
"Micel, Micel, Dimana kamu?"
Bi Nah yang mendengar teriakan Vino dari dapur segera menuju ke ruang Kamar Majikannya. Bi Nah tampak kebingungan, melihat wajah Vino yang begitu pucat, dan juga demam tinggi. Badan Vino juga merah merah. Papa Pradikta dan Mama Elina sejak pagi tidak menjenguk putranya. Mungkin mereka tak tau jika Vino sedang sakit. Bahkan, mungkin mereka masih marah pada putranya itu.
Bi Nah segera mengambil kompres dan mengompres majikannya. Semalaman setiap tidur Tuan mudanya selalu saja berteriak, mengigau memanggil nama istrinya. Bi Nah segera bangkit, dia pun berencana memberitahu Nyonyanya yang kini sedang berada di taman belakang.
"Maaf Nyonya Elina, saya hawatir dengan Tuan Vino, apa tidak sebaiknya dirawat, Nyonya?" tanya Bi Nah. Mama Elina menatap ke arah Asisten rumah tangganya dan tersenyum.
"Memang kenapa dengan Tuan Vino?" tanya Mama Elina yang memang tidak tau jika putranya sakit. Sedari dulu, orang pertama yang sangat hawatir pada Vino dan Vina saat alergi kambuh adalah Nyonya Elina sendiri. Pasalnya Papa Pradikta selalu keluar kota, dan hanya Mama Elina yang merawat mereka. Jika mereka kambuh, gejala alergi yang mengakibatkan sesak napas bahkan muntah dan Diare itu membuat Vino kecil kehilangan nyawa. Makanya, Mama Elina melarang keras Vino mengkonsumsi telur.
"Tuan Vino sakit, badannya panas, tangannya bengkak, dan badannya merah merah semua, saya hawatir ada apa apa dengan Tuan Vino Nyonya,"
Brak
Pot kecil yang dibawa Mama Elina jatuh dan pecah, Mama Elina berdiri. Yang dikatakan bi Nah adalah tanda tanda alergi akut yang di derita Vino sejak kecil. Lalu, bagaimana bisa itu terjadi? Apa Putranya makan makanan yang dilarang? Apa mau bunuh diri? Sudah berapa kali dia diberi tau? Air mata Mama Elina mengalir. Segera Mama Elina melangkah dan berlari kecil menuju ke kamar Vino.
"Kasihan Tuan Vino, Non Micel cepatlah pulang, Tuan Vino benar-benar membutuhkan nona," gumam Bi Nah pelan kemudian mengikuti langkah Nyonya besarnya menuju ke kamar Vino.
Tidak lama dari itu Nyonya Elina sudah sampai di depan kamar Vino. Dia segera berjalan ke arah ruang kamar Vino, bi Nah mengikuti langkah Nyonya nya. perlahan Nyonya Elina membuka pintu, berjalan ke arah Vino yang terbaring lemah, mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Putranya.
"Sudah dari semalamVino seperti ini Bi?" tanya Nyonya Elina sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Benar, penyakit Vino kambuh, penyakit yang sudah lama ini. Lalu, bagaimana bisa? Apa Vino melanggar? Mama Elina Meminta asisten untuk menyiapkan mobil. Dirinya akan membawa Vino ke dokter. Kebetulan dokter pribadi mereka ada dinas di luar negri.
__ADS_1
"Demam nya baru hari ini Nyonya, tetapi sejak kepergian Nona Micel kemarin sepertinya Tuan Muda Vino mengigau terus," ucap Bi Nah dengan wajah sedihnya.
Nyonya Elina menghela nafas panjang, mencoba memposisikan dirinya sebagai Vino.
"Mungkin kamu punya alasan sendiri untuk semua yang kamu lakukan. Tapi mama yakin apapun alasannya, saat ini mama benar-benar bisa melihat bagaimana sebenarnya hatimu, cintamu tulus untuk istrimu. Walau selama ini kamu terlihat cuek cuek saja, mama akan membantu pencarianmu, cepatlah sembuh, Nak!" gumam Mama Elina.
Merasakan sentuhan hangat dari mamanya, Vino membuka matanya dan memandang mata indah milik ibunya, ibu yang sejak semalam bersedih dan dia pikir mengabaikan dirinya. Vino berusaha duduk, kemudian memeluk erat ibunya.
"Mama," sapanya ketika berada dalam pelukan mamanya. Salah satu alasan menikah dengan Micel selain menjaganya, Vino juga ingin membuat mamanya bahagia. Tapi saat ini malah dia membuat sedih mamanya, bahkan Micel juga.
"Anak nakal, kenapa kamu mengabaikan kesehatan mu, kenapa kamu selalu saja membuat mama kecewa, kenapa selalu saja membuat ulah, sampai kapan kamu akan menguji kesabaran Mama, hemmm? Lihat, apa kamu makan yang mama larang? Kenapa sampai tua seperti ini kamu tetap saja bandel Vino?" tanya Mamanya panjang lebar.
Air mata mamanya sudah tidak terbendung lagi, melihat kondisi putranya yang benar-benar lemah membuatnya terharu. mungkin kehilangan Micela bukan saja memberikan kesedihan untuknya saja. Akan tetapi, Vino yang belum mengaku belum mencintai Micel itu justru merasakan hal yang sama, atau bahkan lebih. Sampai sampai keadaannya begitu menyedihkan seperti ini.
"Bagaimana bisa kamu kambuh seperti ini? Kamu sesak napaskan? Mama akan mengantar ke rumah sakit, lalu kita harus mencari Micel. Mama Tidak mau kabar ini terdengar di keluarga MRD sehingga mereka juga akan menghawatirkan Micela," ucap Mamanya. Vino terdiam, mama Elina menatap Vino lagi.
"Apa kamu mencoba bunuh diri? Apa yang kamu makan?!" tanyanya. Vino terkekeh dan mengamati wajah mamanya.
"Semalem, Micela masak mie. Karna siangnya aku membuatnya kecewa, aku tidak mau lagi Micel kecewa lagi untuk yang kesekian kalinya," ucap Vino sambil mengingat wajah Micel yang saat itu tersenyum bahagia.
Mama Elina tersenyum, seperti itukah? Vino rela menahan sakit untuk membuat Micel bahagia?
__ADS_1
"Kenapa Mama bisa disini? bukankah mama dan Papa marah padaku?" tanyanya.
Vino tidak mau lagi mamanya bersedih, jika papanya memarahi mamanya karna menemuinya.
"Jangan pikirkan papamu, makanlah dulu. Mama memasak bubur kesukaamu, Cepatlah sembuh, agar bisa segera membawa mantu pulang," ucap mamanya. Vino kembali memeluk erat mamanya.
"Apa Mama percaya jika Aku mencintanya, apa Mama percaya jika aku dan Asila sudah berakhir," ucap Vino. Mama Elina menghela napas panjang. Nyonya Tania mengusap pundak putranya. dan mengangguk.
"Mama sudah yakin sekarang. Kamu harus tau,Sayang. Tidak ada rumah tangga yang mulus, semua butuh proses, juga melewati berbagai macam ujian, cobaan. Sedangkan mama tau, pernikahan mu bersama Micela adalah sebuah pernikahan yang tidak mudah. Pada akhirnya sekarang mama tau jika kamu menikah tanpa cinta, meskipun begitu. Mama Mau kamu memperbaikannya. Cari Micela dan hiduplah dengan lembaran baru, lupakan masa lalu Vino. Mama mohon, lupakan dunia gelap itu," ucap mamanya sambil memeluk erat Vino. Pelukan hangat dan perkataan hangat mamanya membuat semangat tersendiri untuknya. Vino tersenyum kemudian melepas pelukan mamanya.
"Terimakasih Ma, doa kan Vino. Vino janji Akan membawanya kembali untuk kita" ucap Vino. Mama Elina tersenyum.
"Mama pegang janjimu, jangan lagi mengecewakan Mama. Cepatlah makan, dan kita berangkat ke rumah sakit sekarang," ucap Mama Elina.
"Mama tunggu di bawah," ucap Mama Elina lagi kemudian melenggang pergi.
Vino mengangguk, Mama Elina bernafas lega. Dia tersenyum melihat semangat Vino.
Mama nya mencium puncak kepala Vino kemudian melenggang pergi. Nyonya Elina sejenak berhenti didepan Pintu, melihat Vino yang menikmati makanannya dari sela pintu yang terbuka. Air mata begitu saja lolos dipipi nya.
"Mama doakan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua," lirih mamanya.
__ADS_1
❤❤❤❤❤