Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 130


__ADS_3

Dokter Arfan dan Radit segera keluar dari ruangan. Dokter Arfan pergi menangani pasien lain, sedangkan Radit segera menuju ke kamar dimana Micel berada.


Akan tetapi langkahnya terhenti ketika panggilan dari Dani dia terima.


"Halo Dan, kemana aja? Kenapa baru bisa telepon?" tanya Radit sedikit emosi.


"Bos, sepertinya kau harus mencari asisten penggantiku," ucapnya dengan prustasi di sebrang sana. Radit membelalakkan matanya.


"Apa maksudmu Dan?" tanya Radit sedikit bingung.


"Aku terjebak pernikahan dengan gadis yang menabrak Micel, aku tidak bisa keluar dari desa ini sampai berkas pernikahan asliku selesai," ucapnya.


"Siapa dia?" tanya Radit.


"Kau akan segera mengetahui, keluarganya akan segera ke sana," ucapnya.


"Lalu apa hubungannya dengan asisten pengganti? Kau bisa saja bekerja meskipun sudah menikah, bukankah begitu? Lagi pula apa yang kau lakukan? Kenapa bisa terjebak pernikahan?" sahut Radit prustasi.


"Ceritanya panjang, yang jelas aku tidak bisa keluar dari desa ini sebelum urusan pernikahan selesai, karna itu membutuhkan waktu yang lama. Dan aku pun sudah selesai menjalani ritual nikah siri, aku tidak bisa melakukan apapun di sini." ucapnya.


Radit memejamkan matanya, harus kehilangan Dani? Astaga, sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Jadi sekarang kau sudah menikah? Karna terjebak?" tanya Radit sedikit terkekeh, tapi dia juga sebal.


"Jangan tertawa, ini hanya sementara sampai aku bisa keluar dari sini," ucap Dani.


"Sepertinya kau menuai karma," ucap Radit dengan tersenyum.


"Karma?" tanya Dani.


"Ya, waktu itu kau menjebak Nada menikah denganku, dan saat ini kau pun terjebak menikah dengan orang lain. Bukankah itu karma?" tanya Radit sambil terkekeh.


"Itu karna aku membantumu bos," bantah Dani. Radit terkekeh lagi. Kalau bukan Dani, mungkin tak akan mungkin dia bisa mendapatkan istri sebaik dan secantik Nada.


"Okey, terimaksih Dani. Sakinah, mawadah dan warohmah. Doaku menyertaimu, siapkan malam pertama dengan indah, seindah kau meyiapkan apartemen untukku waktu itu," candanya. Dani terdengar menghela napas panjang.


"Lalu siapa yang akan membantuku?" tanya Radit prustasi.


"Masih ada papa, atau kau bisa meminta Nada membantu pekerjaanmu, atau juga memperkerjakan wanita pujaanku di sana," ucap Dani.


"Wanita pujaan?" tanya Radit.


"Hem, Sifa. Asisten Nada," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Angan yang tinggi mendapatkan wanita seperti Nada nyatanya tak seperti apa yang dia bayangkan. Kini dia harus menikah, bahkan dengan orang yang sangat dia benci.


"Kau sudah menikah, jangan memikirkan wanita lain," ucap Radit. Dani terkekeh mendengar ucapan bosnya itu.


"Aku berguru darimu, kau memikirkan Amara walau menikah dengan Nada. Seharusnya kau bangga mempunyai murid teladan sepertiku," ucap Dani Lagi.


"Jangan membahas masa lalu," ucap Radit.


"Oke bos. Carilah asisten baru kalau begitu," ucap Dani lagi.


"Nanti aku akan membicarakan dengan Nada, mereka masih berada di kamar Micel." ucap Radit. Terdengar helaan napas panjang di telinga Radit.


"Bagaimana keadaan Micel? Sampaikan salamku padanya," ucap Dani.


"Tak usah nitip salam, Micel amnesia. Dia tidak mengenalku, kamu, bahkan dirinya sendiri. Yang dia kenal hanya Nada," ucap Radit lirih.


Dani membelalakan matanya. Micel amnesia? Sebegitu parahkah? Kini pandangan Mata benci Dani tertuju pada sosok yang duduk sambil memeluk lututnya karna hawa dingin di desa terpencil itu begitu menusuk ke tulang rusuk.


"Ya sudah, aku titip Micel padamu. Aku akan menyelesaikan urusanku di sisini, selamat malam Bos," pamitnya.


"Selamat malam, Dani. Selamat bermain bola,"

__ADS_1


😍😍😍😍🤣


__ADS_2