
Bahkan, mungkin ini adalah jalan Tuhan memberi takdir yang sama kemudian mempertemukan keduanya.
Setelah sama-sama kehabisan oksigen, Radit melepas ciumannya. Nada, wanita itu sudah seperti candu yang menuntut dirinya untuk lagi dan lagi melakukan hal yang mampu menuai kenikmatan.
Radit menatap Nada dengan sorot mata tenang kemudian mengusap pelan wajah Nada yang begitu menggemaskan.
"Sepertinya Takdir memang tak pernah salah, ketika Tuhan menginkan kita bahagia, maka kita akan bahagia. Meski apa yang kita inginkan tak sejalan dengan apa yang dikehendakinya. Tapi nyatanya bahagia juga menghampiri dengan cerita yang berbeda," ucap Radit.
"Jadi apa kamu tidak marah? Atau mencoba untuk meminta bantuanku untuk menyatukan kamu dan Amara?" tanya Nada. Radit terkekeh dan mengusap pelan pipi Nada.
"Kau pikir aku akan jadi pebinor? Bahkan aku memilih pergi untuk kebahagiaan kakakku," ucap Radit. Nada menghela napas dalam -dalam.
"Seharusnya aku yang meragukanmu, bahkan sampai sekarang kamu tak pernah mengatakan cinta padaku. Jadi kau itu cinta tidak pada suamimu ini, hem?" Radit menatap Nada dengan penuh cinta. Sebenarnya dia bisa merasakan cinta Nada yang begitu tulus.
Tapi, dia tau Nada pernah juga melabuhkan hati pada orang lain sehingga dia ingin Nada memantapkan hatinya dan mengatakan jika hanya Radit yang ada di dalam hatinya.
Nada tampak tersipu, dia menatap Radit dan mengusap dada bidang Radit penuh cinta. Sehingga menggetarkan jantung Radit dengan tak beraturan. Nada meraih tangan Radit dan menciumnya penuh takdim.
"if you ask me how much I love you, I wonβt say anything. Iβll just take your hand, fill the gaps between your fingers and hold on to you until all your doubts are gone." Nada berucap panjang lebar sehingga tawa Radit terdengar di telinganya.
Radit melihat istrinya yang begitu menggemaskan, Radit mengangkat tubuh Nada dan menatap wanita istimewa itu.
Apa yang diucapkan Nada? Jika kamu tanya seberapa besar cintaku padamu, aku tak akan menjawab sepatah kata pun. Aku hanya akan meraih tanganmu, mengenggam jemarimu sampai keraguan itu sirna.
Ucapan Nada benar-benar membuat hati Radit berbunga. Nada, aish wanita itu benar-benar membuatnya gila. Radit membawa Nada ke sofa dan memangku Nada.
"I love you more than any word can say. I love you more than every action I take. Iβll be right here loving you till the end." jawab Radit di telinga Nada.
Aish, perkataan Radit benar-benar membuat Nada tersipu. Apa tadi? Aku mencintaimu lebih dari sebatas kata yang bisa diucapkan. Aku mencintaimu lebih dari setiap tindakan yang aku lakukan. Aku akan ada di sini mencintaimu sampai akhir.
"Gombal," celetuk Nada sambil berdiri. Radit menggenggam tangan Nada dan menarik dirinya.
"Aku ingin bicara satu hal kepadamu, tetaplah duduk di tempat," ucap Radit.
Nada seperti kucing yang penurut dan kembali duduk di pangkuan pangerannya. Radit melingkarkan tangan kanannya di pinggang Nada, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Nada.
"Bicara apa?" tanya Nada.
__ADS_1
"Aku minta maaf, dalam waktu dekat aku belum bisa untuk mengumumkan pernikahan kita. Aku juga belum bisa memperlihatkanmu di khalayak. Ada beberapa hal yang aku takutkan, setidaknya sampai proyek dengan Mr Tan berakhir," ucap Radit.
Nada menghela napas panjang, alasan apa yang membuat Radit seperti itu? Apa mungkin Radit masih meragukannya? Ada sedikit rasa sesak yang bergelayut di dadanya.
Radit menyadari perubahan wajah Nada. Radit menyambar bibir Nada, memagut, menyec*p dengan lembut untuk membantu menghilangkan kegelisahan di hati istrinya. Dirasa Nada sudah membaik, Radit melepaskan ciumannya dan menatap intens wajah Nada.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku melakukan ini untuk keamananmu," ucap Radit sambil menatap Nada. Meyakinkan permaisuri hatinya itu.
"Bukan karna kau meragukanku?" tanya Nada.
"No, jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku harap kamu menjaga hatimu, jangan pernah mencoba mendua, karna kamu milikku." Radit mencoba menegaskan. Nada memejamkan matanya.
"Akan ku coba untuk yakin dengan alasanmu," desis Nada.
"Kamu harus yakin, bukan mencoba," decak Radit. Nada yang semula ragu kini terkekeh pelan.
"Semoga saja tidak ada yang berniat untuk memilikiku," ucap Nada. Radit tampak membelalakkan matanya. Nada perempuan yang cantik. Siapapun pasti akan jatuh hati padanya.
"Kau tau, jikapun diluaran sana banyak orang mengagumimu, jika kamu tak memberikan akses untuk bertindak lebih jauh. Maka tidak akan bersemi cinta yang lain," ucap Radit.
Nada membelalakkan matanya, aish Radit selalu bisa mengendalikan dirinya.
"Oke, aku akan berusaha," jawab Nada.
"Bagus, jaga hatimu, terlebih lagi di depan Vino. Jangan mempertaruhkan persahabatanku, kau juga harus menegaskan padanya jika kau milik orang," ucap Radit. Nada terkekeh pelan.
"Kau cemburu pada Vino?" tanya Nada. Radit tampak mengalihkan pandangannya.
"Aku hanya patner kerja," sahut Nada yang melihat Radit tampak gelisah.
"Dia menyukaimu," decak Radit.
"Aku tidak pernah memberikan akses untuk mendekat," ucap Nada sambil tersenyum jahil. Radit yang merasa Nada membalikan perkataannya kini begitu jengkel. Radit menggelitik pinggang Nada sehingga Nada tertawa.
"Yang, lepaskan," pinta Nada.
"No," tolak Radit
__ADS_1
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Nada.
"Apa? "
"Aku lapar, lihatlah tubuhku lemas sekali karna kamu gelitiki. Yang, ayo turun. Kamu mau melihatku kelaparan?" tanya Nada. Radit membelalakkan matanya saat melihat jam yang menunjukkan pukul 07.00.
"Tetap di sini, kita habiskan hari ini di sini, biar Bi Arum membawa makanan untuk kita," ucap Radit sambil menekan ponselnya memanggil pelayan.
πππ
Di bawah sana semua orang sudah berkumpul, termasuk Zifana dan Mira. Zifana yang semalam ke luar kota bersama Mira mampir menginap di rumah itu.
"Dimana Marvel? Kenapa lama sekali?" tanya Mira.
Nenek, kakek dan Micel saling berpandangan.
"Di kamar," jawab Micel.
"Tidak ada Marvel di kamar tamu," balas Mira.
"Siapa yang bilang di kamar tamu? Kak Marvel ada di kamar utama, Bi Arum mengantar makanan ke sana, kata Bi Arum Kak Marvel dan Kak Nada tidak turun karena Kak Nada lemas," jawab Micel tanpa dosa sambil makan hidangan.
Tapi, ucapan Micel membuat pikiran nenek dan kakek melayang jauh kemudian mengusap lehernya.
Ucapan Micel juga membuat Zifana mengepalkan tangannya, juga membuat Mira menghela napas panjang karena sesak mendera di dadanya.
"Wanita itu, seperti apa wajahnya? Kenapa Marvel mau memakainya dan mengabaikan diriku?" batin Zifana.
"Zifa, makanlah." ucap Kakek dan diangguki oleh Zifana.
Mira melirik ke arah Zifana dan mencoba untuk tetap tenang.
"Kamar utama? Sejak kapan Radit mau menempati kamar itu?" batin Mira.
ππππ
Like komen hadiah... wkwkwkwk.
__ADS_1