Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 81


__ADS_3

"Aku mencintaimu," ucap Radit dengan senyumannya. Nada memiringkan wajahnya dan menatap ke arah manusia yang sanggup membuat jantungnya tak karuan itu. Hatinya sangat bahagia, seperti mendapat warisan yang tak habis tujuh turunan. wkwkwkkw.


"Apa aku harus mengakuimu seperti itu? Apa kata itu terdengar romantis menurutmu?" tanya Radit sambil memijat pelipisnya.


Nada yang semula bahagia kini membelalakkan matanya. Oh, dia pikir Radit mengungkapkan perasaannya. Nyatanya, hanya memberikan contoh mengungkapkan kata, lalu kemudian Radit seperti meledeknya. Nada menghela napas panjang.


Aish, suaminya adalah pemain wanita. Aish, keliru lebih tepatnya calon mantan pemain wanita. Sepertinya jika hanya mengatakan kata-kata itu mudah diucapkannya. Apa yang harus dia lakukan, agar manusia sombong itu jatuh hati padanya?


"Apa begitu?" tanya Radit lagi saat Nada tampak melamun. Radit terkekeh saat menatap wajah Nada yang tampak kesal. Oh, membuat Nada kesal tampaknya hal yang langka. Wanita itu biasanya selalu sabar menghadapi kelakuannya.


Nada menggelengkan kepalanya pelan. Dia menatap Radit dengan tenang. Sepertinya dia dipermainkan oleh Radit.


Oke Tuan Marvel Raditia Dika, kita main bersama-sama. batin Nada


"Sepertinya pagi ini aku harus pergi, besok aku ada acara fashion mode bersama dengan Pradikta group. Jadi, jangan salahkan aku jika aku tak ada waktu untuk mengangkat telpon darimu, yang," ucap Nada sambil berdiri menatap awan yang indah.


Nada berjalan ke pinggir pagar dan berdiri dengan tenang di sana. Dadanya berdenyut sesak. Pertengkaran Dengan Mira tampak di pelupuk matanya, apa alasannya untuk bersikap tegas dengan Mira? Dia bukan apa-apa, lalu haruskah dia melawan? Bahkan, orang yang kini bertanggung jawab penuh atas dirinya nyatanya tak perduli padanya.


Ponsel Micel masih menyandarkan di dinding, sehingga menampakan punggung Nada yang membelakangi Radit. Nada menghela napas dalam-dalam.


"Apa memang aku tak ada artinya?" lirih Nada.


Radit tampak mengepalkan tangannya, mendengar pradikta group membuat dirinya sesak. Lantas, apa susahnya mengatakan dia mencintai Nada? Bukankah dia bisa berbohong? Lalu, kenapa dia tak mampu untuk membohonginya? Dia masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya.


Nada menghapus air matanya kemudian melangkah mendekat ke arah ponsel, netranya memandang kearah Radit yang tampak kesal kepadanya. Kali ini, bukan senyuman yang tampak di bibir Nada, tetapi rasa sebal yang merayap di sana.


"Maaf, Tuan Marvel. Aku harus pamit sekarang, aku harus ke butik. Waktuku sudah habis tersita karna berdebat dengan Nyonya Mira, tadi," ucap Nada.


Tangannya terulur mengambil ponsel. Radit tampak tak terima, sepertinya dia ingin memaki. Tetapi, Nada terlebih dahulu menyela.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu yang, assalamualaikum," ucap Nada kemudian mematikan panggilan telepon dari Radit.


"Sepertinya kau selalu membuntuti ku dimanapun aku berada. Oke Tuan Marvel, akan ku pastikan kau pulang besok pagi, aku ingin memastikan sendiri seberapa perduli kamu pada istrimu ini," ucap Nada kemudian melangkahkan Kakinya.


Nada membuka hendel pintu, bersamaan dengan Micel yang ingin mengetok pintu. Nada tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Micel kemudian memberikan ponsel pada Micel.


"Terimakasih Micel," ucapnya sambil memberikan senyuman termanis.


"Sama-sama kak," jawab wanita cantik itu.


"Micel, sepertinya kakak harus ke butik, ada hal yang akan kakak kerjakan. Kalau nenek bertanya bilang saja kakak keluar, makanan untuk nenek sudah kakak siapkan di dapur," ucap Nada sambil tersenyum.


"Okey, ada lagi?" tanya Micel.


"Tidak, kakak nanti pulang agak sorean," ucap Nada lagi.


Nada yang tadi memesan taksi online kini segera berjalan mendekat ke arah taksi yang kini berada di depan gerbang mansion.


Mobilnya masih di apartemen Arfan. Sedangkan, untuk menggunakan salah satu mobil di rumah Radit, Nada tidak enak. Nada takut akan memancing keributan dengan Mira, pada akhirnya Nada memutuskan untuk naik taksi saja.


Nada duduk dengan tenang dan meminta pak sopir untuk mengantarnya ke butik.


"Sheyna bontique pak," ucapnya.


"Baik, Nona," ucap Nada kemudian melesatkan mobilnya ke alamat yang di minta.


Nada melirik ke arah spion mobil, dilihatnya dua orang berseragam hitam mengikuti dirinya dengan mobil juga. Nada menoleh ke belakang dan memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Nada menghela napas panjang saat dirinya benar-benar yakin orang itu mengikutinya.


Ponsel Nada berdering berualang kali dan menampakan nama Tuan Marvel, namun kali ini Nada enggan untuk mengangkatnya.

__ADS_1


"Okey Tuan Marvel, aku ikuti permainanmu," ucap Nada dengan senyuman yang indah.


😍😍😍😍😍


Radit mengumpat kesal saat Nada mematikan sambungan telpon dengan sepihak. Dani hanya tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana bisa Radit seperti orang gila?


Terdengar deringan ponsel Radit, segera Radit mengulurkan tangannya dan menggeser tombol hijau.


Tampak sebuah vidio dimana Nada tengah berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon. Radit mengamati dan mendengar dengan seksama apa yang di bicarakan Nada.


"Halo, Kak Rafa. Jadi kakak belum kembali ke pulau J?" tanya Nada dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Okey kak Rafa, aku malam ini free, aku akan meluangkan waktu untuk kakak," ucap Nada lagi.


"Iya kak, aku akan datang tepat waktu," ucap Nada lagi.


Di waktu yang sama, Radit tampak mengepalkan tangannya melihat interaksi Nada dengan orang di sebrang.


"Apa-apaan ini? Kenapa wanita itu berani mengabaikan panggilanku dan sekarang berbicang dengan orang lain dengan mesra? ****," umpatnya.


Radit memutuskan telepon dari orangnya kemudian mengepalkan tangannya. Radit menatap Dani yang memandangnya dengan tenang.


"Aku harus pulang sekarang juga, Aku yakin kau bisa menghendel semuanya," ucap Radit kemudian melenggang pergi.


"Siapkan pesawat sekarang juga," titah Radit terdengar nyaring di telinga Dani. Dani tampak tersenyum sinis.


"Kau sangat lucu, Marvel," ucapnya lirih.


😀😀😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2