
"Kejutan apa maksudmu?" tanya Antonio dengan ekspresi datar.
"Anda mungkin tidak akan mengingatnya, dan saat ini, saya akan bantu anda untuk mengingat dia."
"Dia?" tanyanya dengan mata memicing.
"Iya, dia. Seseorang yang sudah anda hancurkan kehidupan dan masa depannya," jawab Adeline yang tiba-tiba bertepuk tangan dua kali.
Dari arah tangga tiba-tiba ada dua orang wanita yang berjalan dengan perlahan. Yang Antonio tahu, salah satunya adalah besannya, tetapi dia sama sekali tidak tahu siapa yang berjalan bersama mertua putri sulungnya itu.
"Anda pasti asing dengan wajahnya, 'kan? Biar coba saya ingatkan anda, Tuan Antonio yang terhormat!"
Antonio menatap Adeline dan wanita yang sedang berjalan di tangga itu bergantian. Dia masih berusaha mengingat-ingat hal apakah yang terlewat dari ingatannya.
"Anda mungkin lupa dengan wajah wanita itu, tapi anda pasti tidak lupa dengan bekas luka yang anda miliki di punggung sebalah kanan anda bukan?"
__ADS_1
Raut wajah Antonio yang semula datar dan terkesan bingung kini tiba-tiba terkejut. Pria paruh baya itu ingat betul bagaimana dia mendapatkan bekas luka tersebut.
"Apakah anda tidak ingin bertemu dengan pencipta luka yang anda dapatkan 36 tahun silam?" tanya Adeline yang kini bangkit, lalu berjalan menuju kedua wanita yang masih berjalan ke arahnya.
Memory otak Antonio melanglang ke kejadian yang sedang di bahas oleh Adeline. Pria itu langsung menatap dalam-dalam wanita yang kini berjalan di gandeng oleh Adeline dan Silvia. Sedangkan Monica terlihat kebingungan dengan ucapan Adeline dan reaksi suaminya yang tiba-tiba seperti orang linglung.
"Biar aku kenalkan pada anda, Tuan dan Nyonya Antonio Abraham yang terhormat." Adeline menatap penuh dendam kepada ayah yang selama ini dia sayangi begitu tulus.
Silvia masih tertunduk dan enggan untuk menampakkan wajahnya kepada pria yang pernah menanam saham pribadinya tanpa izin.
"Mama takut, Elin," lirih Nabila yang masih enggan menegakkan kepalanya.
Antonio semakin membelalak tidak percaya saat mendengar Adeline memanggil wanita itu dengan sebutan mama.
"Elin, ada apa ini? Kamu jangan membuat drama murahan!" seru Monica yang mulai curiga.
__ADS_1
Monica curiga karena dia tahu bekas luka di punggung bagian kanan sang suami memang bukan bekas karyanya.
"Drama murahan? Anda mengatakan apa yang akan saya ungkapkan ini adalah drama murahan? Anda boleh bertanya sendiri pada suami anda."
Monica langsung menatap Antonio yang memang seperti sedikit ketakutan. Pria beranak tiga itu sudah dapat menyimpulkan bahwa seseorang yang sedang digandeng oleh Adeline adalah wanita yang dulu pernah dia lec*hkan dan dia tinggalkan di jalan sepi tanpa belas kasih.
Meskipun Antonio dalam keadaan mabuk waktu itu. Namun, dia masih sangat ingat dengan kesalahan satu malam yang dia perbuat kepada wanita tidak berdosa puluhan tahun silam. Sayangnya Antonio yang memiliki jiwa pengecut, memilih untuk tidak mencari tahu tentang korbannya pada malam itu. Selain takut jika sang istri akan mengamuk, Antonio juga takut jika dia terjerat kasus pada saat itu. Setelah berpuluh-puluh tahun, tentu saja dia juga lupa dengan rupa si wanita. Namun, dia masih sangat ingat dengan cerita itu.
"Ini ada apa sebenarnya, Pa?" tanya Monica yang sudah sangat penasaran.
"Ti-tidak ada," jawab Antonio gugup.
Adeline semakin jengkel saat sang ayah tetap tidak mau mengakui kesalahannya dimasa lampau. Wanita hamil itu mengepalkan kedua tangannya sebagai pelampiasan emosi.
"Anda masih belum sadar juga, bahwa apa yang terjadi pada anak kesayangan anda adalah karma yang harus anda bayar tunai."
__ADS_1