Gairah Perawan Tua

Gairah Perawan Tua
Tinggal Bersama Mama


__ADS_3

Nabila langsung berlari mendekat saat melihat sang putri bungsu berada di halaman depan mansion. Tanpa basa-basi wanita paruh baya yang sangat merindukan sang anak itu langsung memeluk Rihanna dengan sangat erat. Rihanna pun membalas pelukan sang ibu tidak kalah erat. 


"Sayang, kamu datang." Nabila menghujani wajah Rihanna dengan ciumannya. 


"Untuk sementara waktu Rihanna ingin tinggal bersama mama," jawabnya dengan singkat. 


"Kamu serius?" tanya Nabila memastikan. 


"Apa tidak boleh, Ma?" 


"Boleh, Sayang!" seru Nabila dengan cepat. 


"Oh iya, mereka siapa?" tanya Nabila setelah menyadari bahwa sang putri ditemani oleh dua orang yang kira-kira usianya tidak jauh darinya. 


"Ini Mami dan Papi, mertuaku, Mam," jelas Rihanna memperkenalkan kedua mertuanya. 


"Ah, perkenalkan saya Nabila, mama Rihanna." Nabila mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan sang besan. 


"Salam kenal, saya Riani, dan ini suami saya, Ibrahim." Riani membalas jabat tangan sang besan, tetapi tidak dengan Ibrahim. Laki-laki itu hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. 


"Mari masuk dulu," tawar Nabila kepada kedua besannya. 


"Lain kali saja. Kami datang kemari hanya untuk mengantarkan Rihanna. Tolong sampaikan salam ku pada Ale dan Silvia," tolaknya dengan sopan. 


Riani beralih pada sang menantu. Wanita paruh baya itu memeluk menantunya sebelum pergi meninggalkan wanita yang sudah sah menjadi istri putra tunggalnya itu. 


"Rihanna, jangan lama-lama, yah! Mami pasti akan merindukan kamu," mohonnya dengan sungguh-sungguh. 


Kedua wanita itu melerai pelukan setelah beberapa saat larut dalam kesedihan. Riani yang sudah terlanjur menyayangi menantunya merasa tidak rela jika harus berpisah lama dengannya. Akan tetapi dia pun tidak bisa egois dengan menahan kemauan sang menantu. 


"Mami tenang saja. Rihanna akan kembali jika sudah merasa lebih baik," timpal Rihanna dengan senyum tipis. 


Sebenarnya Rihanna tidak tega jika melihat reaksi sang mertua yang selama ini selalu baik padanya. Namun, kekecewaan terhadap Malik membuatnya benar-benar ingin menyingkir lebih dulu untuk sementara waktu. 


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." 


Kedua mertua Rihanna yang begitu menyayangi menantu satu-satunya itu kembali masuk ke dalam mobil. Riani melambaikan tangannya ketika mobil mulai berjalan. Sungguh, dia merasa tidak rela jika harus berjauhan dengan menantu serta calon cucunya. 

__ADS_1


"Mami dan Papi hati-hati," ujar Rihanna lembut serta membalas lambaian tangan sang mertua. 


Setelah mobil yang dikendarai oleh Ibrahim sudah menghilang dari pandangan mereka, Nabila mengajak sang putri untuk masuk ke mansion. Wanita paruh baya itu bahkan lupa bahwa dia belum meminta izin kepada sang pemilik mansion. 


Nabila menggandeng tangan Rihanna menuju kamarnya. Raut wajah wanita paruh baya itu terlihat bersinar dengan kedatangan sang putri bungsu. 


Berbeda dengan Nabila yang sepertinya sangat bahagia, Rihanna justru baru memikirkan tentang keberadaannya di mansion itu apakah tidak akan ada yang melarang atau menolak kehadirannya. 


"Kamu kenapa seperti tidak senang, Sayang?" 


"Tidak apa-apa, Ma. Rihanna hanya ragu apakah penghuni mansion ini akan dapat menerima kehadiranku?" 


Pertanyaan Rihanna barusan langsung membuat Nabila bungkam. Sejak awal dia sama sekali tidak terpikirkan hal tersebut. 


"Ma, kalau mereka mengusirku bagaimana?" tanya Rihanna menuntut jawaban. 


"Kamu tenang saja, biar itu menjadi urusan mama. Kamu hanya perlu bersikap sopan dan tidak menimbulkan masalah di sini," jawab Nabila ragu. 


Karena malam semakin larut, pagi pun hampir tiba. Nabila mengajak Rihanna untuk beristirahat lebih dulu. Masalah izin itu akan dia pikirkan nanti. Untuk sekarang Nabila hanya ingin dekat lagi dengan sang putri bungsu. 


Sementara itu, Malik baru saja kembali dari rumah sakit. Sesal di hatinya terasa semakin besar saat melihat kamar yang biasa ditempati bersama sang istri kini kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana selain embusan napasnya sendiri. 


"Maaf, Kayla. Apa salah jika aku ingin menguji perasaan kamu? Aku tahu, kamu tidak mencintaiku, tapi apa aku tidak berhak untuk memastikan bahwa ada sedikit saja rasa peduli kamu terhadapku?" cecar Malik seakan-akan ada Rihanna di depannya. 


Padahal, mau sepanjang apapun dia berkata, setulus apapun dia berbicara, dan sesakit apapun perasaannya saat ini tidak akan pernah bisa dimengerti oleh Rihanna. Malik terlalu pengecut untuk menanyakan tentang perasaan Rihanna terhadapnya secara langsung hingga melakukan hal bodoh semacam itu. 


Malik menjatuhkan dirinya dari kursi roda dengan susah payah. Ranjang king size yang akhir-akhir ini dia gunakan bersama istrinya, kini kosong. Meski tidak ada sedikitpun kontak fisik, setidaknya mereka tidur dalam satu ranjang yang sama. Berbagi kehangatan di dalam satu selimut yang membalut tubuh mereka berdua. 


Sayangnya saat ini tempat itu hanya dia gunakan seorang diri. Memang terasa lebih luas dan tidak sesak. Namun, perih itu kian terasa saat Malik berpikir mungkin Rihanna tidak akan pernah kembali. 


"Arg! Sial. Aku tidak bisa tidur!" teriaknya seraya kembali duduk. 


Beberapa kali mencoba memejamkan kedua matanya yang sudah sangat lelah. Namun, tidak berhasil juga. Pikirannya masih melayang-layang kepada sang pemilik hati dan calon buah hatinya. 


Malik memegangi kepalanya. Sedikit menjambak kasar rambut ikalnya. Laki-laki itu berusaha mengalihkan rasa sakit dengan cara menyakiti diri. Hingga ketukan pintu dari luar mengalihkan perhatiannya. Malik menatap pintu kamar, tetapi sama sekali tidak berniat membukanya. 


"Malik, bolehkah mami masuk?" 

__ADS_1


"Masuk saja, Mi. Pintunya tidak dikuci," jawab Malik tetap pada posisinya. 


Riani segera membuka pintu kamar sang putra setelah mendapat izin untuk masuk ke dalam. Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Riani saat melihat keadaan Malik yang amat berantakan. 


"Malik, Sayang!" Riani berlari menghampiri sang putra. 


"Mami, Malik sudah kehilangan Kayla," gumam Malik masih enggan menatap wajah ibunya. 


"Maksud kamu apa, Malik? Rihanna hanya sedang ingin bertemu mamanya. Bukan untuk meninggalkan kamu!" bantah Riani sesuai apa yang dia ketahui. 


"Kayla bohong, Mi. Dia bukan ingin bertemu mamanya, dia hanya ingin meninggalkanku. Dia tidak mencintaiku!" seru Malik kini menatap kedua mata sang ibu. 


Riani tersentak kaget. Dia memang tidak tahu permasalahan apa yang terjadi sampai menantunya itu meminta diantarkan ke kediaman Alefosio. Keterangan sang putra kini membuatnya juga merasakan ketakutan yang sama. Riani tidak ingin kehilangan menantu serta calon cucunya. 


"Sebenarnya kenapa, Malik? Kenapa kamu membuat drama itu? Sejak awal mami tidak setuju dengan ide konyol kamu itu." 


"Kayla marah padaku, Mi. Dia bilang keusilanku sudah keterlaluan karena bisa mengorbankan anak kami," jelas Malik sesuai apa yang dikatakan oleh sang istri.


Kedua mata Malik semakin sayu, kesedihan begitu nampak di wajah tampannya. Kondisi pakaiannya pun sudah sangat memprihatinkan. Beberapa bagian banyak yang sobek akibat kecelakaan itu. 


Awalnya Malik merasa di atas angin dan menang ketika mendengar pengakuan Rihanna, bahwa wanita hamil itu tidak ingin kehilangannya. Namun, sekarang justru sesal yang menghimpitnya dan membuat Malik terpuruk. 


"Sudah. Kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan! Sekarang pergi ke kamar mandi dan ganti pakaianmu. Tunaikan kewajibanmu sebagai umat muslim. Perbaiki dirimu, niscaya Allah akan memberikanmu pertolongan yang tidak pernah kamu sangka-sangka." 


"Mi, apakah Malik sama sekali tidak pantas bersaing dengan Danendra?" 


Pertanyaan itu tiba-tiba terucap begitu saja. Riani menggeleng keras lalu menangkup wajah tampan putranya. 


"Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing, Malik. Jika di hadapan orang mungkin kamu tidak ada apa-apanya di banding Nendra, lain dengan pandangan Allah. Bisa jadi kamu adalah orang yang tepat yang di takdirkan Allah untuk menjadi imam dunia akhirat Rihanna. Untuk itu mami menyuruhmu untuk memantaskan diri, baru kejarlah cintamu setelah kamu mendapatkan ridho dari-Nya!" 


"Apakah Malik bisa berharap lebih, Mi?" 


"Janji Allah itu pasti, Malik. Jangan pernah meragukan kuasa-Nya! Sudah, mami tidak ingin melihat kamu dalam keadaan terpuruk seperti ini." 


"Mami, salahkah jika Malik ingin memastikan perasaan Kayla?"


"Tidak ada yang salah, Malik. Tapi apa yang dikatakan oleh Rihanna memang benar. Tingkah kamu sudah keterlaluan. Mami tidak ingin kamu kembali melakukan aksi seperti tadi. Itu terlalu berbahaya, Malik. Kau bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa!"

__ADS_1


__ADS_2