
Radit mengusap kasar wajahnya. Nada mencoba menenangkan suaminya dan menatap Radit dengan tenang.
"Yang, sebaiknya kita shalat dulu. Siapa tau nanti kita mendapatkan jalan untuk keluar dari masalah ini," ucap Nada. Radit mengangguk kemudian segera pergi ke mushola terdekat.
Sementara Nenek Amy dan Kakek Rey menatap ke arah Mira dengan tatapan yang sangat tajam.
"Mama sudah kecewa beberapa kali denganmu, jangan harap mama akan selalu membelamu lagi jika terjadi apa-apa dengan Micel," ketusnya.
Radit dan Nada hampir saja berjalan menuju ke mushola, tetapi beberapa suster yang keluar dari kamar rawat Micel tergopoh memanggil dokter.
Dokter Andre segera masuk ke arah dimana Micel berada, tak lama kemudian dia keluar dari ruangan. Radit tampak tegang dan menemui Dokter Andre yang tampak sedikit panik.
"Bagaimana? Siapa yang akan memdonorkan darah? Jangan memperlambat proses pengobatan, kasihan pasien." Dokter Andre tampak sedikit memaksa.
Radit dan Nada saling melirik dan menggelengkan kepalanya. Mereka bahkan masih mencari titik terang.
"Jika tidak ada jawaban, kami juga tidak bisa bertindak lebih. Kami sudah mengupayakan dan kami juga tidak menemukan, Golongan darah O Rhesus negatif itu sangat langka dan kami kesusahan mendapatkan setoknya," ucap Dokter Andre lagi.
Deg, jantung Radit terpacu lebih cepat. O Rhesus negatif? Bukankah itu golongan darahnya dan ayahnya? Mira bilang ayah Micel telah meninggal? Lalu, apa maksud dari semua ini? Radit mengepalkan tangannya. Matanya terus saja berkaca. Apa artinya Micel adiknya? Lalu kenapa Mira menutupi semuanya?
Mira tampak mengusap air matanya, sedang nenek dan kakek saling menguatkan. Nada? Dia hanya mampu terdiam saat mendengar penuturan dokter.
"Ambil darah saya Dok, O Rhesus negatif adalah golongan darah saya," ucap Radit.
Deg, jantung Nada merasa lega. Tapi banyak pertanyaan di benaknya, nenek dan kakek juga merasakan hal yang sama. Mereka menatap Mira yang tampak mengetahui sesuatu.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Segera ikut suster agar kami bisa menindak lanjuti, ini nyawa, bukan mainan. Mohon kerjasamanya," ucap Dokter Andre tampak sedikit menyentak.
Radit mengikuti beberapa suster dan akan melalui proses pengambilan darah. Sedang Nenek dan kakek serta Nada menatap ke arah Mira dengan berbagai pertanyaan.
"Kau menyembunyikan sesuatu? Apa yang kamu sembunyikan Mira?" Bentak Nenek Amy sambil mendorong tubuh Mira. Mira memejamkan matanya dan terduduk di kursi tunggu di depan ruang rawat.
Tangis haru terdengar, dari Nenek Amy dan Mama mertuanya juga. Kakek tak mampu berkata apapun. Sejahat inikah putri semata wayangnya?
__ADS_1
Nada meraih Nenek Anu dalam dekapan hangatnya. Bahkan air mata Nada tak mampu untuk dibendung. Sangat memilukan, jika tau dari tadi kenapa Mama Mertuanya diam saja? Sebenci itukah pada Micel dan suaminya?
"Apa yang kamu sembunyikan?" bentak Nenek Anu lagi.
"Micel adik kandung Marvel, dia juga anak dari Mas Handika, darah dagingku dengannya. Aku tidak pernah berselingkuh," ucap Mira di tengah isak tangisnya.
Deg,
Hati nenek seakan menemukan kekecewaan pada anaknya. Kenapa tidak pernah mengatakan? Jika Micel dan Radit adalah saudara, bukankah semua akan baik-baik saja? Lalu apa alasan Putrinya mengorbankan kebahagiaan cucu-cucunya? Nenek Amy tak kuat menahan bobot dirinya, dia tampak terhuyung mundur. Nada dengan erat menahan tubuh nenek dan mendudukannya di kursi.
"Apa yang membuatmu melakukan kejahatan yang menyiksa darah dagingmu sendiri? Bahkan karna ulahmu suamimu telah tiada, pantaskah kamu disebut manusia? Pantaskah kamu dipanggil dengan sebutan ibu?" ucap Kakek dengan deraian air mata. Tubuh tuanya seakan lelah saat dirinya medengar penuturan putrinya.
Micel dan Marvel cucu kandungnya? Pertanyaan itu membuatnya sakit dan sesak, karna jawabannya adalah iya. Mereka adalah cucunya dan putrinya menyembunyikan hal itu.
"Akbar, semua karena aku masih mengharapkan Akbar," lirih Mira.
Deg, jantung kakek mendadak sesak. Kakek tampak memegang dadanya. Nada segera berdiri dan menopang tubuh kakek agar tetap berdiri.
Akbar? Akbar adalah kekasih Mira saat dirinya menjodohkan dengan Handika. Lalu, apa semua ini karna ke egoisannya? Akbar tak lebih dari lelaki bejat yang tidak baik untuk putrinya. Lalu, apa ini yang harus di terimanya? Beginikah? Apa ini salahnya?
Mira terdiam, bahkan setelah kematian suaminya ternyata Akbar mengkhianatinya. Akbar menikah dengan orang lain. Penyesalan tinggal penyesalan. Bahkan untuk sekedar memperbaiki kesalahan, Mira tak sanggup untuk mengungkapkan.
"Apa kau baru menyadari kesalahan terbesarmu setelah kepergian Handika? Papa hanya ingin kebaikan untukmu, Mira. Jika pilihanmu lain, kau boleh pergi. Micel dan Marvel biarlah menjadi tanggung jawabku," ucapnya kemudian melenggang pergi.
Nenek Amy hanya diam, tak sanggup dia mengucapkan sesuatu. Yang jelas, dia ingin Micel segera sadar.
Radit keluar dari ruang donor, sedang beberapa suster dan dokter yang membawa 2 kantong darah segera menuju ke ruang rawat. Radit melangkah ke arah dimana nenek dan istrinya duduk.
Dia mendengar penuturan Mira, beribu penyesalan menghujam hatinya. Penyesalan mendera otaknya, Micel adik kandungnya? Keterlaluankah dirinya selama ini? Radit memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.
Beberapa saat kemudian, Dokter Andre keluar dari kamar rawat. Radit dan Nada segera menyambutnya.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanyanya.
__ADS_1
"Kita harus siap menerima kemungkinan, yang harus kita lakukan saat ini adalah berdoa. Kami pihak medis sudah mengupayakan yang terbaik,"
Nada memejamkan matanya, Radit menghela napas panjang.
"Terimakasih Dok, terimakasih," ucap Radit.
"Kita beruntung mendapatkan darah tepat waktu, semoga Tuhan juga memberikan hasil terbaik karna upaya kita semua," ucap Dokter lagi. Radit mengangguk pelan, bibirnya terasa kelu. Bahkan tak mampu untuk berbicara, hanya berharap ada keajaiban untuk adiknya.
"Boleh kami menjenguknya?" tanya Nada.
"Boleh, asal tidak mengganggu ketenangan,"
"Bisa berdua dok?" tanya Radit sepontan. Membuat Nada menautkan alisnya. Dokter hanya tersenyum.
"Sepertinya kalau tidak berdua malah membahayakan pasien, kau terlalu lelah dan bisa saja ambruk, masuklah," ucap Dokter dan diangguki oleh Radit.
Radit dan Nada segera masuk setelah mencuci tangan. Radit menatap ke arah Micel yang tampak pucat. Beberapa peralatan medis melekat di tubuhnya. Selang invus, monitor, ventilator dan beberapa alat lain tampak jelas di mata Radit. Radit memejamkan matanya.
"Gadis, bangulah, mau di peluk berapa lama? Kakak akan bahagia bisa memelukmu dengan lama. Kau tau, kita sedarah, serahim, kita juga saudara kandung," lirih Radit sambil mengusap puncak kepala micel yang kini tampak di perban. Air matanya mengalir deras.
Nada mengusap lengan suaminya, dia sama sedihnya seperti Radit. Radit berdiri tegak dan menatap Nada. Nada juga berdiri menatal ke arah suaminya.
Radit yang merasakan sesak kini mengangkat dagu Nada, mencari ketenangan yang pasti akan dia dapatkan dari istri cantiknya. Nada tampak mundur. Pasalnya dia ada di ruang yang tidak tepat, tapi sang mantan Casanova sepertinya tak mau tau.
Radit mendekatkan wajahnya, mencari ketenangan dengan mel*mat bibir yang selalu manis dan membuat dirinya terbuai. Me*yecap dan menyusuri setiap incinya hingga keduanya kehabisan oksigen.
Nada mendorong Radit, menatap Radit yang kini menatapnya dengan seluas senyum dan mengusap wajah merah meronanya.
"Yang, ini bukan tempat yang tepat," ucap Nada tampak sebal.
"Biarkan, aku sengaja memamerkan. Biar gadis cerewet itu melihat, kemudian bangun dan protes," ucap Radit.
Nada memejamkan matanya dan berhambur kepelukan suamianya, air matanya mengalir deras. Memang, setelah ritual yang dilakukan suaminya, dirinya juga merasakan kenyamanan dan ketenangan, mungkin sama seperti yang dirasakan oleh Radit saat ini.
__ADS_1
"Gadis cerewet, bangunlah, lihat kakak iparmu menangis. Aku akan menghukummu karena membuatnya bersedih," ucap Radit sambil mengusap air mata di sudut matanya.
❤❤🎀🙈🙈🙈🙈