
Nada memutar langkahnya dan mendekat ke arah Radit. Nada mengambil acses card milik Radit dan membuka pintu unit apartemen mewah itu. Radit masih tak menghiraukan keberadaan Nada di dekatnya. Hingga dirinya hampir saja tejatuh.
Nada terpaksa memapah Radit, merangkulkan tangan Radit ke pundaknya. Dia menatap bola mata Radit yang tampak memerah.
"Radit, maaf aku lancang masuk ke sini di saat keadaanmu seperti ini. Aku hanya ingin mengantarmu," ucap Nada sambil membawa Radit ke sofa.
Radit tampak menyadari keberadaan seorang wanita saat dirinya tengah terbaring di sofa, netranya mengamati wajah seseorang yang nyatanya tak jelas di pandangannya.
Nada memutar langkahnya dan hendak kembali, Namun dengan sigap Radit menarik tangan Nada hingga Nada terkejut dan terlentang di atas Sofa.
"Radit," kaget Nada.
Radit mengunci pintu dan melempar acses cara ke sembarang arah, netranya mengamati Nada yang berada di atas sofa. Imajinasi liarnya memenuhi otaknya. Nada menghela napas panjang ketika melihat Radit sudah tidak teekontrol lagi.
Nada bangun dan beringsut mundur, dengan tubuh yang kehilangan kontrol. Radit berjalan ke arah Nada, membuat Nada beringsut mundur kembali, netranya waspada mengarah pada sosok tinggi tegap dengan paras mempesona yang kini melepaskan jas yang melekat di badannya.
Radit tersenyum tipis, halusinasi liar bermain di otaknya. Nada menggelengkan kepalanya pelan.
"Radit, apa yang akan kau lakukan?" teriak Nada. Nada menatap Radit dengan rasa takut yang amat sangat. Niatnya ingin menolong, tapi kenapa justru malah membahayakan dirinya sendiri?
Radit mendekat dan terjatuh tepat di depan Nada.
"Kenapa kau selalu menyiksaku, Honey?" Radit berucap sambil mendekat ke arah Nada yang semakin beringsut mundur.
"Radit, biarkan aku pergi," lirih Nada yang semakin takut dan semakin mundur sehingga tubuhnya membentur ujung sofa.
Radit menatap ke arah wajah Nada yang semakin tegang, tangannya terulur mengusap pipi Nada yang sehalus sutra itu. Mengusap buliran air mata yang kini berjatuhan di pipinya.
Radit menatap lekat wajah Nada dengan mata dan pipi yang memerah, tatapannya mengunci kearah Nada sehingga membuat Nada semakin diliputi rasa takut.
"Kau tau, aku terlalu bodoh mencintaimu. Terlalu bodoh membiarkan cinta tumbuh di hatiku dan terlalu bodoh membiarkan hatiku sakit melihat kau bersamanya Amara,!
Deg
Hati Nada seakan ditikam belati yang menusuk, membuat dadanya sesak seakan tak bernapas. Radit ternyata berada dalam halusinasi liar yang berada di alam bawah sadarnya?
__ADS_1
Amara? Bagaimana bisa? Siapa Radit? Wajah Nada tampak terkejut dan bingung, akan tetapi rasa takut lebih dominan di hatinya.
Wajah Radit bergerak maju, membuat Nada semakin ketakutan. Dengan tenaga ekstra Nada mendorong dada Radit dan mencoba untuk pergi. Namun, dengan gerakan cepat Radit menagkap pinggang ramping Nada.
Radit mengangkat tubuh Nada di pundaknya, Nada dengan brutal memukul punggung Radit yang terus berjalan menapaki anak tangga. Tubuh Radit yang tadinya sempoyongan berubah begitu kuat.
Radit membuka hendel pintu dan melempar Nada ke atas tempat tidur. Nada beruaha untuk bangun, namun Radit mengurung tubuhnya dan menekan tangan Nada di atas kepala.
Nada semakin takut saat melihat gairah menggebu tampak dari sorot mata lelaki yang kini ada di atas tubuhnya.
Air mata Nada terus mengalir, dirinya seakan tak mempunyai tenaga untuk melawan.
"Radit, lepaskan aku, aku bukan Amara!" teriaknya mencoba untuk menyadarkan. Namun sayang, Radit tak mendengarkannya. Radit menarik paksa kerudung Nada tapi berhasil di cegah Nada dengan menendang perut Radit dengan lututnya sehingga Radit bangun dan memegang perutnya yang terasa sakit.
Nada sanggup berdiri, namun lagi-lagi Radit menangkap dan menghempaskan Nada ke tempat tidur. Radit melepakan pakaian atasnya, menampakan tubuh polos bagian atasnya yang indah, dia bergerak meninidih tubuh Nada yang saat ini terlentang di ranjang.
Dengan gerakan liar, Radit menyerang Nada dengan ciuman yang rakus, Radit tampak tertegun saat merasakan manis bibir yang kini dia rasakan, semakin membuat gelora di hatinya semakin panas. Radit terus memaksa, mencoba masuk ke dalam bibir Nada yang mencoba bertahan untuk tidak meladeni Radit.
Radit tersenyum tipis saat dirinya berhasil masuk dan merasakan manis yang berlebib di bibir Nada yang memabukannya, gigitan kecilnya mampu membuat Nada terpaksa membuka mulutnya.
Nada semakin berontak, dengan mencakar, mendorong, memukul ke arah Radit. Namun, bukan menyerah, Radit malah semakin tertantang.
Nada yang merasa Radit semakin buas kini menggigit bibir Radit. Radit terpaksa harus melepas ciuman manisnya dan mengusap bibirnya yang berdarah.
Netranya menatap ke arah Nada yang semakin ketakutan dan di penuhi deraian air mata.
"Radit, tolong lepaskan aku," ucap Nada dengan pelan karena kehabisan tenaga.
Namun, suara Nada diterima di telinga Radit seakan seperti des*han yang begitu merdu, membuat Radit tak bisa menahan hasratnya. Tubuh bagian bawahnya menegang sempurna dengan gerakan cepat Radit menarik baju Nada, sehingga baju itu robek. Namun, baju dalan Nada masih mampu menutupi aurat Nada.
Nada memejamkan matanya, merapalkan doa meminta bantuan pada sang Maha kuasa.
"Astagfirullah, tolong aku Ya Allah," lirih Nada.
Radit tak menghiraukan, dengan usaha kuat Radit berhasil melepaskan kerudung Nada. Netranya tampak terkesiap saat melihat wajah cantik dengan anak rambut yang berjatuhan bersamaan dengan lepasnya kerudung Nada.
__ADS_1
Radit maju dan kembali menyerang bibir Nada. Tangannya terulur bermain diatas gundukan gunung yang masih terhalang pakaian yang sanggup di pertahanan pemiliknya. Nada terkesiap saat merasakan sensasi panas, dingin, dan seakan melayang.
"Astagfirullah," lirihnya. Dosa? Mungkin ini adalah dosa terindah yang dilakukan karna pemaksaan seorang Marvel raditia Dika. Dosa yang memberikan buaian yang belum pernah dirasakannya.
Radit berdiri mencoba melepaskan celananya, dia tersenyum dan memandang ke arah Nada, yang dia pikirkan saat ini adalah memiliki tubuh Indah yang masih terbungkus itu.
Nada duduk dan beringsut mundur, untuk bangun dan berdiri rasanya sudah tak sanggup. Nada menggerakan tangannya ke atas, ia menemukan sebuah botol bekas minuman di atas Nakas. Saat Radit tak melihatnya dia mengambil botol itu.
Radit mendekati Nada, dengan masih menggunakan celana boxer. Dia semakin mendekati dan menyingkirkan anak rambut Nada. Nada semakin panik saat kaki Nada menyentuh barang sakral milik Radit yang tampak tegang di dalam sana.
Nada memejamkan matanya. Radit hampir saja menyerangnya lagi, dengan cepat Nada mengarahkan botol itu ke arah Radit.
Pyar... Prang..
Botol itu pecah tepat di kepala Radit. Seketika Radit memegang kepalanya. Darah segar mengucur deras dari kepalanya dan menetes di dahi, kemudian berjatuhan di ranjang. Tak menunggu lama, Radit tumbang.
Nada menutup mulutnya dengan tangannya, apa yang dilakukannya? Air mata Nada mengalir deras, dengan sigap Nada mengambil kerudungnya dan kembali memakainya.
Nada turun dari tempat tidur, bingung harus berbuat apa. Dia teringat Arfan kakaknya. Dia bisa meminta bantuan untuk menolong Radit. Menolong? Haruskah dia menolong orang yang mencoba memper*o*nya?
"Radit, bangun. Maafkan aku, aku tak punya pilihan lain," ucapnya.
Radit tampak memucat, namun, Nada seakan trauma dan tak bisa melakukan apapun.
Di waktu yang bersamaan, Dani yang mendengar suara pecahan kaca membuka pintu kamar. Dani memang memegang acses card cadangan. Sempat ke mansion dan tak ada Radit di sana dia memutuskan ke apartemen. Terkejutlah dia saat melihat bosnya terkapar bersimbah darah, Dani menatap ke arah Radit dengan panik, begitu juga terkejut saat melihat keadaan Nada yang berantakan.
"Wanita ini?" lirihnya. Pandangannya kemudian tertuju pada Radit
"Marvel," ucapnya dan mendekati Radit.
Nada bernapas lega, setidaknya dia bisa kembali ke apartemen kakaknya untuk meminta bantuan.
Benci? Perbuatan Radit mengakibatkan syok pada dirinya dan jelas sekali Nada membenci lelaki itu. Namun, Nada mencoba bersabar dan melangkah pelan.
"Tetap di tempatmu Nona,"
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀