
Radit hampir membuka pintu dengan tenang, Mama Mira, Nenek Amy dan Kakek Rey tengah istirahat di sofa. Mereka tampak kelelahan sehingga memejamkan matanya.
Sedangkan Nada dan Micel tampak berpandangan serius, sehingga membuat Radit menghentikan langkahnya. Radit mendengarkan perbincangan Nada dan Micel, adiknya.
"Antar aku ke kafe mawar. Ada yang menungguku di sana, Kak" ucap Micel lagi.
Deg
Lagi-lagi jantung Nada bergetar hebat, dia tau yang dimaksud Micel. Pasti lelaki yang mampu menggetarkan hatinya seperti yang dia bilang saat itu. Jadi hanya dirinya dan lelaki itu yang benar-benar dia ingat? Bahkan Micel seakan mendessak dirinya untuk ke sana.
Nada tersenyum sambil mengusap pelan pundak Micel, Nada menghela napas panjang.
"Ini sudah malam, lagi pula kafe mawar sudah tutup, memangnya siapa yang menunggumu?" tanya Nada, ingin dia mencoba ingatan Micel, barang kali ada memori yang tertinggal untuk diingat.
Micel memutar bola matanya, siapa yang menunggunya? Bayangan lelaki tampan menyelimuti pikirannya. Micel mencoba untuk mengingat, tetapi rasanya kepalanya sangat sakit dan tak mempu menyebutkan nama dari lelaki itu.
"Dia tampan, dia sangat menawan, tapi dia juga ketus. Tetapi dia peka," ucap Micel. Seulas senyum terbit dari sudut bibirnya.
Nada tersenyum, sepertinya Micel benar-benar lupa segalanya.
"Micel makan ya, kakak akan membantumu bangun," ucap Nada dan diangguki oleh Micel.
Nada berdiri dan membantu Micel untuk bangun, di tumpuknya dua bantal agar Micel bisa bersandar. Setelah itu, Nada meraih mangkuk yang berisi bubur.
Semua alat yang melekat pada Micel sudah dilepas, Micel sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa dan keluar dari ruangan ICU.
Nada menyuapkan bubur pada Micel, namun perutnya tiba-tiba saja mual melihat makanan itu. Nada menahan dan semakin menahan, akan tetapi respon tubunya berbeda. Rasanya sangat mual dan mendesak ingin keluar semua isi perutnya.
"Micel, sebentar ya. Kakak ke toilet sebentar," ucap Nada. Micel menatap ke arah Nada dan tampak khawatir.
"Kakak sakit?" tanyanya.
"Kakak sepertinya masuk angin," ucap Nada. Gejolah di dalam perutnya semakin tak tertahan membuat Nada segera berdiri dan berlari menuju ke toilet.
Radit yang memang berada di depan pintu segera masuk, Micel hanya memandang wajah tampan orang yang mengIkuti arah Nada berjalan itu.
"Sebenarnya siapa dia? Kenapa asal masuk?" pikir Micel yang mengkhawatirkan Nada. Ingin dia membantu Nada, tetapi kondisinya belum memungkinkan.
Nada memuntahkan isi perutnya, rasanya mual sekali. Padahal seharian ini dia tidak makan apapun, apa asam lambungnya naik? Astaga. Sepertinya dia harus mengisi perutnya. Nada memutar langkahnya setelah membersihkan mulutnya.
Dirinya menabrak sosok tegap yang kini berdiri di depannya, lelaki itu meraih Nada dalam rengkuhannya.
__ADS_1
Nada mendongak, dilihatnya sosok tampan yang begitu membuatnya bahagia.
"Kamu sakit, kamu harus di periksa," ucap Radit sambil mengusap pelan pipi Nada.
"Aku hanya masuk angin Yang, jangan mengkhawatirkan ku. Cari makan saja sepertinya sudah cukup. Aku tidak makan sedari siang, untung saja mag aku tidak kumat," ucapnya pelan.
"Harus diperiksa, jangan memprediksi." ucap Radit lagi.
"Tidak, aku tidak papa. Aku ingin makan roti bakar di depan sana, sepertinya enak sekali Yang," ucap Nada. Radit menatap lekat wajah cantik istinya. Wajah yang tampak pucat. Dipastikan istri cantiknya itu kelelahan.
"Aku antar," ucap Radit.
"Kamu temenin Micel aja Yang, aku bisa sendiri." ucapnya. Radit menghela napas panjang kemudian menatap Nada dengan wajah kecewa.
"Micel butuh teman, lagian Nenek, Kakek dan Mama lagi istirahat. Jangan khawatir, aku tidak papa yang," ucap Nada meyakinkan.
"Okey, aku menurut apa katamu," ucapnya. Nada tersenyum kemudian berjinjit dan mencium pipi Radit.
"Jangan cemberut, kau sangat jelek." Nada berucap kemudian melangkah pergi, membuat senyum Radit mengembang. Wanita itu pandai sekali membuatnya bahagia.
Radit keluar dari kamar mandi, dilihatnya Nada sudah tiada. Kini dia saling menatap dengan gadis dua puluh tahun yang kini duduk di atas ranjang.
Micel menatap pintu kamar mandi yang terbuka, tampak wajah tampan dari orang yang tak ada dalam ingatannya. Micel mengalihkan pandangannya. Rasanya dia tak respek dengan sosok yang terus mendekat ke arahnya itu.
"Kak bisa memperkenalkan dirimu?" tanya Micel, tangannya terulur untuk meletakan mangkok bubur. Karna kesulitan, Raditpun menolong adiknya itu.
"Terimakasih kak," ucapnya dan diangguki oleh Radit.
"Kau benar-benar melupakanku?" tanya Radit.
Micel memejamkan matanya, sama sekali tak ingat dengan wajah di depannya. Justru wajah lain yang muncul. Yang jelas saat ini Micel menginginkan berada dalam pelukan orang di depannya.
"Aku lupa," ucap Micel dan sanggup membuat goresan luka di hati Radit. Namun, Radit tau, ini bukan kemauan Micel. Melihat Micel sadar saja adalah anugrah terindah untuknya.
"Kak," ucap Micel yang menyadari wajah Radit yang tampak kecewa.
"Kak, kakak bersedih?" tanyanya. Radit menghela napas dalam-dalam.
"Ya, kau melupakanku dan hanya mengingat kakak iparmu. Itu sangat menyakitkan Micel," ucap Radit sambil mengusap pelan puncak kepala Micel.
Micel tampak berpikir, kakak ipar? Jadi Nada kakak ipar? Lalu, orang di depannya? Micel tersenyum dan menatap lelaki tampan itu.
__ADS_1
"Kak Nada kakak ipar, jadi kau kakakku?" tanya Micel. Radit mengangguk, Micel tersenyum dan menatap Radit.
"Apa kau tidak mau memelukku Kak? Sepertinya berada dalam pelukanmu sangat nyaman, beri aku satu pelukan, agar aku tak iri melihat kalian berpelukan di dalam toilet tadi," celetuk Micel.
Radit membelalakan matanya, astaga Micel ternyata mengingat mendambakan pelukan itu, meskipun cara mengungkapkan tidak seperti yang dia pikirkan ketika dalam kondisi sebelum kecelakaan.
"Mau berapa lama aku peluk? Kakak akan meladeni," ucap Radit.
Micel tertawa mendengar jawaban Radit yang sesederhana, namun mampu membuatnya bahagia. Tak terasa air mata Micel menetes di sudut matanya.
Tadit terdiam kemudian menyentuh sudut mata Micel dengan jarinya, mengusap air mata yang jatuh dari mata indahnya.
"Benarkah kak?" tanya Micel. Radit tersenyum tipis kemudian memandang wajah pucat di depannya, ia bangga mempunyai seorang adik sekuat Micel.
Radit tersenyum kemudiam meraih Micel dalam dekap hangatnya. Suasana haru, Micel menangis tersedu, entah apa yang ada di benaknyapun di tak mampu memahami. Yang jelas di dalam pelukan Radit membuatnya bahagia.
"Kita memang baru saling bercengkrama, bahkan kita tidak pernah seakrab ini sebelumnya. Tapi asal kamu tau, kakak sangat menyayangimu Micel," ucap Radit sambil mengusap pelan pundak Micel.
"Terimakasih kak, aku sangat bahagia," ucap Micel.
Mira yang terbangun dari tidurnya kini melihat kedua putra dan putrinya. Setetes air mata mengalir di pipinya. Dia bahagia melihat pemandangan di depannya.
"Kak, kakak tidak mau menyusul Kak Nada?" tanya Micel. Radit melepas pelukannya dan menatap ke arah Micel.
"Kak Nada bilang aku harus menemanimu," ucap Radit.
"Aku tidak papa, bahaya lo kak kak Nada sendirian di luar, ini sudah malam," ucap Micel khawatir. Radit tampak berpikir.
"Kamu susul saja Nada. Biar Micel sama mama," sahut Mira sambil berjalan ke arah Radit dan Micel.
Radit dan Micel saling berpandangan, kemudiam menatap ke arah Mira yang tampak tersenyum.
"Susul istrimu, pasti dia akan bahagia," ucap Mira. Radit masih tampak canggung. Bahkan baru kali ini Mira tampak baik setelah beberapa tahun lamanya.
"Okey, aku titip Micel." Radit beruccap kemudian berjalan ke luar.
❤❤❤❤
Nada mengedarkan pandangannya, netranya mencari-cari penjual Roti bakar lain karena di sini sangat antri. Perutnya terasa lapar dan mual secara bersamaan.
Nada melangkahkan kakinya dengan santai, ia membayangkan betapa lezat Roti bakar itu. Entah kenapa dia ingin makan, padahal biasanya dia sangat tidak suka selai.
__ADS_1
"Ini untukmu dahulu, kamu menginginkannya kan?" seseorang di samping Nada mengulurkan kantong plastik kepadanya. Nada menoleh dan terkejut mendapati orang itu ada di sampingnya.
😍😍😍😍😍😍