
Micel berdiri tegak dan menatap ke arah Radit. Radit yang mengetahui Vino melangkah pergi menatap punggung sahabatnya itu dengan tenang. Dilihatnya Micel yang masih berdiri di depannya.
"Kau tidak berniat untuk mengikutinya? Dia suamimu," ucap Radit sambil tersenyum. Micel menatap ke arah kakaknya dengan senyuman yang indah juga. Dia harus memainkan perannya, dia harus berpura-pura bahagia di dalam pernikahannya.
"Aku akan menyusul, kakak tenang saja. Bukan hanya Kakak dan Kak Nada yang akan memberikan cucu. Aku juga akan melakukannya," ucap Micel sambil tersenyum kemudian melangkah pergi.
Radit dan Nada saling berpandangan, mereka mengulum senyuman sambil menatap punggung Micel yang kini menjauh dari mereka. Seperti itukah? Radit mengusap pipi Nada dengan bahagia.
"Yang," Radit memberikan senyuman yang indah pada Nada yang kini merasa akan ada hal yang tidak mengenakan baginya.
"Hem, ada apa?" tanya Nada sambil menatap juga ke arah suami tampannya.
"Sepertinya pengantin baru akan melakukan ritual, aku rasa pengantin yang hampir empat bulan ini juga ingin melakukan hal yang sama," Radit mentoel toel pipi Nada dengan jari telunjuknya. Membuat Nada menatap Radit dengan senyuman yang sulit untuk diartikan.
"Kamu menolak?" tanya Radit sambil menatap Nada penuh cinta.
"Bagaimana dengan seblak? Katamu mau seblak, dan sekarang mau itu, kalau aku harus bagaimana? Apa tidak ada ampun bagiku? Aku sangat capek lo Yang," ucap Nada mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Seblaknya tidak jadi, karena ada hal yang lebih menyenangkan," jawabnya asal. Nada menghela napas dalam-dalam dan tersenyum kaku.
"Begitukah?" tanya Nada.
"Hem, besok aku harus ke luar kota, ada hal yang aku lakukan dengan klien. Sekaligus aku mau mengadakan meeting paripurna untuk proyek dengan MR Tan, jadi besok sepertinya adalah hari yang sangat melelahkan. Bahkan jika tidak memungkinkan untuk pulang, aku akan menginap," ucap Radit dengan tenang.
Deg, Nada memejamkan mata indahnya. Suaminya akan pergi besok? Yang lebih menyessakkan adalah ketika ada harapan tidak pulang. Lalu, apa dia sanggup jika harus berjauhan dari suaminya?
Nada menatap Radit dengan sedih, Perutnya terasa berdenyut. Seakan tau apa yang dirasakan oleh Nada, Radit mengusap air mata Nada yang hampir saja terjatuh.
"Apa tidak bisa diwakilkan?" tanya Nada. Radit tersenyum tipis.
"Selain Om Hendra Wijaya, hanya Dani putranya orang kepercayaan keluarga dan perusahaan kita. Om Wijaya sangat sibuk, sedangkan kita tau Dani sedang di tahan di desa itu, lalu bagaimana lagi? Mau tidak mau, aku harus bertanggung jawab dan menyelesaikan proyek ini," ucap Radit pada istri cantiknya.
Nada memejamkan matanya dan mencoba untuk menerima ucapan Radit. Nada mengusap air matanya dan tersenyum tenang.
"Oke, jika memang begitu harus bagaimana lagi? Kamu harus hati-hati, jaga hati, jaga pikiran dan selalu ingat aku dalam hatimu," ucap Nada. Radit meraih Nada dalam dekapan hangatnga. mencoba memberikan ketenangan pada Nada yang tampak gelisah.
__ADS_1
"Kamu tenag saja Dear, aku sangat mencintaimu. Akan ku pastikan aku akan menjaga hatiku, pikiranku. Aku juga akan selalu mengingatmu dalam hatiku," ucap Radit. Nada lagi lagi tersenyum.
"Sepertinya istriku berubah jadi kucing yang lucu dan manja," goda Radit.
Nada tak memperdulikan ucapan Radit, yang dia lakukan saat ini hanya terdiam di dalam pelukan Radit, sepertinya mereka lupa jika berada di luar ruangan, hingga beberapa pelayanan tampak syok melihat keromantisan suami dan istri itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Tuan Sinatria dan Gino sinatria tampak mengepalkan tangannya. Melihat kebahagiaan Radit dalam acara gosip menjadi alasan utama mereka marah.
"****, aku tidak bisa diam saja Tuan Marvel. Aku harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri jika kau hancur," lirih Gino.
Kehilangan sosok Zifana membuatnya terluka. Zifana? Wanita itu tak kembali sejak pergi saat itu, bahkan orang suruhannya tak mampu menemukan keberadaan Zifana.
😍😍😍😍
Assalamu'alaikum... author ramah mau mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1443 H.. minal aidzin walfaizin mohon maaf lahir batin.
__ADS_1