Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 22


__ADS_3

Pagi hari diruang makan sudah mulai sibuk, beberapa pelayan menyiapkan menu makanan kesukaan Tuan Muda mereka yang jarang sekali pulang itu.


Kakek Aldi, Nenek Amy, Nyonya Mira dan juga Micel telah duduk di tempat masing-masing. Tak lama dari itu Radit sosok dingin itu tampak menuruni tangga.


Nenek Amy tampak bahagia menatap ke arah cucu yang sangat mirip dengan menantu laki-lakinya. Ya, sangat mirip dengan Handika, papa dari Radit.


"Pagi Nek, Kek," sapanya pada wanita berusia lanjut itu kemudian mencium pipi kanan dan kiri neneknya. Radit duduk di antara Nenek dan kakeknya tanpa memperdulikan Mira dan Micel.


Mira dan Micel saling berpandangan. Mira meremas ujung bajunya, 10 tahun sudah berlalu dan Radit masih saja bersikap seperti ini. Micel yang tak tau apapun tampak geram pada kakaknya, ia menatap ke arah Radit dengan tajam.


"Apa begini cara kakak memperlakukan ibu? Kakak anggap apa aku dan mama? Kami keluargamu juga, kak." bentak Micel.


Radit terkejut dan tampak mengeratkan rahangnya. Kakek Aldi menghentikan makan. Mira dan Nenek Amy membulatkan matanya. Apa yang akan di lakukan Radit pada Micel nantinya? Mereka tampak was-was.


"Kau bertanya bagaimana cara memperlakukan ibu padaku?" tanya Radit ketus.


Micel tampak memejamkan matanya, gadis 17 tahun itu tak gentar menghadapi Radit di depannya.


"Ya, tidak seharusnya kakak mengabaikan mama," sahutnya.


"Kau tanya dulu, ibu macam apa dia? Apa pantas dia disebut sebagai ibu?" sinisnya.


Micel tampak tercengang dan menatap Mira. Mira mengusap pundak Micel dan mencoba tersenyum.


"Micel, makanlah sudah siang. Segera berangkat, nanti kamu terlambat," ucap Mira.


Sementara Nenek Amy mengusap pundak Radit dan mencoba menenangkannya.


"Ma, apa yang mama perbuat?" tanya Micel penasaran.


Radit melirik ke arah Mira yang tampak bingung.


"Lain waktu mama akan membicarakan padamu, sekarang makanlah," ucap Mira.

__ADS_1


"Aku tidak napsu makan," ucap gadis kecil iti kemudian menyambar tas kuliahnya dan mencium tangan Mira.


Ia berjalan ke arah nenek dan kakek.


"Hati-hati Sayang," ucap neneknya. Sedangkan kakek hanya mengusap pelan pundak Micel.


Selesai berpamitan pada nenek dan kakeknya, kini Micel berdiri di depan Radit, dia mengulurkan tangannya ke pada Radit.


Radit tampak mengalihkan pandangannya dan mengabaikan uluran tangan Micel.


"Aku tidak tau apa salahku kak, semoga saja Tuhan membukan mata mu," tegas Micel kemudian melangkah pergi. Radit mengepalkan tangannya, ucapan Micel bagaikan belati yang menusuk hatinya.


"Marvel, sarapan dulu Nak," pinta nenek ketika Radit tampak berdiri dan hendak melangkah.


"Aku harus pergi sekarang,"


"Marvel, baru tadi malam kamu datang sekarang mau pergi lagi?" tanya Kakek Aldi.


"Aku tidak punya pilihan, Kek," ucapnya.


Sebelum Radit melangkah ia berhenti tepat segaris lurus dengan Mira yang tampak memandang ke arahnya. Ingin rasanya dia berhambur memeluk seirang ibu yang dia nantikan dekapannya. Namun, luka yang menganga di hatinya seakan tak mampu untuk menahan desiran rasa sakit yang menyiksa.


Mira meneteskan air mata, saat Radit melangkah begitu saja.


"Okey marvel, jika ini maumu. Mama tetap mama yang akan mengendalikanmu, lihat saja nanti," ucap Mira lirih sambil mengusap air matanya.


"Mira, seharusnya kau mencoba meluluhkan hati Marvel. Tidak begini caramu, bagaimana bisa kalian berdamai jika kamupun sama keras kepalanya seperti Marvel," ucap nenek Amy.


"Harus bagaimana lagi caraku Ma? Lihat cucumu itu, dia bahkan tidak mau menyapaku,"


Nenek Amy menghela napas panjang. Mira melangkah pergi. Kakek hanya terdiam, dia mengusap pelan pundak istrinya yang terpukul karna kejadian pagi ini.


🎀🎀

__ADS_1


Radit melangkah menuju mobil miliknya, ia memilih pergi ketimbang harus berdebat dengan Micel yang memang tidak tau apa-apa. Micel? Dia hanya korban kemarahannya akibat kesalahan kedua orang tuanya.


Radit mengepalkan tangannya, kenapa takdir hidupnya harus seperti ini? Wanita? Selalu saja wanita yang membuat masalah di hidupnya.


Radit hendak membuka pintu. Namun, disana sudah ada beberapa bodyguar yang menghalangi jalannya.


"Minggir," ucap Radit ketus.


Namun, para bodyguar itu tampaknya tak mau untuk mengikuti perintahnya. Mereka tetap berada di tengah pintu dan menghalangi Radit masuk ke mobil.


"Maaf Tuan Muda, Tuan sepuh yang meminta kami untuk mencegah Tuan Muda pergi," ucap mereka.


Tak lama dari itu, Kakek Aldi datang dan menghampiri Radit yang tampak kesal.


"Kau tetap tinggal disini, atau kau tak bisa melihat nenek untuk selamanya?" tanya lelaki tua itu.


Radit tampak terkejut dan menatap tajam ke arah kakeknya.


"Ini bukan pilihan kek," ucapnya ketus. Kakek Aldi mengusap pelan pundak Radit dan tersenyum.


"Ini pilihan dari nenek, jika kamu keluar satu langkah saja. Jangan pernah berharap kamu bisa kembali untuk menatap wajah nenekmu," ucapnya penuh dengan penekanan.


Radit mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa ini terjadi?


"Kek, aku tidak bisa!" bantah Radit.


Bagaimana bisa dia harus tinggal serumah dengan ibunya lebih lama? Wanita yang sangat dia benci? Radit menggelangkan kepalanya.


"Tidak ada penolakan, Marvel Raditia Dika!" tegas kakek kemudian melangkah pergi.


"****," umpatnya sambil menatap punggung kakek yang menjauh darinya. Mau tidak mau pada akhirnya Radit kembali ke dalam rumah itu.


🎀🎀🎀🎀😍

__ADS_1


__ADS_2