
Pengakuan Adeline barusan tentu saja membuat kedua orang yang juga berada di tempat itu tercengang. Tidak hanya Rihanna yang terkejut, Danendra pun tidak kalah terkejutnya. Meski ucapan sang istri belum jelas kebenarannya, akan tetapi Danendra tentu saja berharap bahwa apa yang sedang dia pikirkan adalah yang terjadi saat ini.
Rihanna terlihat menggeleng pelan, wanita itu tentu tidak dapat mempercayai ucapan sang lawan begitu saja. "Gue tahu elo bohong!" seru Rihanna menampik kenyataan itu.
"Jika kemarin kamu masih memiliki harapan jika suatu saat aku dan Nendra akan berpisah ketika aku tidak dapat memberikan dia keturunan, tidak untuk sekarang! Carilah pria lain yang dapat menerima kamu dan mencintai kamu dengan tulus." Adeline memberanikan saran.
"Enggak! Ini enggak benar. Kak Nendra akan tetap menjadi milikku!" seru Rihanna masih tidak terima.
Danendra tentu saja semakin muak dengan perlakuan kekanak-kanakan dari Rihanna. Wanita itu jika di biarkan akan semakin menjadi-jadi saja, dan hal itu tentu membuat Danendra semakin mengkhawatirkan keadaan Adeline.
"Ri, pergi dari sini atau aku harus mengusirmu dengan paksa?" ancam Danendra tanpa berniat menatap wajah masam Rihanna.
"Aku pasti akan merebut kamu, Kak!" Rihanna menjejakkan kakinya dengan emosi yang membara.
Mau tidak mau, Rihanna pergi dari ruangan CEO perusahaan Alefosio Group. Dari pada nanti dia akan di permalukan lagi akibat ulahnya yang tidak terkendali, lebih baik dia memilih untuk mengalah untuk saat ini.
Begitu Rihanna sudah meninggalkan ruangan itu, kini Danendra beralih pada sang istri. Tatapan laki-laki muda itu membuat Adeline sedikit merasa ada yang tidak beres.
"Kamu kenapa menatapku seperti itu?" tanya Adeline sedikit mundur.
"Sejak kapan kamu mengetahui tentang ini?" tanya balik Danendra yang berjalan maju untuk semakin mengintimidasi sang istri.
"Tahu apa?"
__ADS_1
"Tentang keturunan," jawab Danendra seraya menaruh tangannya di belakang kepala Adeline, wanita itu tidak sadar bahwa sedikit lagi kepalanya akan terbentur dinding.
"Memangnya aku tadi bilang apa?" tanya Adeline pura-pura lupa.
"Kamu bilang, kamu sudah berhasil memberikan aku keturunan, apakah itu benar? Kamu sedang …." Danendra mempraktikkan tangannya di perut seolah-olah perut itu membesar.
Wajah Adeline seketika merasa bersalah karena sudah asal bicara. Dia sendiri belum tahu tentang kebenarannya. Tadi dia mengatakan itu hanya untuk menggertak Rihanna agar tidak terus-terusan mengganggunya saja.
Melihat reaksi sang istri yang bungkam dan tidak menjawab apapun, serta menundukkan sedikit kepala saja sudah membuat Danendra paham bahwa wanitanya itu juga belum yakin akan hal tersebut.
Tangan kanan Danendra terulur menyentuh wajah cantik Adeline. Dia mengapit dagu istrinya menggunakan jari telunjuk serta ibu jarinya dan sedikit menariknya ke atas. Begitu wajah cantik Adeline sudah tidak tertunduk lagi, tangan kiri Danendra mengusap lembut pipi merah sang istri. Terlihat kedua mata Adeline sudah mendung, seakan sebentar lagi akan turun hujan di wajah cantik itu.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, aku paham. Kamu juga tidak perlu merasa bersalah, kita masih memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal tersebut."
"Maaf, Nendra. Aku memang istri tidak berguna!" Adeline berkata dengan lirih, sepenuh hatinya dia merasa menyesal karena sama sekali tidak dapat memberikan kebahagiaan untuk pria yang sudah selalu menjadikannya seperti ratu.
Danendra yang paham jika Adeline kini tengah menangis pun mengusap-usap punggung sang istri. Laki-laki itu sengaja tidak mau menghentikan tangisan istrinya, mungkin dengan seperti itu dia akan merasa lebih baik.
"Jangan pernah berkata seperti itu, Sayang. Aku mencintaimu, jikapun nanti kamu tidak bisa memberiku keturunan, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu," ujar Danendra tulus.
"Tapi … aku merasa hanya menjadi beban untuk kamu, mama dan papa, Nendra."
"Siapa yang berani mengatakan kamu adalah beban? Kamu itu anugerah untuk keluargaku, Sayang. Mama juga sudah sangat menyayangi kamu, 'kan?"
__ADS_1
Lagi-lagi Adeline terdiam, perkataan Danendra memang benar. Silvia kini sudah dapat menerima kehadirannya, wanita paruh baya itu juga bersikap sangat baik padanya.
"Sudah. Jangan berpikir yang macam-macam, aku mencintai kamu apa itu masih kurang?" tanya Danendra.
"Tidak, Nendra. Kasih sayang dan cinta yang kamu berikan padaku sudah lebih dari cukup," jawab Adeline pada akhirnya.
"Tapi, apakah kamu tetap akan menerima jika aku benar-benar tidak bisa memiliki anak, Nendra?" tanya Adeline dalam benaknya.
Berbeda dengan Danendra yang selalu dapat menenangkan Adeline, Zico saat ini sedang berada di titik terendah hidupnya. Putra bungsu keluarga Antonio itu kini justru terpaksa menjadi seorang pelayan di sebuah restoran ternama.
Zico sedang wara-wiri melayani banyaknya tamu yang datang untuk makan siang ataupun sekedar berkumpul dengan orang-orang terkasih. Peluh yang membanjiri wajahnya justru membuatnya semakin tampan. Banyak dari para pelanggan yang tertarik dengan pesona pria muda itu. Namun, Zico sama sekali tidak mau menanggapi, fokusnya masih pada dirinya sendiri. Untuk saat ini, dia hanya ingin hidup mandiri tanpa berlindung di belakang orang tua maupun istri yang saat ini sudah tidak lagi membutuhkan kehadirannya.
Dari kejauhan seseorang tampak sedang memperhatikan apa saja yang tengah di lakukan oleh Zico. Laki-laki dengan wajah tertutup masker serta topi itu kini mengeluarkan ponsel dari balik sakunya dan segera mendokumentasikan kegiatan seseorang yang tengah dia mata-matai.
"Tuan pasti akan mengamuk jika tahu tentang hal ini." Laki-laki itu tanpa berlama-lama langsung mengirimkan Vidio yang telah dia ambil kepada seseorang yang memerintahkannya.
Untuk kali ini Zico tampaknya benar-benar memiliki niat untuk mengubah diri. Laki-laki muda itu bahkan rela menjalani kehidupan jauh dari kata layak hanya untuk mempertahankan harga dirinya yang selalu di injak oleh orang-orang di sekitarnya, kecuali Adeline tentunya.
Laki-laki itu terlihat sibuk mengantarkan pesanan pelanggan di restoran tersebut. Meski lelah dan tubuhnya yang terasa remuk, Zico masih belum ingin menyerah. Dia tidak mau lagi hidup sebagai boneka untuk orang lain, bahkan sang ayah sekalipun.
Ponsel milik seorang pria berdenting, sebuah pesan berisikan Vidio masuk ke dalam email-nya. Buru-buru dia memeriksa laporan apakah yang di bawa oleh sang anak buah. Kedua matanya menajam saat melihat seseorang yang sedang dia awasi sedang wara-wiri membawa nampan di tangan. Pakaiannya bahkan khas seorang pelayan, dengan warna hitam dan putih yang mendominasi.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia melakukan pekerjaan seperti ini. Memangnya sudah tidak ada lagi pekerjaan yang pantas dan layak untuk dia kerjakan!" gerutunya dengan kesal, tentu saja dia kecewa karena orang yang sekarang menjadi target pengawasannya justru bekerja menjadi seorang pelayan restoran.
__ADS_1