
Awalnya Rihanna tetap diam ditempat tanpa mau menuruti perintah dari pelayan di belakang sana. Namun, ancaman dari si pelayan yang ternyata merupakan penyusup itu membuat tubuhnya seketika menegang.
"Mansion ini sudah terpasang beberapa bom di setiap sudut bangunan. Jika anda nekat pergi dari tempat ini, saya pastikan tubuh anda tidak akan tersisa sama sekali."
Dengan terpaksa Rihanna kembali ke kamarnya. Sementara itu, si pelayan masih setia mengekor di belakang sambil membawa satu buah pistol di tangan.
"Bagaimana caranya aku keluar dari sini? Pa, tolong Rihanna, Pa."
Rihanna menatap sekelilingnya demi mencari jalan keluar agar dirinya dapat segera melarikan diri dari mansion yang sudah dipasang beberapa bom. Tentu saja perempuan muda itu takut, sepintar-pintarnya dia dalam ilmu beladiri dia sama sekali belum pernah berurusan dengan benda peledak satu itu.
"Lebih baik anda segera bersihkan diri anda lalu beristirahat. Saya akan buatkan anda makan malam," ucap pelayan itu lalu melenggang pergi meninggalkan tawanannya.
Pelayan itu menghentikan langkah saat sampai di ambang pintu, meski tangan kanannya sudah menyentuh handle pintu dan siap membukanya tetapi dia kembali menoleh kebelakang.
"Jangan berani-berani kabur dari sini, karena bom yang kami pasang memiliki alat sensor otomatis. Jika anda berani melangkah keluar dari pintu utama mansion, maka, boom! tempat ini akan langsung rata dengan tanah."
Perempuan bergaun merah itu mengusap wajahnya kasar. Jika tahu akan ada kejadian ini lebih baik dia tetap berada di pantai tadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Yang dapat dia lakukan saat ini adalah mengolah bubur tersebut menjadi bubur ayam. Minimal masih ada harapan jika dia mau menuruti semua perkataan mereka.
Selesai menebar ancaman mematikan itu si pelayan membuka pintu lalu kembali menutup serta mengunci pintu itu dari luar.
"Shi*t! Jika bukan karena laki-laki tadi. Aku pasti masih menikmati waktuku yang bebas. Sekarang aku hanya bisa berdiam diri di kamar ini," rutuknya kesal.
Rihanna paham dalam dunia gelap seperti ini dia tidak perlu takut. Selama dia masih menurut kepada si penjahat dan penjahat tersebut belum mendapatkan kemauannya, dia akan tetap selamat.
Tidak mau terlalu memusingkan apa yang saat ini terjadi akhirnya Rihanna bergegas masuk ke kamar mandi. Tubuhnya benar-benar terasa gerah dan lengket setelah seharian berada di tempat terbuka.
Dia merendam tubuhnya di dalam bathtub yang sudah ditetesi aromaterapi mawar kesukaannya. Meskipun dalam keadaan menjadi tawanan, nyatanya Rihanna masih sangat santai menghadapi situasi tersebut.
Hampir setengah jam Rihanna berada di kamar mandi membuat tubuhnya terasa lebih segar dan rileks. Perempuan itu pun keluar dan segera mengenakan pakaiannya. Tidak lama berselang pintu kamar kembali terbuka.
Pelayan tadi membawa sebuah nampan berisi makanan serta minuman. Rihanna hanya merotasikan kedua bola matanya. Ya meskipun dia di layani dengan baik bagaikan seorang tamu VVIP tamu hotel berbintang, nyatanya dia tahu bahwa nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
__ADS_1
Sudah berhari-hari Rihanna terkurung di dalam mansion megahnya tanpa kehadiran sang ayah. Pria paruh baya itu tidak kunjung kembali setelah pergi dari mansion pada waktu itu. Entah sekarang sedang berada dimana dan dengan siapa, Rihanna pun tidak tahu.
*****
Jika Rihanna sedang tertekan dengan situasi yang dijalaninya sekarang, berbeda dengan Adeline. Wanita dewasa itu tengah menikmati peran barunya sebagai seorang ibu dengan bantuan orang-orang disekitarnya.
Kini mereka sedang mempersiapkan pesta yang akan digelar 2 hari lagi untuk memperkenalkan pewaris baru keluar Alefosio kepada para kerabat.
Atas persetujuan keluarga mereka menyelenggarakan pesta tersebut di mansion pribadi. Tidak di ballroom hotel maupun tempat-tempat semacam itu. Demi kenyamanan Adeline serta menjamin keamanan Devan sebagai pewaris tahta dan kekayaan keluarga Alefosio.
"Pastikan semua tersusun seperti rencana. Saya tidak mau ada satupun yang terlewat dan mengecewakan nyonya muda. Hal itu akan berimbas pada mood tuan muda!"
"Baik, Tuan. Kami akan melakukannya dengan rinci dan tanpa cela. Seperti yang diinginkan nyonya muda," jawab seorang pemimpin WO.
"Bagus. Saya akan memberikan bonus jika pekerjaan kalian memuaskan."
Di kamar utama Adeline tengah memberikan asi kepada Devan, sedangkan Danendra justru sibuk menyuapi sang istri. Sejak siang Adeline memang sedang susah makan, wanita yang baru saja menghambat sebagai seorang ibu itu merasa badannya sedikit meriang dan perutnya pun mual.
"Sedikit lagi, Sayang. Kamu itu butuh nutrisi lebih karena harus memberikan ASI untuk Devan," bujuk Danendra sambil menyodorkan sendok berisi nasi serta potongan sayuran.
Wanita dewasa itu mendengus kesal tetapi menuruti perintah sang suami. Danendra kini lebih perhatian kepada kedua orang tercintanya. Tidak ada pilih kasih ataupun berat sebelah antara istri serta anaknya. Dia memperlakukan keduanya sesuai porsinya masing-masing.
"Sayang," panggil Adeline dengan mulut penuh makanan.
"Kunyah dulu lalu telan. Baru bicara," tegur Danendra sambil menggeleng pelan.
Adeline mengangguk dan melaksanakan apa yang diucapkan oleh sang suami. Setelah makanan tersebut berhasil masuk barulah Adeline melanjutkan pembicaraannya.
"Kamu sudah baikan sama papa, 'kan?" tanyanya penasaran.
"Sudah, Sayang."
__ADS_1
Danendra kembali menyendok nasi serta sayur dan menyuapkannya kepada sang istri tercinta. Lagi-lagi Adeline menurut ketika Danendra memberikan tatapan tajamnya.
"Nah, sudah habis kan sekarang. Mau makan saja pakai minta siapin suami," cibir Danendra seraya menaruh kembali piring itu ke dalam nampan.
Laki-laki muda itu mengambil segelas air putih serta vitamin lalu membantu sang istri meminum vitamin penambah darah yang diresepkan oleh dokter.
"Terima kasih, Sayang."
Adeline tersenyum manja karena merasa diratukan oleh Danendra. Pria slengean yang dulu pernah kurang ajar karena memintanya untuk menjadi teman ranjang tanpa ikatan apapun itu kini menjelma sebagai seorang pelayan pribadi yang siap siaga menjaga serta merawatnya.
"Sama-sama. Aku kembalikan piring dan gelas kotor ini dulu ke dapur, yah?"
Danendra bangkit dan membawa nampan berisi piring dan gelas yang sudah kosong tersebut keluar dari kamar. Adeline menatap sang suami yang kini sudah menghilang setelah melewati pintu kamar utama.
"Lihatlah, Devan. Ayahmu benar-benar memperlakukan bunda dengan baik. Dia sangat mencintai bunda. Suatu saat nanti, kamu harus bisa mencontoh ayah ketika kamu dewasa nanti," ujar Adeline kepada sang putra yang masih meny*su dengan kuat.
Setelah mengembalikan alat makan Adeline ke dapur Danendra berpapasan dengan sang ayah. Alefosio memberikan isyarat mata yang berarti dia menyuruh anak tunggalnya itu untuk ikut ke ruang kerjanya.
Danendra langsung mengekori sang ayah hingga masuk ke dalam ruang kerja sang ayah. Dia menjatuhkan diri di kursi yang tepat berhadapan dengan tuan besar mansion tersebut.
"Ada apa, Pa?"
"Kamu sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu?" tanya Alefosio tanpa basa-basi.
"Tentang seluruh aset Nendra yang akan beralih nama Devan?"
Alefosio mengangguk. Sejujurnya dia bukannya melarang. Tetapi mengurus perpindahan kepemilikan kepada seorang bayi itu tidaklah mudah. Atau mungkin justru tidak bisa sebelum anak tersebut berusia 18 tahun.
"Nendra akan mengalihkan semua aset atas nama Adel lebih dulu untuk menjadi wali atas harta kekayaan Devan. Setelah Devan sudah cukup usia, barulah harta itu akan sepenuhnya berganti atas namanya," jelas Danendra.
"Secinta itukah kamu kepada Adeline, Nendra?"
__ADS_1