Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 101


__ADS_3

"Micel," lirih Radit.


Radit masih mengamati kedua wanita cantik yang sedang berbincang itu.


"Micel, tidak keluar? Hari ini liburkan?" tanya Nada sambil menatap ke arah Micel yang tengah menatap ke arahnya. Mereka merangkai bunga indah yang bermekaran.


"Aku tidak pernah keluar, Kak Marvel tidak suka kalau seorang gadis keluyuran," ucap Micel, matanya tampak berbinar saat mengucapkan. Bahkan, dia seakan bangga dapat mematuhi kemauan kakaknya itu.


Nada menautkan alisnya. Jadi suaminya pernah bertegur sapa dengan Micel? bantinnya. Nada tersenyum, tangan dan matanya fokus pada rangkaian bunga.


Deg, jantung Radit yang masih berdiri di atas sana berdetak hebat saat mendengar penuturan Micel. Kenapa Micel tau? Sedang dirinya tak sekalipun mengatakan pada Micel. Lalu apa karna itu gadis cantik 18 tahun yang baru menginjak semester dua itu tak pernah keluar di hari libur?


"Kak Marvel yang mengatakan?" tanya Nada dengan santai, tangannya masih merangkai bunga. Micel hanya terkekeh sehingga membuat Nada mengarahkan pandangannya pada Micel.

__ADS_1


"Mana mau Kak Marvel mengatakan padaku, bahkan Kak Marvel membenciku. Entah karena apa," ucap Micel. Wajah cantik yang semula berbinar itu kini berubah redup.


Nada memejamkan matanya dan merasakan sesak menghujam hatinya. Micel, adik iparnya itu benar-benar patut untuk dibanggakan. Bagaimanapun sikap suaminya, nyatanya Micel tetap mematuhi aturannya.


"Lalu dari siapa kamu tau?" tanya Nada lagi mencoba menyelami hati Micel.


"Nenek, nenek bilang Kak Marvel menginginkan adik perempuan sejak dulu." Micel tersenyum, lebih tepatnya tersenyum getir. Akan tetapi Nada tau senyuman itu adalah senyuman kepedihan.


Nada memejamkan matanya. Dia tau, saat ini Micel menahan sesak di dadanya. Sama seperti apa yang dia rasakannya.


Deg, jantung Nada seakan terguncang, merasakan desakan yang begitu menyesakkan dadanya. Beginikah usaha Micel untuk merebut perhatian Radit. Ditatapnya mata gadis 18 tahun yang kini berlinang air mata itu.


"Tapi, sekeras apapun usahaku. Nyatanya Kak Marvel tak pernah mau melihatku," lanjut Micel.

__ADS_1


Nada memejamkan matanya. Melihat linangan air mata Micel membuatnya sesak. Nada meletakkan rangkaian bunga, dia meraih Micel dalam dekap hangatnya. Air mata Nada juga luruh tanpa diminta. Micel tidak salah apapun. Bantah hatinya.


"Aku hanya ingin di peluk sebentar saja oleh Kak, Marvel." lirih Micel disela isak tangisnya.


Deg, jantung Nada kembali tergoncang. Air mata terus berderai tanpa henti. Andai suaminya mendengar jeritan hati Micel tanpa setingan ini.


"Micel, kamu gadis yang kuat. Kakak akan membantumu, untuk meraih pelukan dari Kak Marvel," lirih Nada sambil mengusap air matanya.


Micel melepas pelukan Nada dan menatap Nada dengan binar mata yang penuh dengan semangat.


"Apa kakak serius?" tanya Micel dan diangguki oleh Nada. Micel berhamburan ke pelukan Nada. Dia sangat bahagia.


Radit yang semula tertawa karna kelucuan dua wanita itu, kini tampak berubah sendu. Micel, apa salah gadis itu? Bahkan tak pernah sekalipun gadis itu melukai hatinya. Lalu, kenapa dia seakan membencinya?

__ADS_1


Radit memejamkan matanya dan merasakan sesak yang mungkin sama sesaknya seperti apa yang Micel rasakan.


😭😭😭😭😭😭


__ADS_2