
Micel mengikuti gerak Vino yang seolah meminta padanya untuk menikmati malam. Mereka larut dalam lantunan musik nan lembut yang menghangatkan malam ini.
Vino menatap ke arah Micel yang tampak cantik, Cantik? tentu saja. Micel Sangat sempurna tercipta sebagai wanita. Wajah cantik, kulit putih. Bahkan, wanita yang kini telah berstatus sebagai istri sahnya itu adalah idola di kampusnya. Akan tetapi entah kenapa, dirinya tak mau mengakui kecantikan wanita di depannya. Vino menatap istrinya yang kini menatap entah kemana.
Dilihatnya Micel menatap ke atas sana, akan tetapi gerakan gemulainya masih fokus mengikuti gerakan Vino.
Micel memejamkan matanya, kepalanya seakan berputar saat melihat ke atas sana. Menatap ke arah jendela kamar membuat dirinya merasa ada suatu bayangan yang aneh di sana. Ada apa dengan jendela? Jendela kamar miliknya?
Micel menghentikan dansa, memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Bayangan itu muncul dan terus menghantui otaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melompat dari jendela itu? Siapa yang keluar dari kamar itu? Micel terhuyung mundur. Vino segera menangkap tubuh ramping istrinya dan membawa Micel di gendonganya.
"Baby, ada apa denganmu?" tanyanya dengan khawatir.
Wajah Micel memerah, Vino menatap ke arah Micel yang kini tampak sangat lemas sekali.
Nada dan Radit yang mengetahui Micel tengah hampir tak sadar berjalan menuju ke arah Vino berada.
"Ada apa dengan Micel?" tanya Radit.
"Sepertinya Micel kelelahan," jawabannya.
"Sebaiknya kau bawa dia ke kamar. Sepertinya Micel belum minum obatnya," ucap Radit dan diangguki oleh Vino.
Vino kemudian melangkah ke dalam rumah. Radit dan Nada menatap kepergian Vino, kemudian ikut melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Micel?" tanya Mama Elina dan Mama Mira serta Nenek Amy sambil berjalan ke arah Vino yang menggendong Micela yang tampak sedikit pucat.
"Micel sayang, ada apa? Apa yang terjadi?tanya Mama Elina.
"Sepertinya Micel kelelahan, sebaiknya biarkan dia istirahat," ucap Vino. Mama Elina, Mama Mira dan nenek Amy saling terdiam dan menatap Vino. Kelelahan? Apa semalaman suntuk melakukannya sehingga Micel kelelahan?
"Oke Sayang, sebaiknya kamu bawa Micel ke kamar kalian. Kelihatannya Micela tidak baik-baik saja," ucap Mama Mira dan diangguki oleh Vino.
__ADS_1
"Baik Ma," ucap Vino kemudian melenggang pergi, membawa Micel ke arah kamarnya.
Vino merebabahkan tubuh mungil Micel di atas ranjang, ditatapnya makhluk cantik yang tengah memejamkan matanya itu. Vino menutup tubuh Micel dengan selimut. Mengusap wajah cantik Micel dengan tangan kanannya.
"Baby, bukalah matamu," lirihnya. Vino memejamkan matanya, dia tak rela Micel merasakan kesakitan.
Micel yang merasa di bangunkan membuka mata indahnya, ditatapnya wajah tampan Vino yang tampak hawatir kepadanya.
Micel mencoba untuk bangun, akan tetapi Vino seakan menahan dirinya. Micel mematung, memandang ruangan kamar yang luas itu. Micel mengedarkan pandangannya, lagi lagi dia merasakan kepalanya di tekan dengan keras, melihat ruangan ini membuat kepalanya sakit sekali.
Micel mencengkram kepalanya yang terasa sakit, Vino yang melihat Micel tampak kesakitan segera meraih Micel dalam dekapannya mencoba memenangkan wanita cantik itu, menahan tangan Micel agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
"Baby, plis tenangkan dirimu, apa yang membuatmu seperti ini? Tolong dengarkan aku, tenanglah Baby," ucap Vino.
Micel memejamkan matanya, mencoba memenangkan perasaananya mencoba tidak memaksa otaknya untuk mengingat.
"Kenapa aku merasa sakit, melihatmu seperti ini Baby," gumam Vino. Setidaknya dia merasa lega, Micel mau mendengarkannya dan mencoba menenangkan pikirannya.
Ceklek....
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Nenek Amy yang baru saja datang. Mama Mira Mama Elina dan Nada juga duduk di samping Micel. Vino melepaskan pelukannya dan menatap ke arah wanita wanita itu. Sebenarnya malu saat tepergok seperti ini.
"Maafkan aku membuat kalian hawatir," ucap Micela.
"Tidak papa, yang penting kamu sudah tidak papa," jawab Nenek Amy.
"Minumlah." Mama Mira menyerahkan obat kepada Micel. Micel mengangguk dan menerima obat itu kemudian meminumnya.
"Sudah tengah malam. Istirahatlah disini dulu, Mama dan papa akan pulang," ucap Mama Elina. Micel menoleh dan menatap perempuan paruh baya itu.
"Kenapa tidak menginap juga Ma?" tanya Micel.
__ADS_1
"Papa ada meting besok pagi, jadi harus buru buru," ucap mama Elina sambil mencium Micel.
"Mama hati hati," ucapnya.
"Iya sayang, jaga Micel baik baik Vino," ucap mamanya dan diangguki Vino. Mama Elina melangkah pergi.
"Aku permisi juga. Lekas sembuh Micel," ucap Nada. Nada, mama Mira dan nenek Amy berjalan ke arah kamarnya masing-masing.
Micel menghela nafas panjang, mengedarkan pandangannya mencoba mengingat sesuatu yang nyatanya malah membuat denyutan dikepalanya semakin menjadi.
Tinggal Vino dan Micel di kamar itu. keduanya saling berdiam dan menatap. Sehingga mata Micela tertuju di sebuah foto di dinding.
Micel menatap tajam kearah foto itu. kepalanya kembali berdenyut hebat.
Prang..
Micel menyenggol gelas di sampingnya. Micel memegang ujung meja, terus saja memegang kepalanya.
Bruk..
Micel tidak bisa menahan tubuhnya, dia terjatuh di pangkuan Vino. Vino dengan sigap menahan tubuh istrinya.
"Baby, bangunlah. Kau mendengarku?" Vino menepuk pelan pipi Micel.
"Baby plis, tolong bangunlah," ucap Micel yang perlahan membuka mata indahnya. Dilihatnya wajah tampan Vino yang sangat menghawatirkannya.
"Baby, kau baik baik saja?" tanya Vino.
"Aku... "
"Tidurlah. Kau butuh istirahat," ucap Vino dengan tenang. Micel memejamkan mata indahnya. Apa di depannya adalah suaminya? Micel tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan menemanimu."ucap Vino lagi sambil mengusap pelan pipi Micel dan sukses membuat wajah Micel tampak merona merah.
🌹🌹🌹🌹