Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Bonchap


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, di rumah sakit ternama kota itu. Tiga orang suster sedang mendorong brankar pasien melewati koridor rumah sakit menuju ruang persalinan.


Di atas brankar tersebut, seorang wanita cantik dengan balutan hijab putih tengah berbaring tidak berdaya. Mulutnya meringis menahan kesakitan yang amat luar biasa. Tangannya digenggam erat oleh seorang pria yang berlari mengikuti sang suster membawa brankar itu. 


"Hunny, sabar, ya. Kamu pasti kuat!" Si pria tidak henti-hentinya menyemangati si wanita agar teralihkan dari rasa sakitnya. 


Si wanita tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya kepalanya saja yang mengangguk kecil. Tubuhnya terasa dingin akibat peluh yang membanjiri seluruh wajah hingga kakinya. 


Brankar itu akhirnya dibawa masuk ke sebuah ruangan persalinan. Si pria tetap setia mendampingi istrinya yang sebentar lagi akan mempertaruhkan nyawa demi melahirkan buah hati mereka. 


Tidak lama setelah masuk ke dalam ruangan, seorang dokter juga masuk. Dokter wanita itu dengan sigap melakukan tahap demi tahap untuk mengecek kondisi si wanita yang sebentar lagi menyandang gelar seorang ibu. 


"Sudah pembukaan tujuh!" seru si dokter, para suster dengan sigap menyiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti menggelar underpad dan lain-lain. 


"Astagfirullah!" Sii wanita beristighfar sambil menggenggam erat-erat tangan si suami. 


"Hunny, yang kuat, ya. Aku bakal temenin kamu berjuang buat anak kita, kok!" 


"I-ya, Hu-bby." 


"Nona Rihanna, jika sudah terasa ingin mengejan, langsung bilang, yah!"


"Argh. Sakit, Dok!" Rihanna mengeram kesakitan, sedangkan Malik hanya bisa melihat sang istri yang kesakitan tanpa bisa membantu apa-apa. 


"Dok, tolong!" Malik memerintahkan dokter untuk membantu istrinya. 


"Ah, Dok. Ketuban saya sudah pecah!" seru Rihanna ketika merasakan ada cairan yang keluar dari bagian inti tubuhnya. 

__ADS_1


Si dokter pun sigap memeriksa. Ketika diperiksa, ternyata benar. Air ketuban sudah pecah. Si ibu pun mulai mengejan dengan panik. Napasnya juga tersengal-sengal. 


"Nona, ikuti aba-aba dari saya!" 


"Ba-ik, Dok." 


"Tarik napas dalam-dalam!" 


Rihanna mengikuti apa yang diperintahkan oleh si dokter. Malik tidak henti-hentinya merapalkan doa-doa untuk sang istri dan juga calon anak mereka yang sedang berjuang untuk melihat dunia. 


"Keluarkan lewat mulut!" 


Lagi-lagi Rihanna menuruti aba-aba dari dokter dengan baik. Dia pun mulai bisa menguasai pernapasan yang tadi sempat terganggu. 


Beberapa kali Rihanna melakukan hal itu, hingga akhirnya, si dokter pun memberinya aba-aba untuk mengejan. "Ayo mengejan sekuat tenaga, Bu. Jangan lupa mata harus tetap terbuka!" 


"Allahuakbar!" Rihanna mengejan sekuat tenaganya, detik itu juga terdengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan yang didominasi warna putih itu. 


"Alhamdulilah!" Malik langsung bersujud saat itu juga ketika melihat anaknya telah lahir ke dunia. Begitu juga dengan Rihanna, wanita itu terus mengucap rasa syukur kepada yang maha kuasa. 


Usai melakukan sujud syukur, Malik bangkit dari posisinya. Dia langsung mengecup kening sang istri seraya berucap, "Terima kasih, Hunny. Terima kasih!" 


Terlihat dokter dan suster sedang sibuk membersihkan Rihanna dan bayi itu dari noda-noda darah melahirkan. Malik masih setia berada di sisi sang istri. 


Kedua anak manusia itu sama-sama meneteskan air mata bahagia ketika suster menyerahkan bayi mereka usai dibersihkan. Rihanna tersenyum lega saat si bayi sudah berada di gendongan sang suami. 


"Silahkan, Tuan." Suster memberikan bayi mungil itu ke tangan ayahnya. 

__ADS_1


"Terima kasih, Sus, Dok." 


"Sama-sama, Tuan. Baiklah, kami permisi dulu," kata si dokter berpamitan. 


"Silahkan, Dok, Sus." 


"Kalau ada apa-apa cepat panggil kami, Tuan," ucap si dokter sebelum berlalu dari sana. 


"Hunny, aku adzanin dulu, ya." 


"Iya, Hubby." 


Malik pun mulai mengumandangkan adzan serta iqomah di telinga anak mereka. Begitu selesai, Malik mendekatkan putrinya pada sang istri. 


Rihanna mengulurkan tangannya untuk membelai sang putri. Rasa haru bercampur bahagia seketika memenuhi hati dan jiwanya. Dia tidak menyangka, sang putri akan lahir secepat ini.


"Alhamdulilah, cantik seperti kamu, Hunny." Malik memuji Rihanna dan anaknya yang memang begitu mirip. 


"Terima kasih karena sudah mau berjuang bersama mommy, Sayang," ucap Rihanna dengan mata berkaca-kaca. 


Kini Rihanna menatap sang suami dengan penuh cinta. "Terima kasih, Hubby. Kamu sudah menemaniku berjuang," kata Rihanna tulus. 


"Sama-sama, Hunny. Ini sudah menjadi tugasku," balas Malik seraya membelai pipi istrinya. 


Rihanna menatap bayi serta suaminya bergantian. Senyum bahagia tidak pudar dari bibirnya yang sedikit pucat. "Hubby. Kamu mau kasih nama siapa putri kita?" 


"Kanaya Maritza Ibrahim," kata Malik dengan senyum manisnya. 

__ADS_1


Jangan lupa, Mampir ke karya terbaru author. Kisah Tragis seorang gadis yang ditinggal selama-lamanya oleh seorang laki-laki tercintanya. *BAYANG CINTA SEMU.*



__ADS_2