
Semilir angin pagi begitu menyejukan hati, Nada dan ibunya tengah merangkai bunga di kebun belakang. Banyak sekali bunga peliharaan ibunya yang berjejer rapi dan menambah keasrian rumahnya.
"Apa kalian tidak bermaksud mememani ayah sarapan?" tanya ayah yang sudah siap dengan setelan jasnya untuk berangkat bekerja.
Ibu dan Nada tampak mengakhiri aktifitasnya dan berjalan ke arah dimana ayah berada. Deringan ponsel terdengar, Nada tampak berhenti dan mengangkat panggilan dari Amara.
"Halo Ra, ada apa?" tanya Nada. Amara terdengar menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.
"Aku mau ke rumah sakit menjemput mama, mau ikut??" tanya Amara.
Nada tampak malas sekali, hatinya dirundung duka gara-gara pertemuanya dengan manusia menyebalkan tadi malam.
"Nada, kenapa kamu tidak menjawab? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Amara di sebrang.
"Kamu ingat aku bercerita padamu waktu itu? saat aku pernah bilang padamu kalau aku bertemu buaya darat yang mengajak ku ke apartemen?" tanya Nada.
"Ya, aku ingat. Kenapa?" tanya Amara antusias.
"Aku bertemu dengannya lagi, dia memakiku. Dia menyamakan aku dengan sampah yang berserakan dan harus di buang ke tempat sampah, bukankah itu sangat menyebalkan?" tanya Nada dengan sebal. Amara tersenyum, pasti Nada sangat sedih saat ini.
"Cup, cup, sebaiknya kita bertemu. Jika kita berpisah kita selalu saja mempunyai masalah. Sepertinya memang kita harus bersama untuk menghadapi masalah bersama," ucap Amara. Nada tertawa dan mengangguki ucapan Amara.
"Segera bersiap, aku akan menyusul," ucap Nada kemudian mematikan ponselnya.
"Ada apa Nak?" tanya ayah saat Nada duduk di samping ayahnya.
"Yah, ibu, boleh Nada keluar?" tanyanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mau kemana? Ke rumah sakit lagi?" tanya ayahnya.
"Iya, yah. Menjemput Tante Hana," ucap Nada.
"Ayah dengar kemarin Amara sudah menikah, apa benar Nad?" tanya ayah. Nada menatap ke arah ayahnya dan tersenyum kemudian mengangangguk sambil menyeruput teh hangat kesukaanya.
"Iya, tapi pernikahan mereka masih dirahasiakan yah. Hanya pihak keluarga saja yang tau," ucap Nada.
"Lalu, kapan kamu mau menikah juga? Kalian biasanya kompak," ucap Ibunya menggoda putrinya. Nada hanya tersenyum.
"Nanti ya, Bu. Kalau sudah ketemu jodohnya," ucap Nada kemudian berdiri.
"Selalu seperti ini, kabur aja terus nak," ucap ibunya sambil tersenyum.
"Kak Arfan aja dulu an, Bu. Aku belakangan aja," ucap Nada hampir saja melangkahkan kakinya.
"Tidak bisakah menemani ayah sebentar? Ada yang ingin ayah sampaikan kepadamu," ucap ayahnya. Nada kembali duduk dan menatap ke arah dan ibunya bergantian.
"Kemarin saat ayah izin pada atasan ayah menjemputmu, beliau bertanya apa anak ayah perempuan?"
"Lalu?" tanya Nada Antusias.
"Ayah menjawab perempuan," jawab ayahnya.
"Lantas?" tanya Nada lagi, ayahnya tersenyum kemudian menyeruput teh hangat di depannya. Nada tampak tak sabar menunggu ucapan ayahnya lagi.
"Dia mempunyai anak lelaki, kira-kira seumuran kakakmu. Dia ingin kalian ta'ruf kenalan begitu, pada intinya dia ingin menjadikan kamu menantunya," ucap ayahnya.
__ADS_1
Uhuk, uhuk, uhuk,
Nada tersedak udara mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya mau menjodohkanya sedang hatinya masih terpaut dengan Rafa.
"Kamu tidak papa kan Nak?" ibu memberikan segelas air putih untuk putrinya dan memijatnya pelan.
"Ayah, tapi Nada belum siap," Nada berdiri dan menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Kak Arfan dulu aja, lagi pula ayah tidak berhutangkan pada bos ayah? Jadi tidak wajib juga kan menjodohkan kami?" tanya Nada tampak kesal. Urusan kekesalannya dengan lelaki tadi malam belum usai, malah ayahnya kini menggoda dirinya.
Ayah dan ibunya tampak terkekeh geli, bagaimana bisa putrinya mempertanyakan soal hutang. Lagi pula apa hubungannya? Kedua orang tua itu tertawa tetapi tidak dengan Nada yang tampak serius.
"Yah, Nada serius, ayah tidak punya hutangkan?Ayah juga tidak bermaksud menukar Nada dengan uang ayahkan?" tanya Nada lagi.
Pak Hasan tampak mengusap pelan pundak putrinya dan membawa Nada bersandar di bahunya.
"Ayah punya putri yang sukses, pandai dan cantik, jika ayah punya hutang tak mungkin ayah menukar putri ayah. Tapi justru ayah meminta bantuan putri ayah dengan kesuksesannya membayar hutang ayah," ucap ayahnya dan membuat Nada bernapas lega.
"Kamu tau Nak, keinginan ayah dan ibu adalah melihat kamu dan kakakmu bahagia. Jodoh itu ada di tangan Tuhan, tapi alangkah baiknya kita juga berikhtiar. Putra atasan ayah adalah orang baik-baik, dia juga setia, siapa tau kalian berjodoh. Ayah tidak mau saja kamu bertemu orang yang salah dan suka mempermainkan perasaan wanita," ucap ayahnya panjang lebar.
Deg
Jantung Nada mendadak berdetak hebat, entah kenapa pikiranya melayang tak tentu arah. Nada menatap ke arah ayahnya dan tersenyum.
"Dibahas lain waktu ya Yah, Nada sudah di tunggu Amara," ucap Nada sambil bersaliman pada kedua orang tuanya kemudian melenggang pergi ke arah mobilnya.
"Oh iya yah, ibu, nanti Nada izin ke apartemen ya, mau mengambil sesuatu," ucap Nada sedikit berteriak dari parkiran.
__ADS_1
"Selalu seperti itu," ucap ibunya. Ayahnya tersenyum kemudian berdiri, ibu juga ikut berdiri menyalami tangan ayah kemudian ayah berangkat bekerja.
🎀🎀🎀🎀