Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 35


__ADS_3

Mira melangkahkan kakinya menuju sebuah restauran mahal di sebrang jalan. Setelah meeting berlalu, dia segera menghubungi Zifana dan membeberkan masalah yang dihadapi Marvel putranya.


Dengan resah dan gelisah yang bercampur di hatinya, dia meminta waktu pada Zifana utuk bertemu. Kini, Mira mendapati wanita cantik yang tengah menikmati jus sedang berada di ujung meja restauran.


"Zifana," sapa Mira sambil mencium pipi kanan dan kiri wanita itu.


"Tante," jawab Zifana dengan tenang.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Zifana tampak panik. Mira menggeleng pelan.


"Zifana, bantu tante untuk masalah ini. Dekati Marvel, jadilah menantu tante," ucap Mira.


"Bagaimana cara Zifa membantu? Marvel sangat dingin dan tertutup, tante. Aku bahagia jika bisa menolong tante dan keluarga keluar dari keadaan ini, tapi bagaimana caranya?" ucap Zifana.


"Zifana, tante yakin kamu bisa," ucap Mira. Zifana tersenyum dan memeluk Mira.


"Zifana akan berusaha untuk tante," ucap Zifana dan diangguki oleh Mira.


"Terimakasih, datanglah ke rumah malam ini. Kita bujuk Marvel bersama," ucap Mira.


🎀🎀🎀🎀


Nada dan Sifa tampak membereskan beberapa berkas di meja kerja. Sifa mengamati wajah lelah bos cantiknya itu.


"Nona, apa ada yang bisa saya lakukan sebelum saya pulang?" tanya Sifa.


"Sifa, tolong buatkan aku teh, rasanya aku mau di sini sejenak," ucap Nada.


"Baik Nona," ucap Sifa.


Nada meraih ponselnya, sudah sejak dini hari sampai di sini. Tapi dia belum menghubungi kakaknya, pada akhirnya dia membuat panggilan pada Arfan.


"Assalamualaikum my sister," sapa orang di sebrang dengan senyuman.


"Waalaikumsalam, kakak tampan," sahutnya.


"Lho, sudah bekerja aja. Bukanya baru sampai dini hari tadi?" tanya Arfan.

__ADS_1


"Ya, karna aku terlanjur sudah ada janji." Nada berdiri dan berjalan ke arah jendela.


"Kangen kakak, mari kita bertemu," ucap Nada sambil tersenyum.


Arfan tampak melirik jam yang ada di tangannya.


"Kakak pulang jam 20.00. Kita bertemu di mana?" tanya Arfan.


Nada melirik jam yang menunjukkan pukul 18.00. Dia baru saja selesai mengerjakan kewajiban tiga rokaat. Masih dua jam lagi jika harus menunggu sampai jam 20.00.


"Aku ke apartemen kakak nanti, boleh? Bukankah apartemen kakak tak jauh dari sini?" tanya Nada.


"Oke, kakak tunggu. Kau boleh juga bermalam di apartemen kakak. Tunggu kakak disana, biar orang kakak mengantar acses card masuk padamu,"


"Oke, aku siap kak," ucap Nada.


"Ya sudah, tunggu sebentar, orang kakak akan kesitu." ucap Arfan.


"Hem," sahut Nada.


"Aslamualaikum,"


Nada meletakkan ponselnya, terdengar kembali deringan ponselnya. Tanpa melihat, Nada menggeser tombol dan meletakkan di telinganya.


"Asalamualaikum, apa lagi kak? Iya, aku akan menunggu," ucap Nada.


"Waalaikumsalam, apa kamu baru saja menghubungi kakakmu?" tanya suara di sebrang. Nada melihat ke arah ponselnya dan dilihatnya nama ayah di sana. Senyum terukir di sudut bibirnya.


"Ayah, iya Nada baru saja berbincang dengan Kak Arfan. Jadi ada apa ayah menelepon? Aku pikir Kak Arfan," tanya Nada.


"Jadi ayah mau mengabari bahwa ayah akan terbang malam ini ke pulau X. Besok dini hari kita bertemu, ayah akan menginap di apartemen kakakmu juga kalau begitu," ucap ayahnya.


"Wah, sangat menyenangkan. Apa ayah merindukan Nada?" tanya Nada menggoda ayahnya.


"Ya, dan kebetulan, perusahaan cabang milik bos ayah yang ada di pulau X sedang mengadakan perayaan ulang tahun. Jadi semua staf di setiap cabang diundang untuk datang," ucap ayahnya.


"Wah, asik dong. Kita bisa bertemu besok," ucap Nada.

__ADS_1


"Ya sudah, istirahatlah. Ayah akan menghubungimu besok lagi," ucap ayahnya.


"Siap yah, Nada tunggu," ucap Nada sambil tersenyum.


"Bu, ini teh nya. Tampaknya ibu bahagia sekali," goda Sifa. Nada tersenyum dan memandang asistennya.


"Terimakasih Sifa. Oh ya, sebaiknya kamu panggil aku Nada saja. lagi pula kita juga seumuran kayaknya," ucap Nada.


"Waduh saya jadi tidak enak, Bu," sanggah Sifa.


"Tidak papa, Sifa. Anggap saja saya temanmu," ucap Nada kemudian menyeruput teh kesuakaannya.


🎀🎀🎀🎀🎀


Denguran musik mengalun seirama dengan gerak kesana kemari orang yang tengah berada di arena dance. Namun empat orang pria tampan tampaknya masih suka berbincang di meja bundar yang menyuguhkan beberapa minuman memabukan.


Nico, Vino, Delon dan Radit tampak bercengkrama. Radit sedari tadi tampak diam. Namun, beberapa botol minuman habis dalam sekejap. Nico dan Delon juga melakukan hal yang sama, tapi keadaan mereka jauh lebih sadar di bandingkan Radit. Mereka tampak bersulah merayakan pertemuan setelah beberapa tahun tak bertemu.


Sedangkan Vino, walau di tempat yang sama nyatanya hanya minum sewajarnya saja.


Radit menatap dinding yang tampak begitu buram, sepertinya kesadaran dirinya sudah berangsur menghilang. Namun, syarat pernikahan yang diajukan oleh MR Tan masih mengiang di pikiranya. Terus menghantui otaknya.


"Dam it," Beberapa kali umpatan kecil keluar dari bibir Radit. Bayangan Mira, Amara, Micel, semua membayangi otaknya. Menikah? Mana bisa? Bagaimana dia menjalani kehidupan saat hatinya benar-benar terluka?


"Marvel, tampaknya kau sudah harus berhenti minum," Vino mengambil botol minuman beralkohol dari tangan Radit.


"Bukankah apartemen mu tidak jauh dari sini? Apa perlu aku mengantarmu kesana?" tanya Vino sambil meletakkan botol Wine di atas meja.


Radit menggeleng, dia memilih untuk menghubungi Dani. Namun, sayang sekali Dani tidak mengangkat ponselnya.


"Aku pulang sendiri, aku masih bisa berjalan," ucapnya sambil berdiri dan memegang pelipisnya.


"Apa kau yakin?" tanya Vino. Radit menyunggingkan senyum tipis dan melangkah pergi.


Nicho dan Delon menatap ke arah Radit dan tersenyum, sepertinya dia membutuhkan kehangatan," rancaunya. Vino hanya menggelengkan kepalanya mendengar rancauan tak berfaedah dari sahabatnya.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 22.30. Dani berdiri di depan apartemen. Dani memijat pelipisnya, bahkan sampai sekarang dirinya belum menemukan wanita yang dia anggap cocok untuk tuan mudanya.


🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2