
Rafa dan Nada menikmati suasana pasar malam yang indah di dekat apartment Nada dan Amara.
Mereka duduk di bawah pohon sambil menikmati nasi goreng sepesial yang di jual Mang Toha dengan berbagai level. Bahkan, kemarin malam juga karna membeli nasi goreng Mang Toha yang mengakibatkan dirinya terpeleset di pinggiran trotoar. Hais, kini malah otaknya terlintas wajah lelaki itu.
"Sebenarnya apa yang membuat kakak seperti ini? Kenapa juga kakak mengajakku makan?" Nada mengarahkan pandangannya ke arah Rafa yang tampak sedikit tenang. Tadi Rafa tampak sedang menahan emosi. Nada pikir ada hal sepesial, namun nyatanya semua jauh dari angan.
"Kak," panggil Nada sehingga membuat Rafa menoleh.
"Nad, bagaimana perasaanmu jika kau selalu bersanding dengan manusia laknat yang menusukmu dari belakang? Menodai persahabatan hanya karna wanita?" tanya Rafa.
Nada menghela napas panjang. Mencoba mencari jawaban yang bisa di terima oleh Rafa.
"Kakak yakin dia menodai persahabatan kalian? Atau kalian hanya salah paham?" tanya Nada lagi.
Rafa sedikit tersentak dan memandang ke arah Nada. Rafa memperhatikan wajah cantik yang kini memandangnya dengan teduh. Cantik? Ya baru kali ini Rafa mengamati wajah Nada yang begitu mempesona. Wajah cantik yang selama ini dianggapnya sebagai adik.
"Aku," Rafa menghentikan ucapannya. Nada mengusap pelan pundak Rafa. Meskipun ini membuat hatinya dag dig dug tak karuan, Nada mencoba untuk tetap bisa menguasai hatinya.
"Kadang kala, apa yang kita lihat tak sejalan dengan kenyataan. Kakak bisa membicarakan dengan baik, apapun masalahnya, kakak bisa membicarakan dulu," ucap Nada.
Rafa tersenyum dan meraih pundak Nada. Nada memejamkan matanya, Ini begitu membuat dirinya bahagia. Ini adalah dosa terindah baginya.
"Terimakasih, Nada. Kau dan Amara adalah adik terbaik yang aku punya," ucap Rafa pelan.
Nada merasakan perih ketika Rafa mengucap kata adik yang begitu jelas terdengar di telinganya.
Nada meneteskan air mata, mencintai Rafa dalam diam membuat dirinya sakit. Mengungkapkan? Bahkan untuk menodai ikatan kakak beradik seperti ini dirinya tak mampu.
"Nada, kamu menangis? Ada apa?" Rafa melepas rangkulan tangannya dan mengangkat wajah Nada. Menghapus air mata Nada yang menetes tanpa henti.
"Nad, bicara sama kakak, ada apa?" tanya Rafa. Nada menggelengkan kepalanya.
"Kak, mencintai dalam diam itu sakit, begitupun cinta yang bertepuk sebelah tangan," ucap Nada. Rafa mengusap pelan pundak Nada dan meraih Nada dalam dekap hangatnya.
__ADS_1
Nada mendorong pelan dada Rafa kemudian menghapus air matanya sendiri. Dia tidak bisa membiarkan Rafa menjajahi hatinya terus-menerus. Dia harus bisa melupakan cinta pada lelaki di depannya.
"Lelaki mana yang kamu sukai? Apa perlu kakak yang bicara padanya?" tanya Rafa.
Nada mendongak dan menggelengkan kepalanya. Rafa yang sudah bertahun-tahun mengenal Nada tak sekalipun melihat Nada menangis seperti ini, ia juga tak pernah tau Nada dekat dengan Lelaki. Melihat adiknya menangis membuat hatinya seakan teriris. Yang sangat dia sesalkan, kenapa dia tidak bisa membuka hati untuk Nada? Dia tau Nada menyukainya, tapi dia berpura-pura tak mengetahuinya.
"Tidak kak, kakak tidak usah menghawatirkan aku. Kakak bisa pulang dulu kalau sudah selesai, aku masih pengen disini," ucap Nada sedikit ketus.
"Tapi,"
"Pergilah Kak, aku pengin sendiri. Oh ya, Kak, semoga kakak selalu bahagia dan segera di pertemukan dengan Kak Bianca," ucap Nada sambil tersenyum. Rafa mengangguk pelan dan melenggang pergi.
Nada memejamkan matanya, dia melirik jam yang menunjukan pukul 19.00.
Nada mengambil ponselnya dan menuliskan pesan untuk ibunya.
Ibu, ayah, Nada pulang ke rumah agak telat. Sekarang Nada ingin menikmati indah malam di tempat vavorit. kirim.
Nada memberikan pesan pada ibunya karna sedari kemarin malam ibu dan ayahnya mengkhawatirkan keadaannya. Dia tidak mau ibu dan ayahnya kembali merasa khawatir kepadanya.
"Mang, Nada pamit ya," ucapnya pada Mang Toha.
"Iya neng, terimakasih," ucapnya.
*****
Malam hari yang indah, di dalam sebuah hotel yang mewah, seorang lelaki tampan tengah sibuk mencumbu seorang wanita. Peluh membasahi keningnya karna gairah panas menyelubungi dirinya. Dia hampir saja melakukan penyatuan bersama dengan wanita bayarannya itu. Namun, bayangan wanita yang yang mengisi hatinya menyelinap masuk di dalam dadanya, membuat hatinya terbakar rasa kecewa yang membara.
Rasa sakit menyesakkan dadanya. Mencoba melupakan segala tentang Amara, justru sekarang malah terngiang di otaknya.
Radit melempar vas bunga di atas nakas hingga terpecah belah entah menjadi berapa.
Vina, wanita yang kini ada di sampingnya terkejut. Dia menatap serpihan vas yang hancur berantakan. Vina menatap wajah tampan seorang Marfel Raditya Dika. Pemuda 27 tahun yang sangat misterius baginya. Wanita yang kini hampir saja telanjang itu merapikan bajunya dan menatap ke arah Radit yang tampak marah.
__ADS_1
"Sayang," ucap wanita itu sambil mengusap pelan dada bidang Radit, mencoba menenangkan emosi Radit yang tampak meluap. Radit menoleh, dilihatnya Vina wanita bayaran yang menemani dirinya saat ini tampak memgkhawatirkannya.
"Kau kenapa?" tanyanya.
Radit melingkarkan tangannya di pinggang Vina, menyingkirkan anak rambut Vina yang menjuntai menutupi pipi indah wanita itu.
"Sebaiknya kita akhiri sampai disini," ucap Radit kemudian meraih bajunya.
Radit berjalan ke arah balkon, ia meraih botol wine yang berada di meja dan memijat pelipisnya.
Radit memejamkan matanya, merasakan sakit yang bertubi. Radit mengusap kasar wajahnya dan kembali meneguk minuman hingga dirinya tak berdaya.
"Sayang, hentikan. Kau sudah mabuk!" Vina meraih Radit dalam pundaknya dan membawa lelaki yang tampak sudah sempoyongan itu masuk ke dalam kamarnya.
Vina membaringkan Radit di ranjang king sizenya. Vina hendak beranjak, tapi Radit menahan tangannya.
Radit menarik Vina hingga wanita itu berada dalam rengkuhannya. Vina tersenyum dan mengusap pelan dada bidang Radit. Dengan Rakus Radit ******* bibir seksi Vina, Vina membalas ciuman memabukan itu. Tangan Radit bergerilnya membuat Vina terbuai.
Radit menghentikan aktivitasnya ketika bayangan wajah Amara kembali menghantuinya, dia mendorong Vina menjauh darinya.
"Ada apa sayang?" tanya perempuan bayaran itu sembari mengusap dada bidang Radit.
Lelaki 27 tahun itu tampak mendorong wanita itu dengan kasar. Radit turun dari ranjang dan meraih jaket tebalnya.
Radit melemparkan cek pada wanita yang kini masih bersandar di ujung ranjang, tak lama kemudian Radit meninggalkan wanita itu dan melenggang pergi.
Vina, wanita itu mendengus sebal. Dia sangat menyukai Radit dan ingin memiliki Radit seutuhnya. Tapi kenapa Radit mengakhiri semuanya sebelum hasratnya terselesaikan?
Vina meraih cek di atas selimut dan menatap jumlah fantasti yang diberikan oleh Radit.
"Sebenarnya siapa dirimu? Kau tampak misterius, hanya asisten pribadi tapi mampu memberi sebanyak ini? Aku tak akan melepas tambang emas sepertimu, Sayang. Lihat saja nanti, Radit," lirihnya.
Vina mengambil ponsel di sudut ruangan. Ada satu vidio yang berhasil terekam kameranya. Keduanya tampak mesra dan intim.
__ADS_1
"Barang kali aku membutuhkannya suatu saat nanti,"
😍😍😍😍😍