
"Tidurlah Baby," ucap Vino lagi. Micel malah bangun dari pangkuan Vino. Menatap ke arah sudut kamar yang masih membuat dirinya penasaran. Vino menghela napas panjang. Apa Micel sedang mengingat sesuatu?
Vino menatap ke arah Micel yang kini tampak mencari ingatannya. Vino juga mengingat sesuatu, yang menimbulkan pertanyaan dalam benaknya. Sejak kapan Micel pandai bela diri? Apa Marvel mengetahui? Tanyanya dalam hati. Bahkan untuk bertanya pada sosok cantik di depannya tak mungkin juga mengingat. Pada Akhirnya Vino memilih untuk turun dari ranjang.
"Tunggulah, jika tidak mau tidur juga. Aku akan mengambil makanan untukmu," ucap Vino. Micel menatap ke arah Vino, sepertinya dia masih saja heran dengan sifat Vino yang sering berubah ubah.
Vino melangkah ke luar dan berjalan ke dapur. Diambilnya buah di dalam lemari es. Vino mengupas buah itu dan memotongnya. Entah, dorongan dari mana dia seperhatian ini pada Micel.
Di waktu yang bersamaan, Radit juga menuju ke dapur. Nada menginginkan teh hangat dan harus Radit yang membuatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Radit menyapa, membuat Vino menoleh ke arah Kakak ipar sekaligus sahabatnya itu.
Vino tersenyum dan menatap ke arah Radit yang kini tengah menyalahkan kompor.
"Kau sendiri mau ngapain?" tanya Vino balik.
"Nada menginginkan teh, sebagai suami siaga aku harus menurutinya," jawab Radit dan diangguki oleh Vino.
"Suami siaga dan calon ayah yang baik tentunya," ucap Vino.
"Benar sekali, lalu apa yang kau lakukan?" tanya Radit.
"Aku hanya ingin memberi Micel buah," ucap Vino. Radit tersenyum dan menatap ke arah Vino.
"Bahagiakan adikku, jaga dia baik baik," ucap Radit. Vino tersenyum, ingin dia menanyakan tentang Micel pada Radit. Akan tetapi Vino kembali mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Marvel," panggil Vino. Radit menoleh, dan menatap ke arah adik iparnya.
"Hem," jawabnya.
"Aku naik dulu," ucap Vino kemudian. Radit mengerutkan keningnya, dia yakin bukan itu yang tadinya mau diucapkan oleh adik iparnya. Radit hanya bisa menatap punggung Vino yang berjalan ke atas sana.
Ceklek
Suara pintu terbuka, Vino berdiri tepat di depan pintu. Wajahnya tampak sumringah, akan tetapi tak dilihatnya Micel di ranjang. Vino terkejut, segera Vino meletakkan nampan di atas meja dan keluar ke arah balkon kamar.
Vino bernapas lega saat mengetahui Micel ada di sana. Vino mendekati istrinyanya yang kini menatap ke arah kemerlip bintang di atas sana.
"Kamu kenapa?" tanya Vino. Micel masih dengan posisi yang sama dan menatap ke sana. Hati dan otaknya bergejolak. tetapi dia tak mampu mengingat apapun.
"Tidak papa," jawabnya santai.
"Aku pikir kakak tidak menghawatirkan aku. Tapi ternyata Kakak sangat perhatian padaku, terimakasih Kak," ucap Micel yang ssedari tadi menatap ke arah bintang itu.
Vino berdiri di samping Micel dan juga menatap langit yang sama. Sepertinya Micel tidak layak di perlakuan dengan kasar. Bagaimanapun, Micel adalah istrinya.
"Maafkan aku," ucap Vino.
Micel menatap ke arah Vino, menyandarkan tubuhnya di tiang.
"Minta maaf untuk?" tanya Micel.
__ADS_1
Vino memejamkan matanya, sedangkan Micel harap cemas menunggu jawaban Vino. Micel menatap wajah Vino yang masih memandang ke arahnya.
"Maaf karna aku kasar padamu," lirihnya.
"Apa Kak? Aku tidak dengar," tanya Micel sambil mendekatkan telinganya di dekat mulut Vino, membuat Hidung Vino mencium wangi rambut Micel yang membuat dirinya menghirup dalam dalam. Vino masih terdiam, Micel yang sebenarnya sudah dengar itu hanya memastikan pendengarannya.
"Maaf karna aku sering kasar padamu," ucap Micel.
Micel tersenyum singkat dan memejamkan matanya. Air mata jatuh tanpa diminta, mendengar ucapan Vino membuat dirinya sangat bahagia. Micel tersenyum sambil mengusap sedikit tetesan air mata yang jatuh di pelupuk matanya.
"Apa aku tak salah dengar Kak?" tanya Micel. Vino maju beberapa langkah, mengusap pipi Micel dan menghapus air mata wanita cantik itu.
"Apa telingamu bermasalah?" tanya Vino. Micel sedikit terkekeh dan mendorong tubuh Vino. Akan tetapi Vino malah meraih pinggang Micel dan menatap wanita cantik itu dengan tenang.
"Aku minta maaf Baby, maafkan aku yang kasar padamu. Aku harap kita bisa menjalin hubungan baik, meskipun belum saling mencintai," ucap Vino. Micel membolakan matanya dan menatap lelaki 29 tahun itu.
"Hem, kita berteman." ucap Micel sambil mengarahkan jari kelingking pada Vino. Vino menatap ke arah Miceo lagi.
"Kau pikir aku anak kecil?" kenapa seperti ini?" sanggah Vino. Micel tersenyum dan mengangkat tangan Vino, mengambil jari kelingking Vino dan menyatukan pada kelingkingnya.
"Kita sahabatan sejak saat ini, katakan iya jika kakak setuju," ucap Micel. Vino terkekeh, apa harus begini menghadapi gadis dua puluh tahun ini? Vino menautkan jari kelingking pada Micel. Mereka saling menatap bahagia.
"Sahabat," ucap Vino. Micel tersenyum dan reflek berhamburan ke pelukannya Vino. Vino merasakan detak jantung tak beraturan. Micel yang menyadari itu segera beranjak dari pelukannya Vino.
"Maaf Aku reflek Kak," ucap Micel.
__ADS_1
"Semalaman memelukku pun aku tak menolak," ucap Vino sambil tersenyum. Micel memutar tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di dada. Merasakan degupan jantung yang tak beraturan. Micel tersenyum dan menatap Vino kembali.
😃