
Tidak seperti kebanyakan calon pengantin yang lain. Adeline justru hanya diminta untuk tetap tinggal di rumah tanpa diperbolehkan keluar sama sekali oleh sang calon suami. Tidak ada persiapan khusus apapun yang di lakukan oleh sang mempelai. Tidak memilih gaun pengantin ataupun foto prewedding, bahkan kartu undangan pernikahan juga sama sekali tidak diketahui oleh perempuan dewasa itu.
Beberapa hari tidak bertemu dengan pria g*la itu membuatnya sedikit merasa tenang. Namun, ketenangan itu mungkin akan sirna sebentar lagi. Pada suatu malam tiba-tiba Adeline dikejutkan dengan kedatangan sang sekretaris calon suaminya. Pria itu meminta dirinya untuk ikut ke apartment.
Ketika sampai di apartment si pria yang sempat di tinggali Adeline ketika drama lompat dari mobil itu, Adeline merasa ada yang aneh. Pria yang biasanya slengean ketika berbicara dengannya itu, kini terlihat diam saja, wajahnyapun agak murung. Hal itu sedikit membuat Adeline heran setengah mati.
"Kau kenapa?" tanya Adeline seraya memperhatikan wajah pria g*la itu.
"Apa, memangnya aku kenapa?" tanya balik si pria tanpa menatap sang calon istri.
"Kau sakit, yah!" Adeline mengulurkan tangan dan memeriksa suhu tubuh calon suami dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi si pria. "Tidak panas," gumamnya lalu menurunkan tangannya.
Si berondong hanya diam membiarkan Adeline menyentuh dahinya. Namun, raut wajahnya masih saja murung.
"Apakah ada masalah yang mengganggu pikiranmu?" tanya Adeline yang tiba-tiba terlihat peduli.
Si pria menoleh, untuk sejenak menatap wajah cantik sang calon istri. "Tidak ada masalah apapun, aku hanya sedang berpikir."
"Tentang?" timpal Adeline seraya mengerutkan keningnya.
"Tentu saja tentang calon istriku," lirihnya belum juga kembali seperti semula.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Adeline semakin bingung.
"Apakah kamu mencintai pria lain?" tanya si pria pada akhirnya.
Adeline semakin bingung dengan arah pembicaraan si pria. "Kita sudah hampir menikah, dan kamu baru menanyakan hal itu sekarang. Apa itu berguna?"
"Tinggal jawab saja, apa susahnya coba." Pria itu menggerutu kesal.
__ADS_1
"Bagiku tidak ada kata cinta. Sebuah hubungan hanya memerlukan komitmen serta kepercayaan satu sama lain. Cinta saja tidak akan cukup untuk menjadi pondasi keutuhan suatu hubungan," jelas Adeline menyampaikan pemikirannya.
"Jadi untuk sekarang apa kamu memiliki komitmen dengan pria lain?" tanyanya menuntut.
"Jika aku memiliki komitmen dengan pria lain, lalu untuk apa aku disini bersama pria g*la sepertimu," jawab Adeline telak.
"Kau serius?"
Wajah yang sebelumnya terlihat murung kini perlahan-lahan berangsur normal. Kecemasan yang di rasakan selama beberapa hari ini akhirnya perlahan sirna.
"Aku pulang saja kalau kau tidak percaya!" ancam Adeline yang langsung bangkit.
"Berani pulang tanpa izin dariku, akan aku buat kau susah berjalan sekarang juga." Pria itu balik mengancam sang calon istri.
"Silahkan jika kau berani!" tantang Adeline dengan berani.
Pria itu dengan sigap menarik tangan Adeline hingga terjatuh di pangkuannya, lalu mengunci Adeline menggunakan tangan. Tatapan matanya membingkai wajah cantik calon istrinya lalu perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah merah sang calon istri.
Kedua wajah itu semakin lama semakin dekat. Hangatnya embusan napas dari si pria bahkan terasa saat menerpa wajah cantiknya. Denyur jantung Adeline terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Aliran darah di otaknya juga terasa memanas seketika. Kedua bibir itu saling menempel bersamaan dengan terpejamnya kelopak mata mereka.
Cukup lama si pria membiarkan kedua bibir itu menempel hingga akhirnya sedikit memberikan ses*pan serta gigitan kecil agar Adeline mau membuka mulutnya, dan benar saja setelah Adeline membuka sedikit jalan lidah si pria menerobos masuk tanpa permisi. Tangan kirinya bahkan menekan tengkuk Adeline agar calon istrinya itu tidak dapat berontak.
Pria itu memainkan lidahnya di dalam dengan lincah, sedang Adeline hanya diam dan menahan napasnya. Rasanya dia seperti ingin menolak, tetapi jiwanya justru berkobar setelah mendapat serangan tiba-tiba itu. Namun, dia masih terlalu malu dan kaku untuk membalas.
Tidak berbeda dengan Adeline, si pria juga merasakan sensasi yang berbeda. Meski sudah beberapa kali bermain wanita, nyatanya hanya saat inilah momen yang mampu membuat gai*ahnya memuncak. Junior di bawah sana juga sudah sangat terasa ingin segera menunjukkan kemampuannya, dan sesuatu yang menonjol itu dapat dirasakan oleh bok*ng Adeline yang berada tepat di atasnya.
"Bernapas, Sayang! Aku tidak mau kau m*ti hanya karena ci*uman pertama." Pria itu menegur Adeline setelah melepas tautan kedua bibir itu, karena sang calon istri yang sejak awal justru menahan napasnya.
Teguran itu malah menyadarkan Adeline yang sempat terbawa suasana dan akhirnya merelakan pria itu mengambil ciu*man pertamanya. Muncul rona merah di kedua pipi wanita dewasa itu saat teringat dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Adeline ketika si pria akan kembali melancarkan serangan kedua.
"Melanjutkan yang tadi," jawabnya tanpa rada bersalah.
"Enak saja!" Adeline berniat bangkit dari pangkuan si pria, akan tetapi ditahan oleh pria itu.
"Kan memang enak, Sayang. Makanya mari kita lanjutkan," ujarnya tanpa beban.
"Jangan harap!" Adeline mengerahkan seluruh tenaga untuk bangkit dari pangkuan sang calon suami.
"Ayolah, Sayang." Pria itu menatap Adeline dengan wajah penuh harap.
Sungguh dia sudah sangat tersiksa dengan sesuatu yang ingin segera di keluarkan dari sangkarnya itu. Kepalanya juga tiba-tiba berdenyut karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
"Tidak mau! Kau sudah benar-benar g*la, yah. Aku tidak mungkin memberikan sesuatu yang berharga pada orang asing!" tolak Adeline dengan tegas.
"Aku calon suamimu, Sayang. Ayolah, sekali ini saja," pintanya dengan wajah merah merekah.
"Aku bilang tidak ya tidak! Kau mau menahan sampai kita menikah atau aku batalkan saja pernikahan kita?" ancam Adeline tidak main-main.
Meski mereka akan menikah, akan tetapi Adeline sama sekali tidak ingin sampai memberikan sesuatu yang berharga sebelum mereka benar-benar resmi menjadi suami istri.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya si pria yang sudah tidak karuan.
"Mana aku tahu? Pikirkan saja sendiri." Adeline yang sedang pada posisi berdiri menatap tajam pada calon suaminya yang sudah dikuasai oleh g*irah.
Pria itu terlihat sedang berpikir, lalu detik berikutnya mengucapkan kata yang membuat Adeline sampai melemparkan high heels miliknya tanpa pikir panjang.
"Ayolah, dengan tangan juga tidak apa-apa," bujuknya tanpa mau menyerah.
__ADS_1
"Tidak mau! Kau sungguh menyebalkan sekali. Aku hanya akan memberikan jika kita sudah menikah." Adeline menjawab dengan tegas.
"Kalau begitu, besok kita menikah!"