Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 79


__ADS_3

Nada menatap ke arah ranjang, busa kecil tampak terlihat di kamarmya itu. Nada menghela napas panjang. Lagi-lagi sesak menyeruak di hatinya.


Nada mengambil ponselnya dan memanggil nama Sifa. Tak lama dari itu terdengar suara Sifa menjawab panggilan darinya.


"Halo, Assalamualaikum Nad." ucap suara Sifa di sebrang.


"Waalaikumsalam Sifa, Sifa sepertinya hari ini aku juga tidak bisa hadir di acara gladi bersih itu. Jadi aku mohon kau datang kembali untuk mewakili Sheyna bontique," ucap Nada sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Kok begitu Nad, acaranya tinggal besok. Lalu, bagaimana bisa kau tidak hadir?" Sifa tampak terkejut dengan penuturan Nada.


"Ada suatu hal yang membuat aku harus melakukan ini Sifa, aku percayakan padamu. Aku yakin kau mampu melakukannya seperti sebelumnya," ucap Nada sambil menghela napas panjang dan menatap kearah beberapa tumpuk pakaian di atas meja.


Terdengar helaan napas panjang dari Sifa di sebrang sana. Sifa memejamkan matanya, bahkan dia kemarin sudah seperti artis yang disambut dengan berbagai pertanyaan yang yang mempertanyakan keberadaan atasanya itu dari Emyli dan Vino. Lalu, apa yang akan di jawabnya nanti?


"Nada, tak bisakah kamu mengusahakan untuk hadir?" tanya Sifa.


"Maaf, Sifa. Mungkin hari ini aku tidak bisa. Tetapi besok aku akan mengusahakan untuk hadir. Tapi kamu juga harus bersiap jika pada kenyataanya aku tidak bisa," ucap Nada dengan tenang.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Sifa.


"Aku tidak apa-apa," ucap Nada.


"Baiklah, sepertinya kamu belum mau terbuka," ucap Sifa.


"Lain waktu aku akan bercerita," ucap Nada.


"Baiklah, Nada." ucap Sifa kemudian mengakhiri panggilan.


Nada menghela napas panjang dan meraih baju panjang dan celana panjang yang kini berada di atas meja. Tak lama dari itu terdengar suara ponselnya berbunyi lagi. Nada mengangkat dan menggeser tombol hijau disana.


"Asalmualaikum, ada apa lagi Sifa?" tanya Nada dengan tenang.


"Waalaikumsalam, ini kakak. Calon suami Sifa," ucap Arfan dengan tawa. Nada membelalakkan matanya. Apa-apaan ini?


"Kakak, kakak menyukai Sifa?" tanyanya pada kakaknya. Hanya terdengar kekehan kecil dari kakaknya di telinganya.


"Ada apa kak?" tanya Nada kemudian.

__ADS_1


"Kakak hanya memastikan kamu baik baik saja, kamu menghilang semalaman, tidak berkabar dari sekarang. Apa pantas kakak tidak mengkhawatirkanmu?" tanya suara di sebrang. Nada menghela napas panjang, bahkan kebersamaan dengan Radit semalam membuatnya lupa dengan segala hal yang harus dilakukan.


Radit? Kenapa dia tampak merindukan lelaki yang tidak berkabar sejak semalam? Rindu? Apa ini yang dirasakan? Aish, Radit sudah seperti candu bagi Nada.


"Maaf kak, semalam Mas Radit menjemputku. Jadi aku tidak jadi ke mobil kakak," ucapnya.


"Ya sudah, yang penting kamu bahagia kakak bahagia. Bahagia selalu Nada, nitip salam buat Sifa." ucap Arfan kemudian menutup ponselnya setelah mengucapkan salam.


Nada menghela napas panjang, sehingga terdengar suara lantang Mira memanggilnya dari luar. Nada tampak terkejut dan segera berdiri menghampiri Mira yang berdiri di depan pintu kamar yang dia tempati.


"Iya Ma," ucap Nada saat dirinya berada di depan pintu.


Mira melempaf sekantong besar baju pada Nada sehingga Nada terhuyung mundur. Nada menatap ke arah Mira yang sudah rapi dengan baju kerjanya.


"Itu adalah bajuku, kau harus menggosoknya. Setelah itu mencuci, menyapu dan memasak. Hari ini semua ART aku perintahkan untuk membersihkan taman belakang, jadi kau harus melakukan pekerjaan rumah sampai selesai," ucap Mira. Nada hanya terdiam hingga tiba saatnya seseorang menghampiri keduanya.


"Ma, apa-apaan ini? Kak Nada bukan pembantu!" Micel menatap tajam ke arah Mira yang kini menatapnya dengan sorot mata yang tajam pula.


"Kau jangan ikut campur, Micel. Kau terlalu baik sehingga mudah terkecoh dengan tampang polosnya," ucap Mira sambil menatap Micel dengan tajam.


"Kak Nada bukan pembantu, Mama bisa minta Bi Rina untuk mengerjakan semua ini." Micel meraih kantong plastik dari Nada dan meletakan di tangan Mira. Micel menarik tangan Nada untuk mengikuti langkahnya.


Nada yang sempat melihat aksi mama mertuanya yang marah kini menghentikan langkahnya ketika Micel hampir saja membuka pintu.


"Kak, kenapa?"


"Micel, Mama sepertinya marah. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja," ucap Nada tampak khawatir.


"Kak, sudahlah jangan memikirkan mama. Mama sudah berangkat, lagi pula itu bukan pekerjaan kakak. Bantu aku aja," ucap Micel sambil tersenyum. Nada menghela napas dan tersenyum ke arah Micel yang juga tersenyum ke arahnya.


Sepertinya suasana hatinya tidak memungkinkan untuk ke acara gladiator bersih. Pada akhirnya Nada memilih untuk bersama dengan Micel di rumah.


"Okey, apa yang bisa kakak bantu?" tanya Nada. Micel membuka pintu kamar dan mengajak Nada masuk ke sana.


"Aku ada tugas, bantu aku ya kak," ucap Micel sambil duduk di sofa dan diikuti oleh Nada. Keduanya saling berbincang hangat.


😍😍😍😍

__ADS_1


Radit tersenyum tipis. Setidaknya dia sudah mendapatkan kepastian jika wanita itu sanggup untuk mengembalikan kondisi perusahaan pada kesetabilan.


Radit meraih ponselnya, lagi lagi melihat wajah imut sang istri. Wajah cantik gadis 23 tahun yang memikat hatinya sejak pertama Bertemu. Wajah cantik tanpa polesan make up.


"Aku berharap kita bertemu," ucapnya sambil mengusap pelan layar ponselnya. Radit menghela nafas panjang. Netranya melirik Jam tangan yang melingkar ditangannya.


"Hai bos, kenapa kau tampak tidak baik-baik saja? Kau merindukan seseorang?" Dani yang baru saja masuk ke ruangan tampak tersenyum dan menggoda atasanya itu. Radit hanya menggelengkan kepalanya sambil mengulas senyum Indah.


"Entah, aku sepertinya merindukannya Dan," jawab Radit sekenanya.


"Sepertinya kau sedang jatuh cinta," ucap Dani.


"Tapi aku tidak yakin, aku yakin tidak semudah itu aku melupakan Amara," jawab Radit.


"Belajarlah untuk membuka lembaran baru," ucap Dani sambil menatap ke arah Radit yang jelas sangat merindukan istrinya.


"Aku sudah mencoba tetapi aku rasa belum bisa," ucap Radit


"Begitukah?" tanya Dani.


"Ya," jawab Radit lagi.


"Okey, aku akan membuktikannya sekarang. Aku yakin sebenarnya kau sangat peduli dengannya, tetapi kau tak mau menyadarinya. Kau masih larut dalam cinta yang seharusnya kau lupakan," ucap Dani. Radit menautkan alisnya. Apa yang akan dilakukan Dani?


Ting,


terdengar ponsel Radit berbunyi, Radit melirik pesan masuk dari Dani. Apa-apan asistenya ini? Dia ada di depannya dan bisa mengatakan secara langsung, lalu kenapa mengirim pesan.


Radit meraih ponselnya, satu Vidio dari Dani dia terima. Seketika Radit membuka pesan Vidio yang dikirim Dani. Radit menghela napas kasar, tangannya mengepal kuat.


Mira? Kenapa dia tak ada hentinya memperlakukan orang seenaknya? Dan Lagi, kenapa Nada hanya diam? Apa kegalakannya hanya pada Radit.


Radit memanggil kontak Nada, namun beberapa kali panggilan tak ada jawaban dari Nada. Radit tampak gelisah dan khawatir. Kini, senyum indah terbit dari bibir Dani.


"I Like it," ucap Dani sambil mengamati tingkah bosnya yang lucu baginya.


😀😀😀😀

__ADS_1


Ritual jo kendor yok. 200 like 50 komentar Yok. wkwkw


__ADS_2