
Si perempuan yang sejak tadi menundukkan kepala itu seketika mendongak saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kedua keluarganya berada tepat di depannya, meski mereka sama sekali tidak di perlakuan buruk oleh beberapa orang yang ada di sana, tetapi dia tetap merasa takut jika masalahnya ini akan berimbas buruk untuk kedua orang tersayang.
"Bawa mereka pergi dulu!" perintah Gerry yang tentu saja langsung di patuhi oleh para pengawal.
Kedua keluarga si penyusup itupun di pisahkan dengan perempuan yang belum juga mau mengaku tersebut. Setelah kepergian mereka, Gerry memandang si perempuan dengan tatapan remeh.
"Kau masih tidak ingin mengaku?" tanya Gerry sekali lagi.
"Jangan ikut sertakan keluargaku!" bentak si penyusup memberanikan diri.
Gerry bertepuk tangan atas keberanian si penyusup itu dalam membela keluarganya. Namun, detik berikutnya pria itu maju hingga mengapit serta mencengkram erat dagu si perempuan tersebut.
"Kau sudah berani terjun ke dalam jurang, lalu meminta pertolongan untuk orang lain agar menolongmu? Seharusnya kau pikirkan baik-baik sebelum berani melakukan penyusupan ini. Keluargamu pasti yang akan terkena imbasnya."
"Aku hanya perlu uang!" serunya dengan suara aneh, karena pipinya ikut tercengkram oleh Gerry.
"Semua orang butuh uang. Tapi tidak semua orang bodoh sepertimu!" bentak Gerry seraya mendorong wajah itu ke samping.
Perempuan itu kembali terdiam, ya memang dia pun menyesali perbuatannya yang akhirnya harus menyeret kedua orang tersayang. Padahal dia melakukan ini pun untuk mereka. Namun, apa gunanya jika saat ini mereka justru tertangkap dan terancam akan segera berakhir.
"Aku masih memberikan kesempatan, jika kau mau mengaku, aku akan melepaskan mereka."
"Lalu … aku?" tanyanya dengan nada takut.
"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu di depan tuan mudaku!"
Si perempuan semakin takut, jika si tangan kanan saja dapat mengintimidasinya meski tanpa kekerasan sekalipun, bagaimana dengan tuan mudanya. Apakah dia akan benar-benar tamat saat ini juga.
"Jangan kau pikir aku tidak memukulmu, lalu dia juga tidak akan melakukan hal itu. Setiap apa yang dia lakukan, adalah keinginannya sendiri yang tidak ada seorangpun yang berani membantah." Gerry memberikan info seputar tuan mudanya yang pastinya lebih berkuasa.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu ketahui? Aku akan menjawabnya jika kamu berjanji akan melepaskan keluargaku."
"Siapa yang menyuruhmu, dan obat apa yang kau masukkan ke dalam minuman nona mudaku?" tanya Gerry serius.
"Aku tidak tahu siapa orang yang menyuruhku, tapi yang jelas wanita itu berpakaian serba merah. Dia cantik dan seksi. Soal obat itu, aku juga tidak tahu, obat apa yang dia berikan."
Meskipun belum jelas siapa dalang di balik kejahatan yang hampir melukai Nona mudanya. Namun, Gerry sudah yakin tentang kebenaran si dalang itu setelah mendengar bahwa si pelaku merupakan wanita yang menggunakan pakaian serba berwarna merah.
Tetapi untuk memastikan bahwa kecurigaannya memang benar, Gerry mengeluarkan ponselnya lalu mengotak-atik benda canggih itu. Tanpa membuang-buang waktu, Gerry menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.
"Apakah wanita ini yang kamu maksud?" tanya Gerry dengan tegas.
Perempuan itu mengangguk cepat setelah melihat foto yang ada di ponsel itu memang adalah foto seseorang yang menyuruhnya.
"Sudah aku duga! Belum kapok juga rupanya dia," gumam Gerry seraya mendengus kesal.
Dari belakang terdengar suara langkah kaki mendekat. Dari cara berjalannya saja, Gerry sudah sangat paham bahwa seseorang yang tengah mendekat ke arahnya itu tidak lain adalah tuan mudanya.
Seperti biasa Danendra tidak menjawab, hanya sedikit mengangguk meski sebenarnya hatinya sedang dongkol dengan kecerobohan para pengawalnya. Sang penguasa itu berhenti tepat di samping sang tangan kanan.
"Bagaimana, Gerr? Sudah mau mengaku?" tanya Danendra kepada sang tangan kanan, tetapi pandangannya menatap tajam si penyusup.
"Sudah, Tuan. Yang menyuruhnya adalah Nona Rihanna," jawab Gerry singkat.
"Anak itu lagi, belum kapok-kapok juga mengganggu istriku." Danendra bertolak pinggang. "Dan kau, kau sebagai seorang perempuan, kenapa berani mempertaruhkan nyawa demi uang? Kau juga memiliki keluarga, jika keluargamu di celakai, apakah kau rela?" tanya Danendra beralih pada si perempuan yang hampir melukai istrinya.
Meskipun tidak melukai secara fisik, Danendra berhasil menampar si penyusup hanya dengan kata-katanya saja. Terbukti perempuan itu kini menangis tersedu-sedu.
"Ma-af," lirihnya penuh penyesalan.
__ADS_1
Danendra menghela napas panjang. Jika bukan karena permintaan Adeline, mungkin dia sudah melenyapkan seseorang yang sudah berani berniat mencelakai istri tercintanya.
"Aku mengampunimu, tapi sebagai gantinya kau harus menjadi tawanan di tempatku. Sebagai jaminannya, keluargamu juga akan ikut serta berada di tempat ini. Setelah kegagalanmu ini, aku yakin Rihanna akan mencari dan melenyapkan mu," jelas Danendra yang terpaksa mengampuni atas permintaan Adeline.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Danendra melenggang pergi. Gerry bahkan sampai heran karena sang tuan muda sama sekali tidak memberikan hukuman apapun pada perempuan jahat di depannya.
"Terima kasih, Tuan." Si perempuan berteriak karena tidak menyangka akan mendapatkan pengampunan dari si penguasa tersebut.
Gerry mengejar langkah sang tuan muda. Pria itu sebenarnya ingin bertanya, akan tetapi melihat wajah kesal sang tuan muda membuatnya mengurungkan niat. Dia dapat menyimpulkan bahwa keputusan ini bukanlah murni berasal darinya.
"Tuan, anda mau kemana?" tanya Gerry saat melihat sang tuan muda masuk ke dalam mobil sport pribadinya.
"Mencari anak si*lan yang sudah berani mengirimkan tikus ke mansionku. Jangan sampai istriku tahu aku kemana!"
Danendra menginjak pedal gas sedalam-dalamnya hingga mobil sport itu melesat bagaikan angin. Wajah tampan Danendra sudah terselimuti kabut gelap amarah yang siap meledak sebentar lagi. Laki-laki itu sudah tidak bisa lagi mentolerir perbuatan Rihanna yang sudah di luar batas.
Di sela-sela mengemudikan mobilnya, Danendra sempat mengirim pesan suara kepada seseorang yang ingin di temui olehnya. Laki-laki itu sudah tidak sabar ingin membuat perhitungan yang sepadan kepada perempuan yang dulu pernah dia jaga dengan segenap jiwa.
Seakan air susu di balas air tuba, Danendra benar-benar tidak menyangka bahwa Rihanna akan nekat melakukan kejahatannya kepada Adeline. Padahal dulu ketika kecil, hubungan mereka cukup baik bagaikan seorang kakak beradik yang ternyata justru di salah artikan oleh si wanita.
Kini mobil yang di kemudikan Danendra sampai di sebuah gedung klasik yang terlihat masih terawat. Laki-laki itu masuk dan berjalan menuju sebuah ruangan yang dulu selalu menjadi tempat mereka bertemu ketika salah satu dari mereka memiliki masalah.
Danendra berdiri di depan jendela besar yang mengarah ke laut. Ingatannya kembali pada masa-masa kecil mereka. Dia memang menyayangi perempuan itu, akan tetapi rasa sayang yang dia miliki bukanlah cinta. Hanya sekedar rasa ingin melindungi keluarga saja.
Sepasang tangan melingkar erat di perutnya, di belakang ada seseorang yang menempel di punggungnya, bahkan seseorang itu juga menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya. Danendra tahu, dia adalah Rihanna, perempuan yang kini justru berambisi untuk menjadi pendampingnya.
"Kau sama sekali tidak merasa bersalah, Ri?"
"Aku tidak salah. Aku hanya memperjuangkan cintaku, Kak." Rihanna dengan tidak tahu malunya tetap memeluk tubuh pria perlente itu.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku, Ri. Aku tidak sudi dipeluk oleh perempuan jahat dan mur*han sepertimu!" bentak Danendra serta menyentak kasar tangan yang melingkar di perutnya itu.