
Radit melangkahkan kakinya ke arah Sheyna bontique lagi, sudah sepi disana. Namun, dia masih mendapati wajah cantik istrinya sedang manyun di taman belakang. Radit melangkah pelan dan menutup mata Nada dari belakang.
Nada merasakan kehadiran sosok yang amat sangat dia nanti, marah? Bahkan rasa itu telah lenyap dari tadi dan tergantikan dengan rasa rindu yang menggebu. Akan tetapi, tak semudah itu. Ingin dia tau bagaimana suaminya itu menghadapi dirinya yang berkesempatan untuk manja.
Entah, dia ingin selalu ada dalam belaian kasih sayang Radit. Entah karna efek kehamilan atau karna apa. Nada menyentuh tangan Radit yang ada di matanya, bibirnya merekahkan senyuman indahnya.
"Kamu dari mana saja Yang?" tanya Nada sed]it ketus.
Radit melepaskan tangannya dan melangkah ke depan Nada. Bukan marah lagi, justru Nada tampak syok saat melihat ujung bibir suaminya yang lebam.
"Yang, ini kenapa? Kamu berantem?" tanya Nada dengan panik.
"Kamu berkelahi? Dengan siapa? Memangnya kamu dari mana saja? Siapa yang berani melakukan ini padamu Yang?" tanya Nada panjang lebar dan membuat Radit menyunggingkan senyum tipis saat melihat bibir ranum merah muda itu bergerak gerak mengomel padanya.
Nada mengusap wajah Radit dan meletakan kedua tangannya di pipi Radit. Kepalanya mendongak dan membuat Radit melingkarkan tangannya ke pinggang Nada.
Tanpa aba-aba, Radit mencium Nada dengan lembut. Memberikan kenikmatan yang mampu membuat Nada berhenti berbicara, Nada memejamkan mata indahnya. Ini di luar, dan Radit melakukan ini? Ingin menghentikan sayang, kalau tidak di hentikan lalu bagaimana jika ada orang yang melihat? Pada akhirnya Nada mendorong Radit dan sanggup membuat suami tampannya itu mundur beberapa langkah.
"Kebiasaan nggak tau tempat, bagaimana kalau ada yang lihat yang?" sentak Nada tampak emosi.
"Aku tak perduli, kau istriku. Bahkan aku sudah mempublikasikan, lalu apa lagi?" cerca Radit sambil tersenyum.
Nada melangkahkan kaki, mengambil mangkuk dan kain. Tadinya mau marah marah, kenapa malah dia malah panik?
"Bukan hanya wartawan, apa kamu tidak kasihan pada para readers? Mereka ibadah puasa lo, Yang. Kasiankan kalau harus melihat kita yang mesra mesraan," ucap Nada sambil mengusap pelan sudut bibir Radit dengan kain basah yang baru saja dia ambil.
__ADS_1
"Khilaf sedikit saja, mereka suka kok. Lagian nggak aneh-aneh juga. Bahkan mereka selalu menunggu kita romantis-romantisan yang penting nggak sampai dibuat kebablasan," ucap Radit sambil menarik Nada dalam dekapannya.
"Begitukah?" tanya Nada.
"Hem," jawab Radit. Nada tersenyum dan menggeleng pelan, kemudian meletakan kain basah di atas mangkok.
"Dasar narsis.Kita buktikan di kolom komentar, mereka protes atau enggak. Sebaiknya kita pulang, aku ingin segera mandi." ucap Nada.
"Hem, ayo pulang," ucap Radit sambil mengangkat tubuh Nada dalam gendongannya.
"Bentar deh, ini tadi kenapa? Kamu belum jawab," ucap Nada. Radit tersenyum dan menatap istrinya dengan teduh.
"Hanya luka kecil, berantem dengan Vino sebentar," ucap Radit.
"Vino?" tanya Nada antusias dan membuat Radit pias.
Nada mebelalakan matanya, lelucon macam apa ini? Kenapa pertanyaan suaminya sangat tidak jelas?
"Apa maksudmu?" tanya Nada sedikit emosi," Radit tersenyum dan menghela napas panjang.
"Aku pikir kau menghawatirkannya," jawab Radit.
"Kamu meragukanku?" tanya Nada. Radit memejamkan matanya.
"Tidak, mana mungkin aku meragukanmu," jawabnya. Nada mengusap wajah Radit dan tersenyum.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
"Seperti kesepakatan kita, aku mau memberinya kesempatan," ucap Radit dan dibalas senyuman oleh Nada.
🎀🎀🎀🎀🎀
Zifana melangkahkan kakinya hampir saja masuk ke dalam rumah, memberikan kabar bahwa dia berhasil meraih kerja sama dengan Sheyna bontique dan bersedia membantu papanya. Akan tetapi, suara obrolan kakak dan papanya membuat dirinya terpaku.
"Ini adalah sertifikat Zif bontique, bahkan dijualpun tak merubah apapun. MR Lee sudah aku hubungi dan dia mau kita membawa Zifana kepadanya malam ini juga," ucap Gino.
Tuan Sinatria tampak terdiam dan menatap ke arah putranya beserta sertivikat Zif bontique beserta berkas penting yang diambilnya dari laci meja kerja Zifana.
"Pa, tak ada pilihan lain. Zifana juga tidak akan kekurangan apapun bersama Mr Lee," ucap Gino meyakinkan.
Deg
Jantung Zifana terasa sesak, apa dia akan dijual? Bahkan oleh kakak dan Papanya sendiri? Air mata Zifana mengalir deras. Dirinya mundur beberapa langkah.
Brak
Sebuah fas bunga terjatuh sehingga Gino dan Tuan Sinatria menyadari Zifana mendengarkan ucapannya. Karna saat ini Zifana tampak terkejut dan menatap kedua lelaki itu dengan sorot mata benci dan takut.
"Kalian jahat," bentaknya kemudian memutar langkah dan berlari ke mobilnya.
"Zifana," teriak Gino. Namun Zifana tetap pergi dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Kejar Nona Zifana, dapatkan dia dan jangan sampai lolos!" teriak Gino pada bodyguard di rumahnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
🎀🎀🎀🎀🎀