
"Yang, aku harus bercadar?" Nada menatap ke arah Radit dengan pertanyaan yang masih mengganjal di otaknya?
Kenapa harus bercadar? Rasanya masih belum siap untuk itu, bahkan dirinya juga merasa belum layak.
Radit mengedarkan pandangannya dan menatap Nada dengan sorot mata tajam yang seakan enggan untuk dibantah.
"Pakai, atau aku batalkan pergi? Pilihan ada di tanganmu," Radit berlalu dan mengambil baju ganti.
Nada memejamkan matanya, aish sangat menyebalkan. Kenapa harus memaksa? Tapi kalau dia menolak kasihan sama Micel. Pada akhirnya Nada memakai mengambil setelan cadar dan gamis itu kemudian bersiap.
Tak lama kemudian, Nada meraih tangan dan berjalan ke arah pintu. Radit yang semula duduk tampak terpesona dengan penampilan baru istri tercintanya. Meskipun tertutup cadar, namun aura kecantikan dari Nada justru malah semakin terpancar.
"Kedip Yang, terpesona?" tanya Nada pada Radit yang kemudian terkekeh geli.
"You are a beautiful woman," ucap Radit sambil memandang Nada dengan senyuman.
"Kelihatan gombalnya, wajah aku nggak kelihatan Yang," sewot Nada kemudian melangkah pergi. Radit terkekeh geli kemudian berjalan mengikuti Nada di depannya.
Mereka berdua menapaki anak tangga dan turun bersama, semua mata tampak memandang keserasian meraka. Adem ayem ketika melihat wajah Tuan muda yang dingin kini berubah drastis.
"Tuan Marvel tersenyum? Tampan sekali," batin pelayan yang mungkin saat ini tengah bengong itu. Pandangan mata mereka juga tidak terlepas dari wanita cantik yang menutup wajahnya dengan cadar itu.
Nenek, kakek dan Mira yang kini berada di ruang santai tampak mengarahkan pandangannya pada titik yang sejak tadi mengundang perhatian itu.
"Kalian mau kemana?" tanya nenek antusias sambil berdiri mengamati Nada dan Radit yang tampak rapi. Aish, bahkan cucu menantunya terlihat anggun saat menutup wajahnya dengan kain penutup. Sedangkan Radit tampak tampan dengan kemeja lengan pendek yang berwarna marun juga. Sepasang suami istri itu tampak serasi sekali.
"Kami mau jalan-jalan," sahut Radit. Nenek dan kakek tersenyum bahagia. Berbeda dengan Mira yang tampak menatap Nada dengan tatapan tak suka.
"Wah, nenek dan kakek bahagia jika seperti ini. Berangkatlah!" ucap kakek sambil tersenyum.
"Ya, kami menunggu Micel," ucap Radit lagi.
Deg,
Jantung nenek dan kakek serasa mencelos. Mira, Mira juga sangat terkejut. Radit menunggu Micel? Benarkah? Sekian tahun Micel menantikan momen ini, Nenek menatap Radit dengan berkaca.
__ADS_1
Nenek mengusap wajah tampan cucunya itu. Walau yang dia tau Micel adalah cucu dari ayah yang berbeda. Tapi, rasa sayang nenek tak bisa untuk diremehkan. Micel dan Radit mempunyai tempat yang sama di hatinya. Nada? Nenek yakin ini semua berkat cucu menantunya itu. Kehadirannya bagaikan malaikat yang memberikan kesejukan.
"Terimakasih Marvel, nenek sangat bahagia mendengarnya," ucap nenek dengan tenang. Radit terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Aku siap," suara Micel membuat semua orang menoleh. Gadis cantik yang periang itu mendekat ke arah kerumunan orang.
"Micel," sambut nenek dengan pelukan hangatnya. Tak terasa air mata nenek luruh, Micel tau neneknya sangat bahagia, haru bercampur menjadi satu. Sama seperti apa yang ada di benaknya. Nada dan Micel saling berpandangan.
"Kak Nada, terimakasih," ucap Micel dalam hatinya.
Mira, sebetulnya dia juga sangat bahagia, tapi dia memilih diam. Melihat hubungan Marvel dan Micel yang seperti ini membuatnya bahagia.
"Berangkatlah," ucap neneknya dan djangguki oleh Micel dan Radit juga Nada. Ketiga orang itu melangkah ke arah parkiran.
Ketiganya segera masuk ke dalam mobil, di dalam mobil sudah ada Dani yang siap untuk mengantar. Micel berada di depan sedangkan Radit dan Nada ada di belakang.
"Selamat datang, selamat menikmati perjalanan," sambut Dani dengan Datar dan mengundang gelak tawa dari bibir Micel.
"Siap Tuan Muda," sahut Dani. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Micel antusias.
"Pantai," sahut Radit tampak cuek. Micel tampak bahagia, tadinya mau bertanya pada Dani dan ternyata malah di jawab Radit meskipun tampak cuek.
Micel melirik ke arah Nada yang juga melirik ke arahnya. Kostum Nada sangat menyita perhatiannya. Micel tertawa, dia hanya menduga-duga hal yang tak jelas.
"Dasar posesif," lirihnya.
"Kak, kenapa pakai cadar? Kakak tidak kepanasan?" tanya Micel yang terdengar jelas di telinga Radit.
"Panas enggak sih, hanya saja sedikit belum nyaman," sahutnya.
Radit hanya diam, fokusnya bukan lagi pada apa yang menjadi kontroversi Nada yang bercadar. Namun, pada dua mobil yang mengikutinya dari belakang. Dua mobil yang sedari tadi tampak memata-matai pergerakannya?
__ADS_1
"Apa yang mereka mau?" batinnya.
Sebentar kemudian, ada gelagat aneh yang ditunjukan Dani. Dani, asisten handal itu tidak perlu waktu lama untuk menyadari apa yang terjadi. Dan menancap gas dan menambah kecepatan laju mobilnya.
Di tengah fokusnya menyetir, dia mengeluarkan alat komunikasi dan mencoba menghubungi bantuan jika diperlukan. Radit tampak santai dan berbincang dengan salah satu rekan bisnis dalam ponsel, ia melirik Nada yang mulai takut dan memejamkan matanya.
"Ini ada apa? Dani kenapa kencang sekali?" teriak Nada, Nada sangat takut dengan kecepatan tinggi sehingga membuat dirinya khawatir dan emosi secara bersamaan.
Micel, dia juga terkejut, apa yang terjadi? Kenapa Dani melakukan hal ini? Micel menatap ke arah kaca sepion dan mendapati dua mobil yang mencoba mengikutinya.
"Maaf Nona muda, tidak ada apa-apa. Lebih baik Nona Muda berpegangan yang kuat," ucap Dani.
Radit, lelaki itu tampak sibuk dengan ponselnya membuat Nada merasa geram. Bercengkerama dengan wanita di sebrang sana, entah membicarakan apa dan mengabaikan dirinya?
"Turunkan kecepatanya, atau turunkan aku saja," sentak Nada yang sangat takut pada kecepatan itu.
Nada tampak berpegangan dengan kuat, Radit menatap Nada yang semakin takut, Radit mengakiri panggilannya dan memasukan ponsel di sakunya.
"Geser kesini," ucap Radit sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Nada hanya diam. Rasa sebalnya karena Radit mengabaikannya demi ponsel mengalahkan ketakutan pada dirinya.
"Aku bilang geser, dengar apa tidak?" ucap Radit sedikit membentak.
"Tidak, Aku disini saja," tolak Nada dengan wajah pucatnya. Radit yang menyadari Nada tampak geram menatapnya dengan tajam.
"Marahnya lanjutkan nanti,?" bentak Radit. Nada terdiam, ia berpegangan kuat saat Dani kembali menambah kecepatannya lagi.
Bersamaan dengan ditambahnya kecepatan Dani, Nada merasa ketakutan yang amat sangat. Dia terpaksa membuka sabuk pengamannya.
Dengan gerakan cepat Radit yang mengetahui pergerakan istrinya, segera menarik Nada yang ketakutan ke dalam rengkuhannya. Mereka saling menatap. Kini Nada ada di pangkuan Radit, dengan reflek tangan Nada mengalung di leher Radit.
"Lebih cepat lebih baik, belok kanan putar balik, kita cari jalur lain. Hindari saja mereka itu, aku tidak punya waktu untuk meladeni mereka." ucap Radit dengan pandangan yang masih tertuju pada wajah cantik istrinya.
"Siap Tuan Muda," ucap Dani kemudian membelah keramaian dan berhasil keluar dari kejaran dua mobil tadi.
😘😘😘😘
__ADS_1
Like komennya mana.. 180 Like 50 kmen up lagi.