
Vino melangkah dengan terburu menuju ke sebuah ruang rumah sakit. Kabar keberadaan Asyla yang terdengar di telinganya membuat dia melupakan segalanya. Bahkan, dia lupa bagaimana perasaan seorang Micel Adelia yang dia tinggalkan tanpa kejelasan kemana dia pergi.
Willy, yang saat itu tengah berada di rumah sakit melihat seseorang yang tak asing sedang berbincang di depan ruang UGD. Mereka bilang bahwa Asila yang kabur dari rumah kini di serang penyakit typus sehingga harus dirawat.
Vino membuka pintu ruangan rumah sakit yang kemudian menampakan wajah pucat yang kini sedang terbaring di atas ranjang.
Vino berjalan dan perlahan mendekat ke arah Asila. Gadis dua puluh lima tahun yang menghilang tanpa jejak itu, gadis yang sanggup membawa separuh hatinya. Kini, dia kembali ketika Vino sudah berstatus menjadi seorang suami dari Micela Adelia Dika.
Kemana sebenarnya wanita itu pergi? Dan bagaimana bisa dia kembali?
Vino menatap lekat wajah Asila yang memejamkan matanya, bulu mata indah dan wajah cantik. Akan tetapi entah kenapa, ada bayangan Micel yang kesana kesini mengganggu pikirannya.
Vino mencoba menepis bayangan Micel, Vino menggenggam tangan Asila dengan erat.
"Sila, ini aku. Kekasihmu," bisiknya di telinga Asila.
Detak jantung Asila bergerak cepat, membuat wanita cantik itu perlahan membuka matanya. Terkejut dengan keberadaan Vino yang kini ada di sampingnya, Asila mencoba untuk bangun dari tidurnya. Akan tetapi, Vino menahan tubuh yang tampak lemah dan tak berdaya itu untuk tetap terbaring.
"Tetaplah di posisimu, Sila. Biarkan tubuhmu istirahat, kau sepertinya sangat kelelahan," ucap Vino.
Asila tampak tak sanggup untuk terus terbaring, sedang dirinya sangat merindukan Vino.
Vino dan Asila saling berpandangan lama,. Vino mengusap pelan puncak kepala Asila, dan mengusap lelehan air mata yang jatuh di pipi wanita itu. Tiga tahun lamanya mereka hilang kontak, dan sekarang Asila benar benar berada di depannya. Mimpikah?
Beberapa saat setelah mereka saling menatap dan larut dalam perasaan yang sulit untuk dijelaskan, kini Vino mencoba membenahi posisinya.
"Sila, bagaimana keadaanmu?" tanya Vino saat netranya bertemu dengan mata Asila. Asila hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya, gelengan kepala Asila membuat Vino semakin menghawatirkan keadaan wanita dewasa itu.
Dengan gerakan pelan Asila mencoba bangun, dengan hati hati Vino yang tadi sempat menahan gerakan Asila, kini membantu Asila untuk bangun dan bersandar di ranjang.
"Vino, aku merindukanmu," wanita yang sudah duduk sempurna itu berhambur ke dalam pelukan Vino.
Rasa marah dan kecewa di diri Vino seolah sirna entah kemana. Tadinya ingin memaki, bahkan mengintimidasi Asila. Akan tetapi melihat keadaan Asila saat ini, membuat Vino enggan untuk melakukannya.
__ADS_1
"Hei, kemana saja kamu selama ini Sila? Penyakit apa yang kamu derita hingga harus rawat inap di sini?" tanya Vino antusias sambil membalas pelukan Asila dan menepuk pelan pundak Asila dengan lembut.
Segera Asila melepaskan pelukannya pada Vino. Asila mentap Vino dengan linangan air mata. Vino mengamati perempuan cantik yang ada di depannya itu. Perempuan yang selalu menyayanginya, selalu merindukannya dan mempunyai berjuta kasih sayang untuknya dulu kala. Saat ini? Masihkah sama? Entahlah.
"Vino maafkan aku. Aku terpaksa meninggalkanmu waktu itu. Namun, sekarang aku kembali untukmu Vino." ucap Asila.
Air mata Asila berjatuhan, dulu mereka bersama dan saling menyayangi. Mereka selalu bersama dan saling menjaga. Masihkah cinta itu tersisa? Bahkan, Asila pernah meninggalkan dan menghilang darinya. Masihkah ada cinta yang sama di hati Vino?
Asila mengamati wajah tenang Vino, air matanya terus saja mengalir. Asila meraih tangan Vino, menggenggam dan menciumnya. Tetesan air mata membasahi tangan Vino.
Vino seakan bingung dengan perasaannya, Micel? Kenapa malah bayangan wanita itu yang kini memenuhi otaknya? Kenapa gadis kecil itu yang mengganggu pikirannya? Kenapa gadis itu seakan mengatakan kebencian pada dirinya?
"Vino, maafkan aku. Aku pergi karena ada hal yang sangat mendesak, tapi percayalah Vino. Aku sangat mencintaimu, bahkan aku tidak bisa melakukan apapun tanpamu. Aku memutuskan pulang kesini untukmu. Apa kamu merindukan Aku seperti aku yang merindukanmu?" ucap Asila ditengah isak tangisnya.
Vino hanya diam, ucapan Asila tak tersambut. Rindu? masih adakah rasa itu untuk Asila? Bahkan dia tak tau dan masih saja terjebak dalam perasaan yang tak menentu.
"Vino, kamu mendengarku? Kamu bilang kamu akan merindukan aku, kamu bilang mau memeluk aku setiap waktu. Kamu bilang akan setia? Masihkah berlaku janji itu untukku?" tanya Asila.
Suasana sedikit haru. Asila mencoba mencari jawaban dari Vino. Vino tak kuat melihat Asila menangis, tapi hatinya juga teriris mengingat Micel yang pastinya sangat kecewa karna ditinggalkannya. Vino mendekat ke arah Asila, sontak membawa Asila dalam peluk hangatnya. Entah, perasaan apa yang mendorongnya melakukan hal ini.
Sila beringsut mundur perlahan, hatinya terasa perih, sakit, kecewa. Apa seperti ini kenyataan hidup yang harus dia hadapi?
"Kamu sudah menikah? Kamu meninggalkan aku dan menikah dengan orang lain? Apa cinta kamu sudah tidak ada lagi untukku?" tanya Asila dengan lirih. Vino hanya diam saja. Harus menjawab apa? Harus bagaimana?
"Jika pada akhirnya aku harus sakit hati seperti ini. Lebih baik aku mati," ucap Asila sambil menarik selang infus dengan kasar
"Akh," keluhnya. Vino segera meraih tangan Vino dan kembali memasang infus di tangan Asila.
"Sila, jangan seperti ini," ucap Vino agak membentak. Asila tak mendengar dan terus memberontak.
"Asila, hentikan," bentak Vino lagi.
Asila hanya menangis, suaranya tercekat di tenggorokan. Asila tak sanggup untuk berkata lagi.
__ADS_1
"Untuk apa lagi aku hidup, jika pada akhirnya perjuanganku sampai sini sia sia? Kamu telah menikah dan artinya kita tidak bisa bersama. Lalu untuk apa aku kesini?" tanya Asila.
Vino tak sanggup melihat pemandangan di depannya. Melihat Asila menangis juga menjadikan hatinya perih. Apa sebenarnya yang dia rasakan? Kenapa dirinya seolah dipermainkan oleh perasaannya? Micela atau Asila? Siapa diantara mereka yang sebenarnya dia cintai?
"Biarkan aku mati, bila kamu tak mungkin untuk bersamaku," ucap Asila..
Deg jantung Vino seakan teriris saat melihat ke arah tangan Asila yang meraih pisau tajam di atas piring buah.
"Diamlah Asila. Aku melakukannya hanya untuk menjaganya. Dia adik dari sahabatku," ucap Vino dengan tegas sambil menahan tangan Asila yang memberontak dan berusaha untuk lepas dari genggaman tangan Vino.
"Benarkah?" tanya Asila dengan binar mata yang jelas tampak di wajahnya. Asila sedikit tenang dan menatap ke arah Vino.
Vino terdiam. Benarkah tak ada cinta sedikitpun untuk istrinya?
"Vino, benarkah?" tanya Asila lagi.
"Mbak Asila, waktunya minum obat dan maka siang," seorang suster datang sambil membawa nampan berisi bubur sehingga mampu mengalihkan perhatian Asila.
Segera Vino meraih nampan itu.
"Terimakasih Sus," ucap Asila dan diangguki oleh suster.
Suster itu melenggang pergi. Asila menatap ke arah Vino yang kini menyupkan satu sendok bubur kepadanya.
"Makanlah, Sila," ucap Vino.
😍😍😍😍😍
Di Mansion Pradikta, Mama Elina berjalan kesana kesini sambil membawa ponsel yang terus berbunyi memanggil Vino, Rendi, Willy.
Tak ada yang mengangkat sedangkan sampai saat ini, Micel belum kembali. Kemana mereka? Mama Elina menghawatirkan menantu cantiknya.
Vino, awas saja jika sampai terjadi apa apa dengan Micela, lirih Mama Elina.
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍