
Micel mengedarkan pandangan menatap ke arah jalan jalan yang dilalui, begitu indah dan sangat membahagiakan. Kanan kiri jalan terdapat pemandangan yang memanjakan matanya. Pepohonan berjejer dengan rapi dan beraturan. Udara nan sejuk membuat pikiran Micel begitu fres.
Bahagia? Sangat bahagia, entah sepertinya dia sering datang di tempat ini. Tempat yang entah berapa jauh dari mansionnya.
Nicho dan Micel? Mereka berdua hanya diam, sambil mendengar merdunya lantunan lagu yang mengalun dari radio yang berada di dalam mobil.
"Kamu bahagia?" tanya Nicho membuka percakapan sambil mengedarkan pandangan matanya ke arah Micel yang menatap luar sana.
Micel menoleh ke arah Nicho dan tersenyum.
"Aku sangat bahagia Kak, terimakasih telah membawaku ke sini," ucap Micel sambil tersenyum memandang ke arah Nicho.
Micel menghela napas dalam dalam dan mencoba menghilangkan rasa sesak yang berada dalam hatinya. Sebenarnya perasaannya dan otaknya masih dipenuhi dengan bayangan Vino, akan tetapi entahlah, dia tidak ingin larut dalam rasa sakit. Sakit tak berdarah yang selalu di berikan oleh orang yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Sama sama Del," jawab Nicho sekenanya.
Micel tampak terusik dengan panggilan yang dilontarkan oleh Nicho.
"Del?" tanya Micel antusias.
Nicho memejamkan matanya, Adel adalah panggilannya untuk Micel sejak dulu. Untuk berpura-pura dan mencoba tak mengenal Micel untuk saat ini pun rasanya tak bisa.
"Hem, Adelia. Bukankah itu juga namamu?" tanya Nicho. Micel tampak tersenyum dan menjawab pertanyaan Nicho dengan anggukan.
"Micela Adelia Dika," lirih Micel sambil terkekeh.
"Jadi apa sebenarnya Kakak mengenal dekat denganku?" tanya Micel. Nicho terdiam.
"Kak," panggil Micel lagi pada Nicho yang tampak tenang dan memandang ke arah depan.
"Ya," jawab Nicho dengan tenang juga.
"Coba kakak jelaskan padaku dan bantu aku mengingat bila memang kakak tau masalaluku," ucap Micel penuh harap. Nicho masih terdiam.
"Oke kalau memang kakak tidak mau menjawab," ucapnya prustasi.
"Bagaimana bisa kakak ada di depan kantor Kak Vino? Apa ada urusan atau sekedar lewat?" tanya Micel lagi.
"Aku menghawatirkanmu, aku ingin menjagamu," batin Nicho.
__ADS_1
Andai saja perasaannya terbalas, mungkin dia sangat bahagia. Akan tetapi, Cinta Micela tak pernah ada untuknya. Sayang Micela hanya sebatas kakak, tak lebih dari itu.
"Kak," panggil Micel lagi dan membuat Nicho menoleh.
"Aku hanya kebetulan lewat di sana, jangan berpikir yang tidak tidak," jawab Nicho.
Nicho memberhentikan mobil mewahnya di sebuah Vila yang sangat indah. Micel menatap takjup ke arahnya. Matanya berbinar, segera Micel turun dan membawa rantang makanan yang tadi dibawanya, ditatapnya sebuah Vila berlantai dua itu.
Tak salah lagi, sepertinya memang dia sering ke sini. Micel menatap ke arah Nicho. Nicho memencet salah satu tombol sehingga pintu Vila terbuka.
Disana, sepasang anak kecil lelaki dan perempuan yang tengah bermain menoleh ke arah Nicho sambil tersenyum.
"Uncle," teriak kedua bocah yang memakai pakaian yang sama persis itu. Mereka berlari dan memeluk Nicho yang kini merentangkan kedua tangan menatap ke arah dua bocah kecil yang kira kira umur lima tahun itu.
Micel terpesona pada sepasang anak kembar yang tampan dan cantik itu.
Belum puas mereka memeluk ke arah Nicho, netra kedua bocah itu menatap ke arah Micel yang berdiri dengan tenang.
"Uncle membawa Aunty untuk bermain bersama dengan Kalian," ucap Nicho sambil melepas pelukannya. Menatap ke arah kedua bocah kembar itu.
"Aunty Adel," sapa kedua bocah itu bersamaan. Micel menautkan kedua alisnya. Apa mereka mengenalnya? Hais, entahlah. Keimutan mereka membuat Micel tersenyum meletakkan rantang di atas meja kemudian berjongkok, merentangkan kedua tangannya menyambut bocah itu.
"Aunty kenapa lama tidak mengunjungi Alda dan Aldi? Kami kangen tama aunty Adel," ucap bocah tampan itu.
Micel memejamkan mata indahnya, jadi nama bocah kembar itu Alda dan Aldi? Micel menatap Nicho yang kini memandangnya.
"Mereka Alda dan Aldi, anak dari Kakakku. Kakak iparku sepertinya mempunyai gen kembar. Makanya bisa mempunyai anak kembar," ucap Nicho.
Micel menatap ke arah Nicho seolah bertanya, apa tidak ditanyakan? Seolah mengerti kebingungan Micel, Nicho tersenyum.
"Kakak iparku sejak usia kecil tinggal di panti," ucap Nicho.
"Oh, ada tamu rupanya. Uncle Nicho, sejak kapan datang?" sepasang suami istri yang tampak sangat bahagia berjalan ke arah Nicho dan Micel yang berdiri di ruang tamu.
Micel menatap takjup ke arah wanita cantik yang kini tengah menggandeng tangan suaminya dan berjalan ke arah mereka.
"Mata itu," Micel memejamkan matanya. Melihat mata wanita yang berjalan mendekat ke arahnya membuat dia terbayang dengan mata seseorang. Siapa? Entah, yang jelas dia merasa dekat.
"Adel," sapa wanita yang usianya berkisar dua puluh sembilan tahun itu sambil memeluk Micel.
__ADS_1
"Hei kenapa lama tidak ke sini Sayang?" tanya wanita cantik itu. Cantik? Sangat cantik, bahkan dia adalah sosok yang sempurna.
Lagi lagi mata itu membuat Micel mengingat seseorang dan entah siapa, dia belum bisa menemukannya.
"Kak, Adel hilang ingatan. Beberapa minggu yang lalu dia mengalami kecelakaan dan tidak mengingat apapun," jelas Nicho sehingga membuat kakak dan kakak iparnya tercengang.
Mereka menatap ke arah Micel yang menatap ke arah mereka bergantian.
"Astaghfirullah Adel, jadi kamu mengalami musibah itu? Kamu juga melupakan kami?" tanya wanita cantik itu. Micel tersenyum tipis.
"Oke, Kakak akan memperkenalkan keluarga kecil kami. Dia adalah Nicho adik iparnya kakak, kamu ingatkan? Suami kakak adalah Kak Vito, mereka si kembar Alda dan Aldi. Dan Kakak sendiri adalah Davina," ucap wanita cantik itu sambil memperkenalkan diri dengan senyuman yang indah.
Micel terkekeh, lucu sekali baginya menyaksikan kekonyolan ini.
"Davina?" tanya Micel.
"Hem, Panggil saja Kak Vina. Sama seperti Nicho memanggilnya," ucap Vito dengan senyuman. Tangan Vito terulur meraih pinggang wanita yang memperkenalkan diri dengan Davina itu dengan posesif.
Andai saja suaminya sesayang itu padanya, akan tetapi hanya angan belaka.
"Apa yang kamu bawa?" Davina melirik ke arah rantang makanan yang berada di atas meja.
"Ini...."
"Kamu membawa sup iga dan rendang kesukaan kita?" tanya wanita cantik itu karna mencium bau makanan yang harum.
Micel menautkan alisnya. Dia memang membawakan makanan yang disebutkan oleh wanita cantik itu. Kebetulankah? Apa memang suaminya dan wanita di depannya memiliki selera yang sama? kata Bi ira tadi, makanan kesukaan Vino adalah sup iga. Entahlah. Micel tak mau pusing.
"Iya Kak," ucap Micel. Davina terkekeh.
"Wah, kalau begitu kita tidak perlu lagi masak untuk makan siang. Ayo kita siapkan makanannya ke ruang tengah," ucap Davina sambil menggandeng tangan Micel dan membawa rantang yang dibawa Micel tadi.
Micel dan Davina menyiapkan makanan, tak lama kemudian, si kembar Alda dan Aldi menyusul mereka. Nicho dan Vito juga menyusul. Mereka menikmati makan siang dengan lahab. Micel tersenyum dan menatap ke arah keluarga bahagia itu.
"Andai saja aku bisa sebahagia mereka," lirih nya.
"Terimakasih Kak Nicho, telah membawa aku di antara mereka yang tak mengabaikan aku, aku bahagia di tempat yang nyaman ini," batin Micel.
👌👌👌👌👌
__ADS_1