
Pria paruh baya itu hendak kembali melayangkan pukulan kepada Malik. Namun, Celine dengan cepat menghalangi dengan berdiri di depan bosnya tersebut. Wanita itu memejamkan matanya saat pukulan dari bos besarnya hampir mengenai wajah.
"Celine. Pergilah! Jangan ikut campur." Malik menarik tangan sang sekretaris dan menyuruhnya keluar.
"Tapi, Bos … aku," kata-kata Celine terhenti saat Malik sudah mendorongnya keluar dari ruangan.
"Ada apa, Pi? Kenapa tiba-tiba menghajarku?" tanya Malik seraya menatap penuh heran.
"Kau anak kurang ajar, Malik! Kau berani tinggal bersama seorang wanita yang belum menikah denganmu."
"Papa tahu dari mana tentang hal itu?" tanyanya terkejut.
"Tidak penting aku tahu dari mana. Sekarang, pilih kau usir wanita itu atau nikahi dia saat ini juga?"
"Papi."
"Kau mau menentangku, Malik!"
"Tidak. Aku tidak mungkin menentang papi. Tapi, aku tidak bisa menikahinya!"
"Kenapa tidak bisa? Apa dia istri orang?"
Malik menggeleng cepat. Mana mungkin dia berani menyembunyikan istri orang di dalam apartement. Bisa rusak reputasinya jika sampai dia melakukan hal tersebut.
"Kalau begitu nikahi dia saat ini juga!"
Ini sudah bukan tawaran, melainkan perintah yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Hanya itulah pilihan yang di miliki oleh Malik agar tetap bisa memberikan tempat tinggal untuk Rihanna.
Sementara itu, di apartment Rihanna juga dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu kandung pemilik unit apartment yang dia tinggali. Awalnya Rihanna tidak mau membuka pintu, tetapi ancaman yang diberikan oleh wanita itu membuat Rihanna terpaksa membuka pintu.
"Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya wanita berkerudung di depannya.
"Sekitar tiga hari, Tante. Kenapa, yah?"
"Kamu bertanya kenapa?" Wanita itu melotot sebagai rasa tidak percaya atas pertanyaan perempuan muda di depan.
__ADS_1
"Apakah kamu merasa kamu wanita baik-baik setelah tinggal dalam satu atap yang sama dengan laki-laki asing seperti sekarang?"
Rihanna tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia sadar bahwa dia bukan wanita baik-baik. Namun, perkataan wanita berkerudung di depannya ini entah kenapa begitu menusuk di hatinya.
"Saya tidak akan membiarkan putra saya tinggal bersama wanita yang bukan istrinya. Sekarang, silahkan pilih kamu mau pergi dari sini atau menikah dengan putraku?"
Pertanyaan itu seketika membuat Rihanna terkejut. Wanita di depannya ini tiba-tiba memberinya pilihan yang sangat sulit untuknya.
"Kau tetap mau diam saja? Bisa saya artikan diamnya kamu sebagai penolakan?"
Wanita berkerudung itu semakin menekan Rihanna dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu sulit untuk perempuan muda itu. Rihanna benar-benar tidak dapat menjawab satupun pertanyaan dari wanita yang mengaku bahwa dia merupakan ibu kandung Malik.
"Tidak, Mi. Kayla bersedia menikah denganku!" seru seseorang yang baru saja datang.
Rihanna dan wanita paruh baya itu menoleh bersamaan. Jika wanita yang merupakan ibu kandung Malik itu bisa tersenyum lega, tidak dengan Rihanna. Netranya membulat sempurna dengan mulut menganga.
Kedua bola mata Rihanna bergerak mengikuti ke mana Malik berjalan. Laki-laki itu duduk di samping wanita paruh baya di depannya. Dari pintu tiba-tiba seorang pria paruh baya juga berjalan ke arah mereka.
"Benarkah, kamu bersedia menikah dengan Malik?" tanya wanita paruh baya itu sambil menatap wajah Rihanna dengan sorot mata penuh harap.
"Tentu saja, Mi. Siapa yang bisa menolak pesona Malik? Kayla memang calon istri Malik."
Rihanna semakin melotot ke arah Malik saat laki-laki itu berucap tanpa berpikir dan tanpa persetujuan darinya. Namun, pelototan Rihanna sama sekali tidak mengubah apapun. Malik tetap mengambil keputusan sepihak.
"Baiklah. Sekarang kita pulang, Mi. Kita siapkan berkas-berkas pernikahan Malik dan calon istrinya!" ajak si pria paruh baya yang langsung disetujui oleh sang istri.
Keduanya melenggang pergi tanpa memperdulikan reaksi Rihanna yang seperti tidak setuju dengan keputusan mereka. Malik mengantar kedua orang tuanya hingga ke depan pintu apartemen.
"Malik, pastikan bahwa perempuan itu benar-benar bersedia menikah denganmu. Mami merasa dia satu-satunya perempuan yang cocok untuk kamu!"
"Em. Iya, Mi."
Malik kembali menutup pintu apartemen saat kedua orang tuanya sudah pergi dari sana. Dia segera masuk ke dalam untuk memberikan penjelasan kepada Rihanna. Malik tidak ingin wanita muda itu marah karena permasalahan ini.
"Bisa kau jelaskan padaku maksudmu apa, Malik? Kenapa mengambil keputusan sepihak? Kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku." Rihanna memberondong Malik dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1
Meskipun yakin bahwa Malik adalah laki-laki baik. Namun, hati Rihanna belum bisa melupakan Danendra, cinta pertamanya. Alasan itulah yang membuat Rihanna jengkel kepada Malik, pria yang sudah menolongnya.
"Aku bisa jelaskan, Kay. Tolong jangan marah dulu," sanggah Malik seraya mendudukkan diri di sofa berhadapan dengan Rihanna.
"Apapun alasan kamu, itu tidak membenarkan perbuatan kamu yang lancang, Malik! Kau tidak tahu bahwa hatiku sudah dimiliki orang lain!" bentak Rihanna kasar.
"Aku tahu, aku sudah lebih dari tahu, Kayla. Kau mencintai saudaraku," batin Malik tersenyum kecut.
"Kamu tenang saja. Kita hanya menikah di atas kertas." Pada akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Malik.
"Maksud kamu?" tanya Rihanna dengan kedua alis bertaut.
"Kita akan membuat surat perjanjian pernikahan. Jika aku tidak mampu membuat kamu mencintaiku dalam waktu enam bulan, kita akan bercerai."
"Tapi–!"
"Tidak akan ada kontak fisik jika bukan kamu yang menghendakinya," sela Malik tegas.
Rihanna masih terdiam, belum juga menjawab apa yang ditawarkan oleh Malik. Dia masih ingin mengejar cinta pertamanya. Jika dia menyetujui tawaran Malik, itu akan mempersulit dia untuk mengejar Danendra.
"Aku juga terpaksa, Kayla. Papi dan Mamiku tidak mengizinkan aku tinggal bersama wanita asing. Mereka menyuruhku untuk mengusir kamu jika kita tidak mau menikah. Apa kamu tidak berpikir bahwa keadaanmu saat ini tidak memungkinkan untuk keluar dari persembunyian. Mereka masih terus mencari kamu!"
Setelah mengucapkan hal itu, Malik bangun dan berjalan meninggalkan Rihanna yang masih terdiam. Mendapatkan penolakan dari wanita yang berhasil menarik perhatiannya membuat dadanya terasa sesak. Baru kali ini Malik jatuh hati kepada seorang perempuan. Namun, harus terpatahkan karena perempuan itu justru mencintai saudaranya sendiri.
"Malik, tunggu!"
Malik menghentikan langkahnya. Namun, tetap belum menoleh ke belakang. Dia benar-benar tidak sanggup jika harus kembali mendapatkan penolakan dari Rihanna.
"Apa kamu bisa menjamin tidak akan ada kontak fisik di antara kita?" tanya Rihanna memastikan.
"Kita akan tetap tinggal di kamar terpisah seperti saat ini. Jika kamu tidak percaya, aku juga akan memasang CCTV di setiap sudut ruangan."
Malik kembali mengayunkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu menutup pintu kamar dengan kasar hingga Rihanna terlonjak.
"Dia bilang juga terpaksa, tetapi kenapa dia bersikap seolah-olah sedang merajuk pada pasangannya?"
__ADS_1