
"Nada Aira Azzahwa," lirih Radit. Seulas senyum terbit di bibir indahnyanya. Namun, sebentar kemudian dia tersenyum sinis mengingat pertemuan di bar kala itu.
"Kau sama saja dengan wanita di luaran sana," ucapnya.
Radit merasakan denyutan hebat di kepalanya, dia memijat pelipisnya. Dia mengerutkan dahinya saat mengingat luka di kepalanya. Memorinya mencoba mencerna bagaimana wanita itu bisa sampai di sini dan mengakibatkan luka di kepalanya?
Radit menghela napas panjang saat mengingat wajah cantik tanpa hijab itu berada di hadapannya. Dia juga mengingat betapa manis bibir wanita cantik itu, betapa pas buah apel di dada wanita itu di genggaman tangannya. Dan sekarang dia ingat sebuah botol mendarat di dahinya dengan sempurna dan menyebabkan luka.
"Kau, aku akan puas bermain denganmu besok malam Nona Nada Aira Azzahwa, katamu kau akan menjadi istri seutuhnya bagiku," lirihnya kemudian melenggang ke kamar tamu.
Terdengar deringan ponsel Radit di atas nakas, segera Radit mengambil ponselnya yang menampakan nama Kak Micho. Segera dia mengangkat panggilan itu.
"Halo kak,"
"Radit, kenapa ponselmu tak bisa dihubungi beberapa hari? Aku tanyakan orang kantor kau belum juga ke kantor, lalu dimana kau seminggu ini?" cerocos Micho panjang lebar membuat Radit menutup telinganya.
"Maaf, aku tidak bisa menghendel kantor seperti yang aku katakan kak. Ada pekerjaan yang lebih menjanjikan dan menunjang karirku ke depan," jawab Radit. Dia masih tidak bisa untuk berkata jujur pada kakak angkatnya. Dia masih ingin hubungan ini hangat tanpa ada rasa canggung.
"Serius, dimana kau bekerja?" tanya Micho terdengar bahagia.
"MRD group, Kak," sahut Radit.
"Wao, itu sangat bagus Radit. Kakak bahagia kau mampu masuk di sana, papa pasti bahagia mendengarnya." Micho tampak tersenyum dan antusias.
"Lalu, kau berada di bagian apa?" tanya Micho. Radit tertawa.
"Kalau aku bilang aku CEO nya apa kakak percaya?" tanya Radit. Micho terdengar terkekeh pelan di sebrang sana.
"Okey, bermimpilah Radit. Tuhan akan mengabulkan dengan segala doa dan usahamu," ucap Micho.
"Sekali lagi aku minta maaf, Kak,"
"Tak masalah, jika itu terbaik untukmu Radit. Kakak ikut bahagia, jangan lupa berkabar. Kakak tutup dulu," ucapnya. Radit menghela napas panjang.
🎀🎀🎀🎀
__ADS_1
Arfan mengeratkan tangannya. Rasanya ingin melayangkan bogem mentah di pipi lelaki yang berada di depan matanya tadi.
Arfan memberikan pukulan demi pukulan ke dinding.
"Kak, jangan begini. Maafkan Nada membuat keadaan ini," Nada yang baru saja mengantar ayahnya ke kamar dan akan mengambilkan minum melihat kakaknya tampak emosi.
"Kau pikir kakak bisa tenang ketika keluarga kita dalam masalah? Ini tidak bisa di biarkan Nada," ucap Arfan.
"Hentikan semua ini kak,!" ucap Nada.
"Hentikan!" ucap Nada lagi.
"Maaf, Nada!" ucap Rafa. Nada menatap tajam ke arah kakaknya.
"Urusan pernikahan ini bahagia atau tidak, biarlah menjadi urusan Allah. Aku ikhlas Kak, yang terpenting buat aku adalah ibu, ayah dan kakak selalu bahagia," ucapnya.
Arfan terdiam dan menatap ke arah Nada dengan teduh.
"Menikah? dengan dia? Kau serius? " tanya Arfan, namun tidak dijawab oleh Nada.
"Kakak tau, lelaki itu yang telah menolongku. Aku berhutang budi dengannya, aku akan menuruti semua yang dia minta." Arfan tampak terkejut dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak harus begini Nada," sanggah Arfan.
"Tapi aku takut mereka menyakiti ayah, ibu dan kakak. Biarkan aku melakukannya untuk memastikan kalian tidak di ganggu oleh mereka, dan aku yakin Allah SWT selalu ada diantara kita," ucap Nada.
Arfan meraih Nada dalam dekapan hangatnya kemudian mengusap pelan pundak adiknya.
"Bahagia selalu sayang," ucapnya tulus.
Nada memejamkan matanya. Hatinya terasa sesak. Sesak sekali, Kenapa dia harus ada diantara pilihan yang sulit?
"Bukan saatnya membantah, kak. Keselamatan kalian jauh lebih penting dari segalanya," lirih Nada.
Nada menatap kakaknya, Nada meneteskan air mata. Marvel? Lelaki yang selalu terlibat cekcok dengannya, dan mereka harus bersama? Apa sanggup? Nada hanya diam, mencoba berdamai dengan keadaan.
__ADS_1
"Sanggupkah?" lirihnya lagi.
"Kamu benar, ayah dan ibu lebih penting dari apapun," ucapnya. Nada memejamkan matanya, mencoba menguasai hatinya, jika ini yang terbaik untuk keluarganya, dia akan melakukannya.
"Iya, Kak. Maaf jika Nada salah, tapi kita harus mencoba melakukan hal ini. Semoga apa yang kita lakukan nanti membawa manfaat," ucap Nada. Arfaan tersenyum dan kembali merengkuh adiknya.
"Amin sayang," ucap Arfan.
"Ya sudah, aku mau ambil minum untuk ayah, aku harus berbicara dengan Ayah juga kak," ucapnya. Arfan mengangguk pelan.
Nada berjalan mengambil segelas air putih dan membawa ke arah kamar ayahnya.
Nada melangkah pelan saat membuka hendel pintu yang memperlihatkan seorang paruh baya tampak bersedih. Nada mendekat dan meletakkan gelas berisi air putih di atas nakas.
"Ayah, jangan bersedih. Nada baik-baik saja," ucapnya.
Namun, ucapan Nada tak membuat ayahnya berbicara. Nada meraih tangan ayahnya dan menciumnya. Lelehan air mata membasahi telapak tangan itu. Seketika Pak Hasan mengusap pelan puncak kepala Nada dengan tangan kirinya.
"Maafkan Nada, ayah," ucap Nada. Lelaki itu tersenyum getir. Inginya memang melihat anak perempuannya menikah. Tapi bukan dengan cara seperti ini.
"Ini bukan salahmu, jika ini pilihanmu ayah meridhoi. Bahagialah selalu, Niatkan pernikahan untuk ibadah kepada Allah SWT. Namun, jika suatu saat kau menyerah. Maka semua keputusan ada di tanganmu," ucap Ayahnya.
Nada mengangguk dan berhambur di pelukan ayahnya. Ayahnya mengusap puncak kepala Nada dan tersenyum. Antara bimbang dan terus yakin Nada meletakan tangannya di dada.
"Bismilah, Innama A'malu binniat (Sesungguhnya, semua perbuatan tergantung dengan niat) Jika niatnya baik insyaallah akan datang kebaikan juga," lirihnya menyemangati diri. Karna Nada mengingat Radit bukanlah orang baik. Bahkan, akan menjadi ladang pahala yang besar baginya jika Allah SWT memberikan cahaya petunjuk bagi suaminya melalui perantara dirinya.
"Bismillah," lirih Nada lagi.
"Kamu jangan lupa jika menikah adalah ladang pahala. Bagi setiap wanita yang mencuci pakaian suaminya, Allah akan memberikan pahala kebaikan sebanyak helai rambut mereka dan menghapus sebanyak itu pula dosa-dosanya dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya. Itu baru mencuci baju, apalagi perbuatan baik lainya. Jadi, niatkan semua untuk beribadah kepada Allah, insyaallah Allah akan memberikan kebaikan," ucap ayahnya. Nada mengangguk pelan.
Dia begitu bahagia mempunyai ayah,ibu, kakak sebaik ini. Bagaimana bisa dia membiarkan mereka menderita? Tidak akan pernah.
🎀🎀🎀🎀🎀
Hayooo... pahalanya nyuci baju suami diampuni dosanya sebanyak helai rambut lo... Tapi sepertinya aku dengar para emak disini pada nyinyir kalo nyuci baju pak su 🤣🤣🤣..ngaku nggak???? 🤣
__ADS_1