
Seusai shalat subuh dan membersihkan diri. Nada membantu Radit memasangkan dasinya. Radit menatap wajah cantik Nada yang sudah membaik dari pada satu jam yang lalu.
"Apa sudah baikan?" tanya Radit. Nada mengangguk pelan.
"Aku nanti mau ke butik juga," ucap Nada.
"Tidak bisakah kau diam dirumah? Bukankah kau baru saja membaik?" tanya Radit sedikit menekan suaranya.
"Aku ada janji," ucap Nada.
"Dengan siapa? Vino?" tanya Radit. Nada mengangguk pelan.
"Bisakah kau menjaga jarak dengannya?" tanya Radit yang menimbulkan seluas senyum di wajah Nada.
"Kamu cemburu yang?" tanya Nada. Radit menggeleng pelan.
"Aku hanya tidak mau ada kesalahan pahamkan, jangan memainkan perasaan sahabatku." ucap Radit. Nada tersenyum lagi.
"Kenapa tersenyum?" tanya Radit.
"Enggak," ucap Nada kemudian melangkah mengambil tas kerja Radit.
"Kita turun sekarang, tadi aku masak makanan yang katanya kesukaanmu. Kuharap kamu mau makan," ucap Nada.
"Hem," ucap Radit.
"Oh iya, kau boleh pergi asal bersamaku. Aku akan mengantarmu," ucap Radit pelan. Nada kembali mengulas senyum indah. Lelaki ini ternyata juga bisa baik dan perhatian.
"Jadi aku juga bersiap sekarang juga?" tanya Nada.
"Hem, atau kau memilih pergi dengan supir?" tanya Radit. Nada menggelengkan kepalanya dan menatap Radit dengan bahagia.
"Sepertinya di dekatmu lebih nyaman dibanding di dekat pak supir," jawab Nada. Radit menggeleng pelan. Istrinya benar-benar sangat pandai membuatnya dalam perasaan yang bahagia.
Kedua pasang suami istri itu menuruni anak tangga dengan beriringan. Dilihatnya keluarga besar sudah berkumpul di meja makan dengan tenang.
"Pagi, nek, kek, Micel dan mama," ucap Nada sambil tersenyum.
"Pagi, Nada, Marvel," sahut neneknya.
"Kau tampak rapi, apa mau keluar?" tanya nenek pada Nada.
"Saya mau bekerja, Nek," sahut Nada.
__ADS_1
"Bekerja?" tanya nenek lagi dan diangguki oleh Nada.
"Apa kau yakin sudah membaik?" tanya nenek. nada tersenyum dan mengangguk.
"Marvel, kau harus mengantar dan menjemput istrimu," ucap kakek dan diangguki oleh Radit. Mira tampak menghela napas kesal. Bagaimana bisa wanita itu mendapat sambutan hangat seperti ini di keluarganya?
"Atau enggak sama aku aja kak, kitakan searah," Micel menyela. Radit tampak menatap adiknya dengan sorot mata tajam.
"Kenapa kak?" Micel menatap Radit dengan sorot mata tak kalah tajam.
"Kau diamlah, jangan ikut campur!" ketus Radit. Micel memejamkan matanya, Nada mengamati interaksi dua orang kakak beradik itu. Dipastikan memang ada masalah diantara mereka.
"Ya sudah, begini saja. nanti aku berangkat sama kak Marvel. Pulangnya sama kamu,Okey," ucap Nada.
"Okey, nanti aku jemput kakak, kalau begitu aku berangkat dulu. Nek, kek, Ma, Kakak ipar, dan kau kak," Micel mengulur tangannya pada Radit. Radit tak membalasnya.
"Yang, bersalaman menggugurkan dosa, dosamu bukankah banyak juga?" tanya Nada. Mau tak mau Radit mengulurkan tangannya membalas uluran tangan Micel. Micel tersenyum dan menatap ke arah Nada.
"Sepertinya kau salah satu orang yang mampu mengendalikan kakakku kak, aku harap Kak Nada bahagia," ucap Micel sambil melirik ke arah Radit.
Mira berdiri dan menatap Radit, Nada dan nenek yang masih berada di meja.
"Aku pamit dulu," ucapnya kemudian melangkah pergi.
Radit dan Nada sama-sama bersiap, Nada memandang tiga rantang makanan yang sudah tertata rapi.
"Kenapa?"
"Aku menyiapkan tiga rantang makanan, aku akan membawa satu. Kamu mau membawa yang lainnya?" tanya Nada.
"Aku bawa, semua?"
"Hem,"
"Okey, nanti yang satu kamu kasih Dani aja," ucap Nada," mendengar Nada yang menyebut nama Dani membuat dirinya tak suka.
"Kenapa?" tanya Nada lagi.
"Ada hubungan apa kau sama Dani?" tanya Radit. Nada mengernyitkan dahinya.
"Bukankah Dani asistenmu?" ucap Nada dengan tenang.
"Maka dari itu, kenapa kau repot-repot membawakan makanan untuknya?" sewot Radit. Nada menghela napas panjang, benar -benar tidak jelas suaminya itu.
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍
Disebuah Mansion mewah keluarga Sinatria. Mansion ber chat putih dengan arsitek yang bagus kini telah duduk seorang wanita cantik, kakak dan papa tercintanya.
Mereka adalah Zifana, Tuan Sinatria dan Gino sinatria.
"Kenapa kau masih manyun saja, Nona Zifana Sinatria? Tak bisakah kau bermanis ria seperti sedia kala? Kakak akan memberikan apa yang kau mau," ucap Gino pada adik tercintanya.
"Kak, aku bersedih. Kau mau aku tertawa diatas kesedihanku?" ucapnya sambil mengaduk makanan dalam piringnya. Zifana meletakan sendoknya dan menatap ke arah kakak dan papanya.
Semenjak dari kantor MRD group kemarin Zifana terlihat murung dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Zifana, tenanglah. Mira bilang padaku jika Marvel hanya nikah kontrak dengannya. Kau tau, semalam Marvel menguncikan wanita itu di dalam kamarnya hingga pagi tadi. Wanita itu hampir mati karna kelaparan," ucap Tuan Sinatria dengan tenang.
Yang benar saja, ucapan Tuan sinatria bagaikan energi yang membuat Zifana tersenyum dan memandang ke arah papanya.
"Apa benar begitu?" tanya Tuan Sinatria.
"Ya, lagi pula kata Mira wanita itu bukan apa-apa, dia juga bukan siapa-siapa. Dia hanya Karyawan di salah satu butik terkenal," ucap Tuan Sinatria.
Zifana tersenyum lebar, hanya karyawan? Berarti aku bisa menyingkirkannya dengan tenang. Pikir Zifana.
"Aku sampai penasaran, seperti apa dia? Kenapa bisa membuatmu seperti ini," ucap Gino. Zifana menerawang jauh, dia mencoba mengingat wajah seorang Marvel Raditia Dika yang tampan sekali baginya.
"Yang jelas dia sangat tampan, sekarang sepertinya aku akan menerima tawaranmu untuk membelikan aku sesuatu. Apa kau benar-benar punya uang Kakakku tercinta?" tanya Zifana.
Gino tersenyum tipis dan memandang wanita cantik yang berprovesi sebagai desainer itu.
"Kau tenang saja, aku baru saja mendapatkan sejumlah uang. Aku rasa kau bisa puas menggunakannya," ucap Gino.
"Dari siapa?" selidik Zifana.
"Entahlah, aku medapatkan dari seorang lelaki yang mencoba menjadi seorang pahlawan di bar beberapa hari yang lalu," ucap Gino. Pikirannya melayang jauh. Memorinya merekam dua wajah yang cantik dan tampan.
Saat kesadarannya normal seperti ini, rasanya menyesal melepaskan wanita itu dengan harga yang diberikan. Seharusnya dia memakai wanita cantik itu dulu dan baru menjualnya. Dipastikan wanita itu masih gadis murni.
"Kau menawan seseorang?" tanya Zifana dan diangguki oleh Gino. Enggan untuk membahas hal yang tidak penting, Zifana menatap ke arah papa dan kakaknya sambil tersenyum.
"Okey, kita shoping sore nanti kak. Pagi ini aku akan datang ke Pradikta group. Aku akan mengikuti ajang fashion mode yang diadakan oleh Emyli Pradikta. Menurut kabar yang aku dapat, fashion mode ini adalah sebuah ajang yang sangat luar biasa. Aku tidak bisa menyiakannya," ucap Zifana sambil meraih tas tangannya kemudia berdiri, memberikan ciuman pada kakak dan papanya kemudian melenggang pergi.
😍😍😍😍😍
Eng ing eng.. puas nggak kemarin aku banyakin up nya? Nah sekarang aku mau mal*k. 🤣🤣🤣🤣.Like komen vote hadiah yokkk dibanyakin. Aku doble, triple lagi dah nanti 😍😍😍☺ wkwkwkw ...
__ADS_1
Senin berkah