Pelabuhan Cinta Sang Casanova

Pelabuhan Cinta Sang Casanova
PCSC 132


__ADS_3

"Ini untukmu dahulu, kamu menginginkannya kan?" seseorang di samping Nada mengulurkan kantong plastik kepada Nada. Nada menoleh dan terkejut mendapati orang itu ada di sampingnya.


"kamu," ucap Nada. Nada membalik arahnya, ia mencoba menjauhi orang itu. Entah, bagaimanapun juga melihat orang itu adalah hal yang menyakitkan baginya.


Nada melebarkan langkahnya. Tetapi orang itu masih saja mengejarnya.


"Nona Nada, tunggu!" ucap Gino. Nada tak mempedulikan teriakan Gino, sehingga Gino menarik tangan Nada dengan paksa.


Mau tidak mau Nada menghentikan langkahnya. Nada menatap Gino dengan tajam, menepis tangan Gino dengan Kasar. Aish, entah kenapa dia emosi.


Saat ini pertemuan keduanya setelah kejadian di bar itu. Pertemuan setelah lama tak berjumpa. Nada memejamkan matanya, ia takut orang di depannya akan berbuat hal yang nekat.


"Nona Nada, Aku mohon beri waktu aku untuk berbicara," ucap Gino.


"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Tuan. Kita sudah selesai, jangan lagi mengusik hidupku," ucap Nada tegas.


Gino menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Tampak senyum sinis menghiasi sudut bibirnya. Memang sudah menjadi takdir, ketika dirinya harus tidak berjodoh dengan wanita di depannya. Tapi, tetap dia akan berusaha mendapatkan. Meskipun harus merebutnya dari Marvel Raditia Dika CEO MRD group sekalipun.


Rasa penasaran masih tersimpan di hatinya melihat takdir berkata jika wanita yang dia cari telah menjadi milik orang lain menurut pemikiranya membuat obsessinya semakin besar.


"Nona Nada, maafkan aku. Waktu itu aku mabuk dan aku tak sadar dengan kejahatanku," ucap lelaki itu.


Nada terhenyak, tidak sengaja? Mungkin masuk akal, tetapi rasa sakit yang pernah diberikan orang di depannya terlalu sadis untuk dilupakan. Nada memejamkan matanya, menghela napas panjang. Rasa takut menghujam hatinya. Rasanya dia ingin segera kembali ke dalam rumah saki.


"Maaf Tuan, lupakan masa lalu. Anggap saja aku sudah memaafkanmu," ucap Nada kemudian melenggang pergi.


Gino menghela nafas panjang, dan mengeratkan tangannya. Dia mencoba menguasai hatinya. Jika dia emosi dan berbuat nekat, pasti wanita itu semakin takut. Dan rencana untuk mengambil perhatiannya dari Radit akan gagal.


"Nona Nada, maaf. Aku minta waktu untuk kita bercengkrama sebentar," ucapnya.


"Aku memaafkanmu bukan berarti aku mau berbincang. Aku sedang sibuk Tuan, maaf bila aku harus pergi," ucap Nada sambil tersemyum dengan paksa. Namun, senyuman itu malah bagaikan berlian indah yang membuat Gino semakin terpesona.


"Ya, aku tau itu Nona Nada. Aku tau. Aku hanya ingin melegakan perasaanku. Rasa bersalah yang selama ini menghantuiku harus hilang, agar aku mampu hidup dengan tenang," ucap Gino. Nada merasa lega, setidaknya lelaki di depannya tidak berbuat nekat.


"Iya Tuan, aku sudah memaafkan. Tapi saya harus segera pergi," ucap Nada.


"Boleh kita berteman?" tanya Gino. Nada tampak berfikir.


"Aku berharap kita berteman, semoga kau mau," ucap Gino lagi. Nada terdiam.


"Aku tidak bermaksud apapun, aku tau Anda kelaparan. Wajahmu pucat sekali, jika anda menolak roti dariku karena aku adalah orang yang pernah menyakitimu. Maka terimalah Roti ini sebagai tanda pertemanan kita," ucap Gino sambil mengulurkan Roti pada Nada.


Nada tersenyum singkat, ia memang begitu kelaparan.Tangan Nada tergerak untuk mengambil roti itu. Akan tetapi sebuah tangan kekar menghalangi aksinya. Nada dan Gino sama-sama terkejut saat Mendapati Rafa berada tepat di depan Nada. Rafa berada di antara Gino dan Nada.

__ADS_1


Rafa menatap keduanya bergantian, dan pada akhirnya ia menatap wajah Nada dengan sorot mata tajamnya. Ia memegang ke dua pundak Nada. Nada menghela napas panjang, dan menatap ke arah orang yang pernah dia cintai.


"Kak Rafa," ucapnya sambil tersenyum, dia tampak lega. Berada bersama dengan Gino membuatnya sport jantung. Untung saja ada Rafa yang menolongnya. Hais, Rafa adalah orang yang sangat menjaganya, seperti menjaga Amara. Lalu, ada urusan apa dia di sini?


"Kakak, sejak kapan di sini?" tanya Nada.


"Sejak kemarin, aku ikut investasi di pradikta group, sehingga harus mengikuti grand openingnya," ucap Rafa. Nada tersenyum kemudian berdiri di samping Rafa.


"Ehem, jadi ini bagaimana Nona?" tanya Gino sambil memandang Nada.


"Itu untuk anda saja, Nona Nada akan saya belikan," ucap Rafa. Gino tampak dongkol. Siapa dia? kenapa seakan juga menyukai Nada? Gino tersenyum singkat dan menatap ke arah Nada.


"Kasian Nona Nada kelaparan," ucap Gino.


"Dia tidak suka selai nanas," ucap Rafa. Gino menghela napas panjang dan memandang roti miliknya yang berbarcode selai nanas.


"Okey, terimakasih. Kalau begitu saya pamit." ucapnya tampak dongkol kemudian melangkah pergi. Nada bernapas lega dan memandang Rafa.


"Kakak terimakasih," ucap Nada. Rafa tersenyum dan mengusap pelan puncak kepala Nada.


"Kenapa malam-malam diluar?" tanya Rafa.


"Aku lapar, kakak sendiri mau apa?" tanyanya.


"Kakak bawa apa?" tanyanya. Rafa menatap tangannya dan tertawa.


"Astaga, kakak lupa. Ini untukmu saja kalau begitu, roti bakar selai coklat, kesukaan kakakmu kalau kamu mau," ucap Rafa sambil mengulurkan tangannya memberikan kantong plastik pada Nada.


Nada memgulurkan tangannya juga, akan tetapi sebuah tangan kekar lagi-lagi menghalangi aksinya. Nada dan Rafa sama-sama terkejut saat Mendapati Radit berada tepat di depan Nada.


"Sayang, apa yang kamu lakukan disini? Kenapa bersama dia?" tanya Radit dingin.


Nada menunduk. Nada bingung harus menjawab apa, pasti suaminya sedang melakukan aksi salah paham. Radit tau Rafa adalah orang yang dia sukai. Pasti dia tengah tersulut emosi.


Radit yang tersulut emosi menghadap kearah Rafa. Radit menarik kerah baju Rafa dan siap melepaskan satu pukulan.


"Apa kau mencoba menggodanya?" sentaknya.


Dengan cepat Nada berada diantara mereka dan menarik tangan Radit agak menjauh.


"Yang, tenangkan dirimu," ucap Nada.


"Bagaimana bisa aku tenang, Dear. Mana bisa aku tenang ketika aku melihat dia. Dia manusia yang kamu cintai," ucap Radit panjang lebar sambil melirik Rafa yang hanya berdiri dengan santainya sambil membawa kantong plastik berwarna hijau

__ADS_1


Nada meletakkan kedua tangannya di pipi Radit mengamati wajah tampan Radit yang tampak merah. Nada menjinjit kemudian mencium sekilas bibir Radit. Membuat Radit merasa tenang, dan membuat Rafa memalingkan wajahnya. Rafa tau jika Nada telah menikah dari Arfan. Menyesal mengabaikan Nada? Entahlah.


"Kamu bisa diam sebentar Tuan Marvel? bagaimana aku menjelaskan jika kamu terus saja bicara?" tanya Nada dengan senyuman yang berhasil menguasai Radit. ucapan Nada Bagai sihir yang melumpuhkannya. Radit terdiam dan menatap wajah Nada dengan tenang.


"Aku lapar Yang. Aku pengin makan makan roti bakar. Disana Antri sekali, Kak Rafa menawarkan roti untuk kak Arfan padaku," ucap Nada.


Radit mengarahkan pandangannya ke penjual roti yang memang sangat ramai sekali. Ia juga menatap Rafa yang terlihat tenang.


Radit kemudian menatap ke arah Nada, dia terkejut ketika mendapati wajah Nada yang tampak pucat.


Radit menggenggam tangan Nada yang masih berada di pipinya. Dia menatap Nada dengan teduh. Dia tidak tau harus bagaimana. Dilain sisi Nada sangat kelaparan. Akan tetapi hatinya masih saja enggan untuk menerima begitu saja pemberian dari orang yang di cintai istrinya itu. Nada menghela nafas panjang


"Apa kamu meragukan cintaku? Hei, jangan ngacau," ucap Nada lagi. Radit tersenyum mendengar kata-kata Nada. Ia meraih Nada dalam pelukannya. Kenapa bisa dia begitu emosi, sedangkan dia tau cinta Nada hanya untuknya.


Adegan yang membahagiakan untuk Nada dan Radit itu lagi-lagi membuat Rafa harus memalingkan wajahnya. Setidaknya mata sucinya tidak terkontaminasi.


"Apa kalian tidak mau berkenalan?" Nada melepas pelukannya pada Radit dan menatapnya penuh cinta.


Radit menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Nada dan berjalan kearah Rafa berada. Radit menatap ke arah Rafa dengan sorot mata tajamnya.


"Berikan rotinya, aku akan membayarnya," ucap Radit. Rafa mengernyitkan dahinya, menatap ke arah Radit.


"Aku tidak menjualnya. Disana pedagangnya." ucap Rafa dan membuat Radit menghela nafas berat.


"Apa maumu? aku tidak sudi memberikan gratisan makanan darimu untuk istriku." ucap Radit seolah menegaskan jika Nada adalah miliknya. ucapan Radit membuat Rafa tertawa, ia begitu yakin jika Radit begitu menyayangi Nada.


Rafa mengambil tangan Radit dan memberikan roti itu di tangan Radit. Ia tersenyum dan menepuk pelan pundak Rafit.


"Bahagiakan Nada adikku, itu adalah harga yang harus kamu bayar, kebahagiaan seorang adik lebih berharga. Aku juga tidak sudi menerima uang darimu, Tuan Marvel Raditia Dika yang teehormat," ucap Rafa kemudian berlalu pergi.


Radit mematung, ia memberikan kantong plastik kepada Nada sebelum akhirnya mengejar langkah Rafa.


"Tuan Rafa Tunggu," teriak Radit. Rafa menghentikan langkahnya. Ia berbalik arah dan mendapati Radit di depannya.


"Ada apa?" tanya Rafa. Radit menepuk pelan pundak Rafa dan mereka saling berangkulan sejenak.


"Terimakasih telah menyelamatkan istriku dari lelaki jahat tadi. Bukankah kita sekarang berteman?" tanya Radit sambil mengulurkan tangannya. Rafa tersenyum dan membalas uluran tangan Radit.


"Bahagiakan dia, jangan seperti aku yang menyakitinya," ucap Rafa.


"Tanpa kamu meminta aku sudah melakukannya, dia istriku. Dan kewajibanku memang untuk membahagiakannya."ucap Radit tegas.


Nada menghela nafas lega, setidaknya Rafa dan Radit tampak akur. Dan kini rasanya bahagia ketika melihat pemandangan yang seperti ini. Radit benar-benar manusia yang memberikan sebuah kebahagiaan yang sangat membahagiakan baginya.

__ADS_1


😊😊😊😊😊


__ADS_2