan cepat menghampiri keduanya. 


"Sayang, kalian datang," sapa Nabila seraya langsung menggandeng lengan putrinya. 

__ADS_1


"Iya, Ma. Tadi Gerry telpon dan bilang ada acara anniversary pernikahan kakak," jawabnya singkat. 


"Ah, iya. Acara ini memang rencana dadakan dari Gerry, Sayang. Kakakmu itu hampir jadi singa betina yang tidurnya terganggu," bisik Nabila lirih di telinga Rihanna. 


Rihanna menatap tidak percaya dengan apa yang baru disampaikan oleh ibunya. Pandangannya kini beralih pada sang kakak yang sedang menyalami para tamu bergantian. 


"Kakak!" 


Adeline seketika menoleh saat ada seseorang yang berteriak memanggil namanya. Senyum cerah tiba-tiba terbit ketika melihat keberadaan sang adik. Wanita dewasa itu berpamitan kepada tamunya lalu berjalan cepat menghampiri Rihanna tanpa menghiraukan Danendra yang sedang berbincang dengan tamu. 


"Ana, kamu di sini juga." Adeline memeluk sang adik dengan penuh kasih. 


Rihanna mengangguk, "Tentu saja, Kak. Aku tidak mungkin tidak hadir di acara penting kakak," jelasnya setelah pelukan terlepas. 


"Ah, terima kasih, Sayang. Kamu adik terbaik," pujinya penuh syukur. 


"Elin!" 


Saat Adeline sedang asik berbincang dengan Rihanna, tiba-tiba suara yang tidak asing untuknya terdengar memanggil namanya. Adeline belum menoleh, masih tertegun dengan suara yang baru saja dia dengar. 


"Elin." 


Seseorang tiba-tiba menyentuh bahu Adeline dan sedikit menarik wanita dewasa itu untuk menoleh. Dengan perasaan berdebar, Adeline menolehkan kepalanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya dengan tubuh kurus dan pipi tirus. 

__ADS_1


"Mama," 


__ADS_2