
"I Like it," ucap Dani sambil mengamati tingkah bosnya yang lucu baginya.
Radit berdiri sambil meletakkan tangan kanannya di dinding sedangkan tangan kirinya sibuk memegangi ponselnya.
Lagi-lagi panggilan tak terjawab. Kini Dani berdiri di samping Radit dan tersenyum tipis.
"Dia bersama Micel, sebaiknya kau menghubungi ponsel Misel dari pada gelisah seperti ini," ucap Dani sambil memandang ke luar. Radit tampak terdiam. Micell? Bahkan dirinya tak pernah menghubungi adiknya itu sekalipun.
Lalu, apa iya dia harus menghubunginya sekarang? Aish, sepertinya memang dia harus menghubungi Micel dari pada mati karna menahan kekhawatiran.
Radit menekan tombol panggil, pada akhirnya dilayar ponselnya memperlihatkan. Adik Nakal berdering.
Nada dan Micel menoleh ke arah ponsel Micel yang berbunyi, Micel melirik ponselnya yang memperlihatkan nama "Kak peluk aku" Micel tampak terkejut. Bahkan selama ini tak pernah kontak itu memanggilnya.
Micel menghentikan aktivitasnya, matanya tampak berkaca. Nada dan Micel saling berpandangan. Nada yang tak paham siapa yang menelepon hanya diam.
"Kak Marvel," lirihnya. Seketika Micel menggeser tombol hijau dan meletakkan di telinganyanya.
"Halo, Kak," sapa Micel.
"Sambungkan telepon ini pada Nada," ucap suara di sebrang. Micel memejamkan matanya. Nada? Kakak iparnya? Aish, Kak Nada benar-benar membawa aura yang positif. Bahkan, Radit yang tadinya tak pernah menghubungi ponselnya. Kini Radit mau menghubunginya.
Micel menyerahkan ponsel kepada Nada, Nada seakan bertanya siapa? Namun, Micel hanya tersenyum.
"Angkat saja," ucapnya lirih. Nada mengambil ponsel itu dan meletakkan di telinganya.
"Halo assalamualaikum," sapa Nada.
"Bisa kau menjauh dari Micel? Pergi ke kamarmu sekarang juga," titahnya.
__ADS_1
Nada memejamkan matanya, hatinya seperti tersiram bongkahan es batu dari atas sehingga membuatnya merasakan hati yang begitu dingin dan tenang mendengar suara indah suaminya.
Bahkan, Raditpun merasakan hal yang sama. Nada segera berdiri, Micel hanya tersenyum. Dia tau kakaknya butuh privasi.
Nada segera berjalan ke arah kamarnya, dilihatnya Panggilan Vidio dari "kak peluk aku" Nada yang kini berada di balkon kamar menggeser tombol hijau dan menampakan wajah tampan yang sangat dirindukannya.
Radit menatap wajah cantik wanita yang kini duduk manis di kursi sambil tersenyum ke arahnya.
"Assalamualaikum, Yang," sapa Nada sambil tersenyum.
Radit menatap Nada dengan wajah datarnya, namun tak dipungkiri hatinya sangat bahagia menatap wajah cantik berbalut jilbab berwarna merah muda itu.
"Kemana saja? Kenapa kamu tidak mengangkat ponselmu?" tanya Radit tampak emosi.
Nada memandang wajah tampan yang kini sedang marah, tetapi mampu menerbitkan senyumannya.
"Kenapa tersenyum?" tanya Radit lagi. Nada menghela napas panjang.
"Di kamar pembantu?" tanya Radit dengan wajah dinginnya.
"Maaf, aku..."
"Kenapa sepertinya kamu takut sekali dengan wanita itu, hem? Bahkan kamu hanya diam ketika dia menganiayamu, lalu dimana sisi keberanianmu?" tanya Radit sinis.
Nada memejamkan matanya, apa Radit mengkhawatirkan dirinya? Aish kenapa dia malah percaya diri sekali?
"Apa kegalakanmu hanya berlaku untukku? Kenapa kamu selalu membiarkan dirimu disakiti?" tanya Radit dengan emosinya yang menggebu.
"Sudah, bicaranya Tuan Marvel?" tanya Nada sambil tersenyum. Nada menyandarkan ponselnya di dinding, kemudian memegang dagunya dengan kedua tangannya. Nada memandang Radit yang kini menatapnya dengan sorot mata kerinduan.
__ADS_1
Radit menatap ke arah layar ponsel yang menampakan wajah imut Nada yang membuat dirinya semakin tergoda.
"Aku diajari untuk sopan terhadap yang lebih tua, bukan karna aku takut kepadanya," ucap Nada dengan tersenyum.
"Sopan? Kau harus tau dulu lawanmu, kalau dia bisa sopan kamu boleh sopan, jika dia kurang ajar kamu bisa melakukan hal yang sama. Bahkan aku juga lebih tua darimu, mana ada kamu sopan terhadapku?," ucap Radit dengan sorot mata yang tajam.
"Apa kamu mengkhawatirkan aku Yang? Kamu tau, aku galak saja kamu terpesona, apalagi jika aku lemah lembut dan mempesona?" tanya Nada. Radit tampak terdiam dan tenang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Radit sambil meneguk kopi dari cangkir berwarna merah. Aish, kenapa wanita ini selalu sanggup membuat dirinya terbungkam.
"Lalu, aku harus bagaimana? Aku bukan siapa -siapa sedangkan Nyonya Mira adalah pemilik rumah ini," ucap Nada.
Radit menghela napas panjang dan menatap ke arah Nada.
"Apa kau lupa, kau adalah Nyonya muda Marvel," ucap Radit dengan tenang Nada terkekeh geli.
"Nyonya muda yang tidak diakui? Kamu tau Yang? Aku bukan siapa-siapa tanpa pangkuanmu. Bahkan aku tidak mempunyai hak apapun, namun berbeda lagi jika kamu mengakui keberadaanku, maka aku bisa saja memegang kendali mama mertua," ucap Nada sambil tersenyum menatap ke arah Radit.
Aish, apa-apaan ini? Salahkah Radit mengkhawatirkan Nada? Bahkan, dia tau Nada begitu sulit untuk di tindas.
"Jadi kamu ingin pengakuan?" tanya Radit. Nada mengangguk. Radit memejamkan matanya dan menghela napas kasar.
Nada meletakan ponselnya di meja rias, netranya melirik kearah foto pernikahan yang terpampang di sana. Nada Mengusap pelan foto yang menampakan wajah tampan suaminya. Suami yang selalu membuatnya berdebar saat didekatnya. Membuatnya tertawa bahagia saat menggodanya.
Nada mengedarkan pandangannya merasa sepi tanpa Radit. Hatinya berdesir ngilu. Sesak tiba-tiba.
"Dear," ucap Radit. Nada menatap teduh dua bola mata nan indah di depannya. Mengagumi ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna itu.
"Hem,"
__ADS_1
"Aku mencintaimu,"😍😍😍😂
😍😍😍😍😍